A – 7 Days To Exhibit – 5

Dari bagian 4

Tanpa melepas dildo dari kemaluannya, Anneke mengubah posisinya. Seperti posisi kemarin, dia merangkak dan menungging dengan pantatnya menghadap ke pintu. Dilanjutkannya mengeluarmasukkan dildo ke vaginanya. Pantatnya kini maju mundur dengan cepat mirip seperti anjing kawin. Tangannya mengocok dildo itu dengan cepat ke lubang surganya. Aku tidak tahan lagi mendengar Anneke merintih seperti itu. Kudengar dia sangat menderita. Tangannya yang mengocok dengan kencang belum juga membuatnya mencapai kepuasan. Dia kembali bergeser dan telentang ke lantai. Pantatnya diangkat hingga lututnya terlipat ke arah tubuhnya. Aku kembali melihat lubang pantatnya hingga membuat air liurku mengalir keluar. Vaginanya kini terbuka ke atas menantikan kembali tusukan dildonya. Kemudian sesudah menempatkan kepala dildo itu tepat pada bibir kemaluannya, tangannya menekan hingga sebagian dildo itu amblas menghunjam vaginanya. Kemudian Anneke memompanya kembali. Nampak bahwa dia begitu merasakan setiap tusukan dildo tersebut.

Pada setiap tusukan dan tarikan selalu disertai dengan desah nikmatnya sampai dengan akhirnya dia mempercepat frekuensinya. Dan tak ayal lagi, kini Anneke nampak mulai menapaki titik orgasmenya. Dia percepat tusukan dan tarikan dildonya. Tanpa sadar tanganku ikut memeras buah dadaku. Aku juga mengerang tertahan, sambil menggigit bibir karena menahan nikmat nafsu yang datang melanda. Akhirnya kulihat Anneke menggelepar di lantai kamar mandi. Semua bagian tubuhnya menggelinjang liar tak karuan menyertai vaginanya yang memuncratkan cairan birahi. Aku menahan nafasku. Aku beranjak ke depan untuk duduk di ruang tamu menyandarkan tubuhku di sofa karena dengan melihat ulah Anneke yang sedemikian liar dan kehausan, aku jadi ikut lelah.

Hari ke-5

Hari ini Anneke pergi ke kantornya untuk mengambil Surat Keputusan Direksi (SKD) mengenai penerimaannya sebagai karyawan serta penetapan tanggal masuk kantornya di sebuah perusahaan PMA yang bergerak dalam bidang minyak dan gas bumi. Pagi dini hari Anneke sudah buru-buru mandi. Rencananya dia akan menumpang mobil Mas Adit ke kantor barunya itu. Tetapi saat dia menelepon koleganya, dia diberitahu bahwa dia dan teman-temannya baru akan diterima direksi pada pukul 2 siang nanti. Jadi dia memutuskan akan berangkat sekitar pukul 12 agar tidak terlalu lama menunggu di kantor hingga rencananya menumpang Mas Adit pun dibatalkan. Setelah menemani Mas Adit makan pagi hingga berangkat ke kantor, Anneke sibuk dengan urusan persiapan kantor barunya sementara aku pergi mandi.

Terus terang hatiku senang saat Anneke tidak jadi berangkat pagi. Dan kemudian berharap dia akan mengintipku saat aku mandi pada pagi ini. Aku sudah mempersiapkan kejutan baru untuknya. Tetapi sebaliknya ternyata justru aku yang tertimpa kejutan. Begitu aku masuk ke kamar mandi, aku mendapatkan apa yang diam-diam selama ini telah kudambakan selama 3 hari terakhir ini. Aku mendapatkan celana dalam dan BH Anneke yang tertinggal dan tergantung di dekat pintu. Hal ini terjadi mungkin karena mandi pagi Anneke yang terburu-buru tadi. Wajahku tersirap. Aku menggigil karena birahi yang langsung menamparku. Aku terpana. Segala skenarioku tidak kuperlukan lagi. Di kamar mandi ini aku menemukan opsi lain yang jauh lebih menggetarkan.

Mendekati celana dalam Anneke, aku langsung limbung. Membayangkan bahwa hidungku akan menikmati aromanya. Dengan memandang BH kotor Anneke, mataku jadi nanar. Aku akan memuaskan birahi dengan menjilati dan menciumi aroma keringatnya. Berat rasanya menahan diri untuk tidak menyentuh sebelum saatnya. Tetapi kudekatkan juga wajahku, kuamati celana dalam juga BH-nya yang tidak baru itu. Nampak warna pekat kekuningan pada celah sempitnya. Kudekatkan hidungku untuk mengendusnya. Kulirik kaki Anneke yang ternyata sudah bersiap mengintipku lagi dari balik pintu. Kini saatnya “live show” dimulai. Pemain dan penonton tunggal sudah siap berada di tempatnya masing-masing. Birahi “exhibitionist”-ku telah mengantarkanku ke arena pertunjukan.

