A – 7 Days To Exhibit – 6

Dari bagian 5

Sementara, walau bagaimanapun juga aku tetap harus berusaha untuk menjaga jarak. Aku tidak ingin dianggap mengajarkan sesuatu yang tidak baik di tengah keluarga Mas Adit karena tentu mereka akan sulit menerima kenyataan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang sudah sedemikian ketatnya terkondisikan oleh pandangan-pandangan moral mapan yang tak begitu saja bisa diubah. Anneke merupakan generasi muda dengan perkecualian yang sangat minoritas. Dia sudah dapat lebih melihat dunia nyata yang demikian luas. Dia sering menjelajahi jaringan dunia tanpa hambatan yang kita sebut sebagai Internet. Dia juga sudah menyadari akan pentingnya sikap dan karakter pilihannya sendiri. Dia sudah sadar mengenai pentingnya seseorang bersikap dan berlaku sebagai “myself” , untuk dapat menunjukkan keberadaannya di lingkungannya. Dia adalah cermin generasi masa kini dan masa datang. Dia membawa sendiri nilai-nilai dan sekaligus dia laksanakan nilai-nilai itu, walaupun seperti yang kulihat sekarang, dia juga belum sepenuhnya terbebas dari keragu-raguan. Kuanggap itu adalah hal yang wajar dan manusiawi, karena pada masa kini tidak semua orang dapat berlaku sembrono atau serampangan.

Beberapa saat setelah sampai di rumah, aku langsung mandi. Aku ingin agar dia mendapatkan kesenangan yang benar-benar memuaskan hatinya sebelum dia pulang ke Madiun besok. Aku pergi ke kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di tubuh. Kuperlihatkan sedikit pahaku dan cukup banyak memperlihatkan punggung serta bagian atas dadaku yang mulus. Aku berpura-pura mengambil sesuatu di tumpukan koran dekat Anneke yang kebetulan sedang menonton TV di ruang keluarga. Aku menanyakan apakah barang-barang yang akan dibawanya pulang besok sudah dibungkus. Kalau belum aku menawarkan padanya untuk menggunakan kantong-kantong yang masih bagus yang sering kudapatkan saat aku berbelanja dan sengaja aku kumpulkan. Mata Anneke nampak nanar memandang tubuhku sambil menyetujui tawaran baikku. Kemudian aku berjalan ke kamar mandi.

Ah, rupanya kembali kutemukan celana dalam dan BH kotornya. Jangan-jangan ini disengajanya karena dia demikian menikmati saat mengintipku dan demikian bernafsu melumati barang-barangnya kemarin sore hingga kini dia berharap agar aku mengulanginya kembali. Ini adalah celana dalam dan BH kotor lain yang ditinggalkannya saat mandi tadi pagi. Aku kembali menggigil karena nafsu birahiku.
“Jangan khawatir Anneke, aku akan mengulangi kenikmatan menciumi dan melumati celana dalam dan BH kotormu”, batinku.
Aku melirik ke bawah pintu. Kulihat kaki Anneke sudah kembali bersemayam di sana. Seperti halnya kemarin, aku mulai dengan membuka kloset dan duduk di atasnya. Tetapi kali ini bukannya untuk membuang air besar, melainkan hanya sekedar pipis. Aku pipis banyak sekali karena telah minum macam-macam di Mangga Dua tadi. Dari Coca Cola, air mineral, dawet asli Solo, es kunyit asam, es kelapa muda dan lain-lain. Pokoknya kalau merasa haus, aku biasanya langsung mencari minum. Di setiap sudut Mall Mangga Dua memang selalu ada kios kecil yang menyediakan minuman berbagai rupa.

Selesai pipis aku cebok dan kloset kututup tetapi tanpa membuka pelepasan airnya. Kubiarkan air seniku tetap di tempatnya. Wajahku demikian nanar memandang ke arah pintu dimana celana dalam dan BH Anneke masih tergantung di dekatnya. Kemudian aku meraihnya BH dan celana dalam sambil menciuminya dan mendesahkan nama Anneke. Aku menjadi benar-benar sangat menjiwai dan terangsang. Dengan terburu-buru, sambil sangat gemetar kubuka tutup air kloset. Kuambil dildo yang kuletakkan menempel di sana. Dengan tetap menjilati dan melumat celana dalam kotornya, kupompakan dildo tersebut ke vaginaku. Aku sudah tak sempat lagi mencari gaya-gaya yang atraktif karena kini aku sedang dikejar gejolak birahiku. Aku melakukan apa saja yang dapat demikian kuat mendorongku. Aku rebah ke lantai kamar mandi yang basah dan melipat kakiku ke arah tubuhku hingga pantat dan vaginaku terpampang dengan jelas. Kumasukkan dildo menembus vaginaku. Aku menjerit kecil saat dildo itu telah melewati bibir vaginaku. Kemudian aku mulai memompanya sambil mencium dan melumat celana dalam Anneke.

