A – 7 Days To Exhibit – 1

Namaku Anneke dan inilah kisahku.

Paman jauhku dari Madiun baru saja menghubungi suamiku Mas Adit, untuk meminta tolong menitipkan putrinya yang bernama Anneke. Menurutnya Anneke baru dapat panggilan dari perusahaan asing tempat Anneke melamar kerja, dan Anneke memerlukan waktu paling lama seminggu untuk keperluan wawancara dan mengurus berbagai prosedur administrasi guna melengkapi curriculum vitae yang telah lebih dulu dikirimkannya. Mas Adit memberitahuku dan sekalian meminta pendapatku. Untuk hal-hal seperti ini, kami memang selalu merundingkannya bersama sebelum mengambil keputusan. Dan tentu saja aku sama sekali tidak berkeberatan karena memang sudah menjadi kewajiban kami untuk saling menolong antara sesama sanak keluarga. Kisahku yang berikut menceritakan pengalamanku bersama Anneke dalam waktu seminggu tersebut.

Hari Pertama

Pada suatu pagi, sekitar pukul 5.30, terdengar ketokan di pintu. Seorang gadis berpenampilan sederhana datang dari Madiun, Anneke yang berpostur langsing, bercelana jeans dengan blus kembang-kembang, sedang berdiri cantik di depan pintu sambil menebar senyum manisnya. Dia datang dengan taksi dari stasiun Gambir. Kereta malamnya masuk Jakarta sekitar pukul 4.30 pagi ini. Kuperkirakan perjalanannya cukup melelahkan. Setelah minum teh panas dan sarapan, dia saya sarankan agar beristirahat dulu. Kami sudah menyediakan kamar tamu kami sebagai kamar Anneke selama dia di Jakarta.

Hari pertama sejak kedatangannya, Anneke belum pergi ke-mana-mana. Dia hanya menelepon kesana kemari berkaitan dengan urusan yang akan dihadapinya selama di Jakarta. Anneke yang berpenampilan sebagai gadis cerdas dan lincah ini adalah lulusan Fakultas Ekonomi UNBRA Malang. Umurnya baru 23 tahun. Sosoknya atletis, tingginya 178 cm dan bobotnya 56 kg. Di kotanya, Anneke dikenal sebagai mayoret marching band yang sering mewakili kotanya melakukan kompetisi antar propinsi. Dia juga terpilih sebagai anggota PASKIBRAKA (pasukan pengibar bendera pusaka) Jawa Tengah saat masih SMA karena kecerdasannya disamping juga didukung posturnya yang atletis itu. Wajah dan kulitnya yang hitam manis mengingatkanku pada model-model hispanic, campuran bule dan lokal Amerika Selatan. Aku sendiri tidak tahu, wajah itu sebenarnya lebih mirip bapak atau ibunya yang sama-sama asli Jawa itu. Mungkin karakter seperti itu berasal dari pola makan anak-anak jaman sekarang yang suka dengan “junk food’ dari Barat. Rambutnya panjang dan masih suka dikepang. Kesana-kemari dia lebih banyak memakai celana jeans karena menurutnya lebih praktis. Dan dia memang sangat sesuai jika memakai jeans. Pantatnya yang seksi dengan pahanya yang besar dan kuat membuat Anneke tampak sangat sensual hingga siapapun yang memandangnya pasti akan mengagumi sosok penampilannya. Atletis dan kecerdasannya merupakan kesan awal bagi siapapun yang menjumpainya. Dengan dadanya yang bidang dan tegap, dia memang pantas untuk menjadi seorang mayoret dan anggota PASKIBRAKA hingga tak berlebihan kiranya jika kukatakan bahwa Anneke ini adalah anak gadis yang baru datang dari daerah tetapi memiliki gaya dan kepribadian trendy yang mempesona. Pembawaannya pun tidak canggung. Dia selalu berusaha membantuku mengurus rumah, walaupun aku telah melarangnya. Dia sangat pandai membawa diri hingga aku merasa senang dan terbantu dengan kedatangannya.

Hari Kedua

Anneke telah bangun pada dini hari dan menyempatkan diri untuk lari pagi mengelilingi kompleks rumahku yang cukup luas. Kemudian dia menyiapkan sarapan untuk kami semua. Aku dan Mas Adit sangat senang dan menghargai usahanya itu. Kurasa dia dapat menjadi teman yang sangat menyenangkan di rumah.

Hari ini dia akan pergi ke perusahaan dimana ia melamar kerja. Walaupun sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk dapat mengenali route-route kendaraan umum yang akan dilaluinya, tetapi pada hari pertamanya, Mas Adit akan mengantarkannya hingga ke alamat yang dituju.