Intronya adalah aku akan buang air dulu sebelum mandi. Ini tak bisa kuhindari karena sebelumnya memang dengan sengaja aku menahannya sejak bangun pagi tadi untuk maksud ini. Aku yakin Anneke akan menyaksikan adegan ini dengan resah dan gelisah. Sayangnya, tak ada cara untuk mendekatkan hidungnya agar dapat menangkap aroma beban pagiku ini. Untuk mengisi waktu selama aku buang air, aku bergaya seolah sedang membersihkan kotoran dari tubuhku. Aku menggosok dan mengelus leherku, kemudian turun ke buah dadaku. Kukeluarkan payudaraku dari BH dan kupilin putingnya, kemudian kugosok dan kuelus ketiakku. Di sela-sela itu, wajahku terkadang menyeringai sambil menggigit bibir, entah menggambarkan apa, yang penting aku berusaha menunjukkan ekspresi erotis agar dapat dinikmati dan dapat merangsang birahi Anneke.

Aku memikirkan cara yang atraktif dan efektif saat cebok. Pertama, saat tangan kiriku meraih dan menghapus kotoran dari analku, terlebih dahulu kuangkat dan kuamati serpihan yang masih menempel di jari-jari, kuendus sekilas sebelum kembali ke anal sambil tangan kananku menyiram dengan air ke tempat itu. Kemudian saat aku mencuci vagina, aku berusaha mengekspose penampilannya dengan cara yang tak kentara memposisikan diriku agar caraku menceboki vaginaku menjadi nyata dan jelas saat diintip dari celah pintu. Sebelum memasuki episode berikutnya, kutarik handle pelepasan air hingga klosetku bersih kembali. Kuperhitungkan bahwa tindakanku ini akan membuat Anneke merasa sangat kecewa.

Selanjutnya kubuka pakaianku kecuali celana dalam dan BH. Dan inilah kejutan yang telah kupersiapkan untuk Anneke. Tanganku meraih BH kotornya dari gantungan baju. Kurentangkan, kucium dan kemudian kujilati serta kulumat-lumat hingga kuyup oleh ludahku. Mulutku berusaha menyedot basah ludah di kain BH itu hingga setelah puas, kukalungkan ke leherku. Kini tanganku meraih celana dalamnya. Sebagaimana sebelumnya, kembali kucium dan kemudian kurentangkan. Nampak warna pekat kekuningan di bagian sempitnya yang biasa terjepit di bibir vagina dan belahan pantat Anneke. Aku tidak sabar lagi hingga kembali kuciumi bagian itu dan kulumat hingga kuyup.

Rasanya aku tidak puas-puas juga. Sambil terus menyedot bagian kuyup itu, tangan kiriku mengocok kemaluanku. Kumasukkan jari ke lubang vaginaku. Kukorek-korek untuk mengurangi gatal birahi yang demikian mendesak-desak nafsuku. Tiba-tiba rasa birahi yang menyeruak membuatku ingin pipis hingga sekalian saja celana dalam Anneke kupipisi juga. Sungguh sangat erotis nampaknya. Dan kembali kucium dan sedikit kuhisap basah air seniku di celana dalam itu sebelum akhirnya kugantungkan kembali bersama dengan BH-nya ke dekat pintu.

Aku melirik ke bawah pintu. Kaki Anneke masih tetap di sana. Kurasa sudah lebih dari 15 menit aku mendekam di kamar mandi sejak intro buang air tadi. Walaupun aku sangat “horny”, tetapi aku belum menuntaskan libidoku hingga mencapai orgasme karena lelah. Kusimpan energiku untuk lain kesempatan. Kini aku benar-benar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhku. Aku merasakan sedemikian segarnya mandi pagi ini. Aku menikmati bayanganku tentang bagaimana Anneke menjadi panas dingin saat mengintip kegiatan mandiku pagi ini. Kurasa dia akan mengambil celana dalamnya yang telah basah oleh kencingku tadi. Mungkin saja dia akan mengambilnya untuk dibawa ke kamarnya dan kemudian menjilati atau menyedot air seniku yang terserap di celana dalamnya.