‘Anneke.., aahh.., nikmatnyaa Annekee..”, begitu terus menerus desahanku setengah merintih.
Terjangan dildoku semakin cepat memompa vagina. Aku mendesah dan meracau dengan memanggil-manggil nama Anneke. Ketika panas birahiku sudah demikian memuncak dan rasa ingin pipis yang sangat mendesak sebagai tanda orgasme akan datang, pantatku menyongsong gerakan dildo dengan cepat. Nafasku yang memburu dengan desahan-desahan yang menyebut nama Anneke semakin intens dan berkepanjangan. Aku nampak sangat memelas dalam kehausan birahiku. Dan akhirnya saat orgasme itu datang, aku menggelepar. Kudempetkan kepalaku ke dinding untuk menahan jejakan kepalaku ke lantai karena menahan nikmat yang muncrat bertubi-tubi. Aku mengerang tertahan cukup lama sebelum akhirnya aku kelelahan dan lunglai di lantai porselain yang basah ini. Setelah itu aku baru benar-benar mandi.

Saat aku keluar, kulihat Anneke sudah ada di depan TV kembali. Aku langsung masuk ke kamarku.
“Mbak, aku minta shampoonya ya?, rambutku rasanya berdebu banget nih”, kudengar panggilan Anneke.
“Ya, ambil saja”, jawabku dari kamar.
Aku tahu bahwa maksudnya sekarang adalah gilirannya untuk mandi dan bukannya memintaku mengintipnya, tetapi secara tersirat ia menempatkan pengertian agar aku tidak mencurigainya karena setiap aku selesai mandi kemudian dia segera menyusulnya. Kurasa ini adalah saat yang penting karena ada sesuatu yang “luar biasa” sedang menunggunya di kloset. Begitu kudengar Anneke telah menutup pintu kamar mandinya, aku bergegas dan berjingkat menuju ke depan pintunya dan mengintip.

Kulihat, dengan penuh nafsu dia mendekati kloset, berjongkok di depannya dan membuka tutupnya. Wajahnya mendekat dan terlihat matanya mengamati isi dalam kloset tersebut. Kemudian pelan-pelan matanya menutup dan dengan hidungnya dia mengendus isi kloset dengan penuh perasaan. Dia tampak sangat menikmatinya dengan menghirup bau pipisku dalam-dalam. Dia melakukan tarikan nafas panjangnya yang mendalam itu berulang-ulang. Dia seperti sedang melayang dalam kenikmatan yang sangat tinggi. Kemudian kulihat tangan kanannya bergerak ke dalam kloset itu untuk meraih air seniku. Dia amati cairan bening kekuningan di cekungan tangannya. Kembali dihirupnya dengan sangat dalam sambil menutup matanya. Itu juga dilakukannya berulang kali sebelum akhirnya membawa cairan itu untuk membekap mulut dan hidungnya dan kemudian mencuci mukanya dengan cairan pipisku. Aku gemetar menyaksikan Anneke yang merasa sedemikian nikmatnya merasakan pipisku.

Kemudian dia sendokkan lagi cairan kloset itu dengan tangannya. Kini bahkan dengan kedua tangannya. Dan diraupkannya ke mukanya kembali. Dia melakukannya berulang-ulang hingga mukanya benar-benar kuyup dengan air seniku dan tubuhnya basah oleh cipratan cairan kuning bening dari wajahnya itu. Bermenit-menit dia berjongkok di depan kloset itu dengan tangannya yang sibuk menyendoki dan sesekali mengaduk genangan pipisku di kloset itu. Dan terakhir kulihat klimaksnya saat dia kembali menyendok dengan tangannya untuk kemudian dibawa ke mulutnya. Diawali dengan lidahnya yang menjilat-jilat, Anneke meminum air kencingku dari tangannya. Entah sudah berapa banyak yang diminumnya sebelum akhirnya dia beranjak dari depan kloset untuk mandi. Itulah kejadian paling eksklusif yang kulihat dari perilaku Anneke dalam menyalurkan obsesinya padaku. Setelah itu dia benar-benar mandi dan aku kembali ke kamarku. Aku menjadi sangat ‘horny’. Vaginaku basah oleh cairan birahi, tetapi sengaja kutahan untuk menghemat energi hingga aku tidak melakukan masturbasi.