Pada sore harinya dia pulang sendiri kira-kira pada pukul 3 hingga masih belum terperangkap dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Kusambut dia dengan mengatakan bahwa walaupun baru sehari dia tinggal bersama keluarga kami, tetapi saat dia ke pergi tadi terasa rumah menjadi sepi. Anneke tersenyum dan berterima kasih karena keluarga kami bersedia menerimanya dengan tangan terbuka. Dia menceritakan pengalaman barunya tadi siang di kantornya.

Kemudian sekitar pukul 4 sore, sesuai dengan kebiasaanku, setelah aku membereskan seluruh pekerjaan rumah tangga aku mandi. Tiba-tiba selintas aku melihat kelebat bayangan di celah pintu kamar mandi yang retak kecil sepanjang sambungan papannya. Rasanya ada yang mengintipku. Tapi siapa? Bukankah di rumah hanya ada Anneke. Diakah? Ah, mungkin hanya kebetulan. Aku kembali meneruskan kegiatan mandiku. Kubersihkan seluruh tubuhku. Kugosok bagian-bagian tubuhku. Aku gosok dan remas buah dadaku untuk menghilangkan kotoran dan keringatku. Aku juga membersihkan ketiakku. Tiba-tiba aku melihat bayangan yang berkelebat kembali. Kupikir, ini pasti Anneke. Tetapi hendak apa dia? Apakah dia sedemikian ngebetnya ingin buang air hingga menantiku dengan tidak sabarnya? Aku segera menyelesaikan mandiku, agar Anneke dapat segera menggunakan kamar mandi yang sedang kugunakan. Kemudian aku bergegas keluar ke kamarku untuk ganti baju. Kulihat Anneke sedang duduk membaca dokumen-dokumen untuk keperluan wawancara besok pagi. Aku tidak lama berganti baju. Saat aku keluar, ternyata Anneke masih sibuk dengan dokumen-dokumennya. Jadi sebenarnya dia tidak ingin ke kamar mandi. Kupikir, mungkin aku salah sangka mmengenai kejadian tadi hingga akhirnya kulupakan saja.

Hari Ketiga

Seperti halnya kemarin, pada pukul 3 sore Anneke sudah kembali ke rumah. Dia membawa oleh-oleh buah-buahan kesukaanku. Kukatakan padanya agar tidak perlu merepotkan diri dan dia harus menghemat uangnya karena di Jakarta segalanya mahal. Dia hanya tersenyum. Kemudian dia membantuku membersihkan dapur, yang walaupun sudah sering dengan basa-basi kularang, tetapi tetap dikerjakannya terus. Kemudian dia kembali menghadapi dokumen-dokumen kantornya.

Pada pukul 4 sore aku kembali mandi sesuai dengan rutinitasku. Sebenarnya aku sudah melupakan peristiwa kemarin hingga kelebatan sosok orang yang mengintip di pintu itu kembali kulihat. Aku jadi berpikiran erotis. Apakah Anneke senang melihatku mandi? Aku lantas membayangkan seseorang yang senang mengintip orang lain mandi. Orang-orang seperti itu akan terangsang birahinya saat mengintip orang mandi. Bahkan tidak jarang yang sambil melakukan masturbasi sambil melakukan kegiatan mengintipnya.

Aku mengelus kudukku. Ada semacam perasaan birahi yang menyelinap. Aku menjadi terangsang. Aku ingin menggoda Anneke. Aku akan memamerkan lekuk-lekuk tubuh indahku kepadanya. Aku akan sengaja berlama-lama mandi. Aku merasakan semacam nikmat birahi saat orang lain menonton tubuh telanjangku. Apakah ini yang sering disebut sebagai ‘exhibitionist’?

Kini yang kuperhatikan adalah celah pintu kamar mandi di bagian bawah. Dari situ akan nampak bayangan yang lebih jelas seandainya ada orang berdiri di depan pintu. Dan jika belum berpengalaman, maka orang tersebut tidak akan merasa bahwa kehadirannya di pintu itu akan diketahui oleh orang yang berada di dalam kamar mandi. Aku menyibukkan diri dengan menggosok badan dari kotoran sehari-hari yang melekat di seluruh bagian tubuhku. Sesekali aku melirik ke pintu bagian bawah.