Setelah mandi kulihat Anneke telah berada di ruang keluarga dengan setumpuk berkas-berkas untuk persiapannya ke kantor siang ini. Saat aku sedang berpakaian, kudengar derit pintu kamar mandi. Aku juga mendengar tutup kloset yang dibuka seakan dia sedang buang air. Tidak lebih dari 2 menit, pintu berderit kembali. Aku yakin bahwa Anneke sangat kecewa saat mengamati kemungkinan akan adanya sisa kotoran dan air seniku yang dipikirnya masih tertinggal di kloset, ternyata sudah raib tertelan bumi hingga ia hanya dapat mengambil celana dalam dan BH-nya yang tertinggal. Dia tahu kini bahwa aku dan dirinya saling terobsesi birahi untuk saling mencium dan menjilat apapun yang keluar dari tubuh-tubuh kami. Dia seharusnya tidak merasa perlu lagi untuk merasa sungkan ataupun malu padaku untuk langsung masuk ke kamarku. Kurasa telah cukup waktu bagi Anneke untuk bermasturbasi dengan dildo yang kutinggalkan sebelum dia keluar pada pukul 11.40 dengan pakaian rapinya dan bersiap-siap berangkat ke kantornya.

Hari ini pada pukul 4 sore dia telah kembali. Dari SK Direksi telah ditetapkan bahwa Anneke akan mulai masuk kantor pada awal bulan depan. Dia berkata bahwa kalau Mas Adit dan aku mengijinkan, maka untuk sementara Anneke akan ikut kami dulu selama beberapa waktu sebelum mendapat tempat kost yang dekat dengan kantornya. Aku dan Anneke saling memandang hingga terasa ada sesuatu yang menyesakkan dada kami. Kami melayang dengan pikiran kami masing-masing. Tetapi entah, aku tidak mampu berbuat lebih. Kehendak hati kecilku yang diwarnai gejolak birahi beberapa hari terakhir ini tidak mampu kuungkapkan dan kuwujudkan menjadi kenyataan. Demikian pula dengan Anneke. Kegembiraannya berkaitan dengan kepastian bahwa dirinya telah diterima bekerja di perusahaan asing tetap tidak bisa menutupi rasa kecewa pada angan-angannya untuk meraih kenikmatan birahi bersamaku yang sama sekali belum terungkapkan sebagaimana yang terjadi juga padaku. Dia khawatir bahwa dirinya telah bertepuk sebelah tangan karena selama ini dia belum mengetahui bahwa sebenarnya aku juga mengintipnya saat dia mandi. Belum nampak adanya solusi yang tepat untuk meraih obsesi bersama kami ini.

Hari ke-6

Anneke memintaku menemaninya membeli oleh-oleh dan pesanan orang tuanya ke Mall Mangga Dua. Setelah menyelesaikan kebutuhannya, sebelum makan kami sedikit melakukan “window shopping”. Kami makan di restoran siap saji yang banyak berserak di mall itu. Ini adalah hari terakhir Anneke di Jakarta setelah sukses menyelesaikan urusan pekerjaan di kantor barunya. Saat pulang kami pergi ke stasiun Gambir untuk mengambil tiket KA Eksekutif yang telah Anneke pesan beberapa hari sebelumnya. Kuperhatikan Anneke banyak berdiam diri. Aku tidak ingin mengganggunya. Nampak ada beban yang masih mengganjal dalam dirinya. Dan dapat kupastikan itu adalah beban birahinya yang belum terselesaikan dengan tuntas. Seharian aku berjalan bersamanya dan kuperhatikan berkali-kali dalam berbagai kesempatan, dia mencuri pandang padaku. Dia perhatikan leher, dada, belakang kuduk, ketiak, pinggul, pantat, paha, betis, pokoknya semua bagian tubuhku tak ada yang luput dari perhatiannya. Terkadang terdengar hingga ke telingaku saat dia menarik nafas menahan gejolaknya. Aku merasa kasihan padanya karena Anneke terlampau obssesive menghadapiku kali ini. Mungkin dia sudah cukup lama mendambakanku seperti ini. Di tengah keluarga Mas Adit, sering kudengar mereka demikian seringnya memuji kecantikanku. Aku sering menjadi sungkan dan malu sendiri, disamping terselip juga rasa berbunga-bunga tentunya. Bukan tidak mungkin, hal ini juga didengar oleh Anneke hingga kemudian dia salurkan dorongan obsesinya saat berkesempatan ke Jakarta dan tinggal di rumahku.

Ke bagian 6


About this entry