Hari ke-7
Pada pukul 6 pagi, Mas Adit, aku sendiri dan Anneke telah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Kereta Anneke akan bertolak dari Gambir apda pukul 9 pagi. Semua barang-barang bawaannya telah siap untuk dimasukkan ke mobil Mas Adit. Mas Adit akan mengantarkan Anneke sampai di stasiun Gambir. Anneke sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada kami atas penerimaannya yang ramah selama dia berada di Jakarta dan tinggal di rumah kami. Dan dia mohon agar saat mulai masuk kantor barunya pada awal bulan depan nanti dapat sekali lagi ‘merepotkan’ kami. Dia ingin kembali tinggal beberapa saat di rumah kami sebelum mendapatkan tempat kost yang tidak jauh dari kantornya.
Mas Adit melirik kepadaku meminta persetujuanku dan tentu saja aku mengedipkan mataku tanda setuju. Persetujuan kami sangat menggembirakan Anneke. Dan kini saatnya dia berpamitan padaku. Di halaman depan sebelum memasuki pintu mobil, sementara Mas Adit sudah berada di belakang kemudi mobil dan menyalakan mesinnya, Anneke memelukku.
“Terimakasih banget Mbak atas segala-galanya. Mbak sangat baik padaku. Aku akan sangat merindukan Mbak”, ujarnya sambil mencium pipiku.
“Sama-sama Anneke. Kamu yang sangat cantik juga telah membuat rumahku menjadi lebih indah, lho”, jawabku.
Dia tersenyum mendengar kata-kataku.
Sebelum dia beranjak ke mobil, sekali lagi dia memelukku, kali ini sambil berbisik, “Mbak.., tahi lalat di paha Mbak indah sekali, Mbak”.
Akhirnya berani juga dia mengemukakan apa yang dia rasakan dan pikirkan. Aku masih bengong saat dia langsung melepasku untuk berlari menuju pintu mobil. Tetapi sebelum sempat membukanya, kembali aku memanggilnya.
“Anneke, tunggu”, panggilku sambil menghampirinya.
Kini aku yang memeluknya sambil berbisik, “Pesawat Challenger di bokongmu juga indah banget, lho”.
Kontan tangan kananku terasa sakit dan pedih karena dengan penuh rasa terkejut, geregetan dan penuh gemas Anneke mencubitku sangat kerasnya.
“Ahh, Mbak Maarr.., Mbak Mar jahat banget nihh..! Awas nanti ya..!”.
Anneke sama sekali tidak menduga bahwa aku juga mengintipnya saat mandi. Dia masuk mobil sambil mengepalkan kedua tangannya dengan gemas karena kejutan yang baru saja didengarnya dari bisikanku tadi. Aku masih kesakitan merasakan cubitannya. Tampaknya cubitannya cukup melukai kulitku. Saat dia bersiap menunggu kereta berangkat, dari HP-nya dia meneleponku. Aku mengatakan padanya bahwa cubitannya itu benar-benar keterlaluan hingga tanganku memar kebiruan dengan rasa sakit yang belum hilang hingga sekarang.
Anneke menjawab dengan tenangnya, “Aku hanya bisa berdoa Mbak, mudah-mudahan tangan Mbak belum baik sampai aku kembali ke Jakarta nanti. Jadi, biarkanlah dan ijinkanlah aku yang akan mengobatinya nanti, ya Mbak”.
Aku kembali masuk ke rumah. Sepi. Si cantik telah pergi. Aku bersiap untuk pergi mandi. Pada waktu masih ada Anneke, saat-saat seperti ini biasanya aku berpikir, apa yang akan aku suguhkan pada Anneke-ku. Di kamar mandi, kutemui kembali celana dalam dan BH kotornya. Rupanya dia sengaja meninggalkannya sebagai kenang-kenangan untukku. Dengan gembira segera kuraih keduanya untuk kuciumi. Tetapi saat aku mencari celana dalam dan BH kotorku sendiri, ternyata telah raib. Ini pasti ulah Anneke-ku. Rupanya dia masih sempat menukarnya dengan miliknya.
“Dasar si cantik, awas kamu nanti..”, ujarku dalam hati dengan gemas.

Jakarta, awal Mei 2008

T A M A T


About this entry