Pelan-pelan, dengan penuh perasaan aku membersihkan leherku dengan tangan. Kubersihkan kudukku dengan menyabuninya. Kubayangkan betapa ketiakku begitu terpampang lebar untuk dinikmati oleh mata Anneke. Kemudian dengan perlahan, kucuci kedua ketiakku itu, menyabuni dan menggosoknya. Aku bergaya seakan hidungku berusaha mengendusnya untuk mencek bahwa ketiakku sudah wangi. Dan akhirnya benar. Kulihat kini bayangan kaki itu kembali. Aku tahu persis, itu memang kaki Anneke. Dengan tanpa sengaja, berarti aku sudah mengamati kedua kakinya yang lincah itu selama 2 hari di rumahku. Kaki itu diam saja dan tenang. Pikirku, saat ini pasti mata Anneke sedang terpaku menatap ketiakku. Diam-diam perasaanku mulai merinding karena birahiku yang telah lebih menyeruak ke dalam perasaanku.

Tanganku beralih ke buah dadaku. Kuambil sabun dan kugosokkan ke buah dadaku, yang tentunya akan sangat menarik pandangan Anneke. Busa sabun tersebut menutup sebagian buah dadaku. Biasanya hal ini akan membuat penasaran bagi siapapun. Sengaja kubiarkan kubiarkan hal ini, kemudian jari-jariku mulai mempermainkan puting susuku. Aku pilin-pilin hingga wajahku sedikit menyeringai. Berikutnya, kugosokkan sabun ke perut, kemudian juga ke pinggang dan pinggul. Aku berputar ke kanan dan ke kiri agar Anneke bisa menikmati keseluruhan tubuhku. Mataku kembali melirik pintu bawah kamar mandi dimana kaki Anneke masih nampak tidak bergeser dari tempatnya semula.

Seusai menyabuni buah dada, perut dan pinggang serta pinggulku, aku menyendok air untuk kusiramkan ke tubuhku. Sekali lagi kuputar tubuhku. Aku tahu, air yang menyiram dan mengaliri tubuhku akan membuatnya nampak bening dan mulus karena pantulan cahaya yang menerpa lekuk-likunya. Aku kembali berputar sambil sesekali membuat gerakan membungkuk. Dengan cara itu, Anneke akan dapat melihat betapa buah dadaku yang ranum ini menggembung dari dadaku. Dan dari sudut yang lain dia juga akan dapat menikmati pantatku yang menonjol ke belakang.

Kembali kuintip kaki di balik pintu itu. Kubayangkan betapa “panas dingin” perasaan dan “dag dig dug” jantung Anneke. Kemudian kaki kiriku kuangkat agar bertumpu pada bibir bak mandi. Posisi ini membuatku membelakangi pintu. Kubayangkan betapa Anneke akan dapat menikmati mulus dan indahnya bokongku. Bahkan saat kusengaja untuk sedikit lebih menungging lagi, analku yang bersih kemerahan itu akan langsung terpampang dengan leluasa ke arah pintu. Selintas aku merasa kasihan pada Anneke, karena membayangkan betapa birahinya akan sedemikian tersiksa melihat bokong dan analku di depan hidungnya. Tentu saja, tidak lupa aku juga mencuci bokong dan analku. Pertama, kugosok semua bagian dengan sabun hingga berbusa. Kemudian tangan atau jariku mengosok-gosok atau mengelus setiap bagian itu agar benar-benar bersih. Bahkan saat jari tanganku sampai ke anal, dengan lembut aku juga menusuk-nusukkannya. Kemudian kembali aku mengguyurnya dengan gayung air bak mandi hingga kembali pantulan cahaya erotis menerpa lekuk-liku paha, betis dan jari-jari kakiku.

Lama kelamaan aku terbawa oleh imajinasiku sendiri yang semakin mendorong gejolak erotis dengan sepenuh nafsuku. Saat aku melakukan ini semua, secara perlahan aku mendesah dalam bayangan kenikmatan birahiku. Saat kuangkat kaki kananku agar bertumpu pada bibir bak mandi, selangkanganku akan nampak terbuka. Di dekat tepi celana dalamku, ada ‘tahi lalat’-ku yang cukup besar. Mulanya, kuanggap ‘tahi lalat’ ini mengganggu kecantikanku, tapi apa boleh buat. Tontonan selangkanganku yang terbuka ini pasti merupakan kesempatan yang telah ditunggu-tunggu oleh Anneke. Dia akan melihat selangkanganku lebih jelas dengan seluruh detailnya, termasuk kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Kusabuni paha dan betisku, kugosok dengan penuh perasaan. Kubayangkan, seakan aku mencuci porselain yang sangat mahal dari Mesir. Kumasukkan sabun ke jari-jari kakiku satu persatu dan kubersihkan dengan teliti. Aku ingin berlama-lama memberikan kesempatan kepada Anneke untuk menikmati pemandangan ini.

Ke bagian 2


About this entry