LP – Terjebak Pesona – 2

Dari bagian 1

Kini aku dalam posisi terikat tak berdaya telentang di ranjang, sungguh pengalaman baru bagiku merasakan ketidakberdayaan dihadapan laki laki yang belum kukenal lama. Dalam posisi terikat kembali Hari menjamah seluruh tubuhku, diciuminya pipi dan bibirku, menjelajahi seluruh tubuhku, lalu dia mengulum dan menyedot putingku, aku hanya bisa mendesah dan menggeliat nikmat, tak bisa membalas dengan pelukan atau lainnya, tak terasa dengan tidak berdaya seperti ini ada sensasi tersendiri, suatu sensasi dan kenikmatan yang tak terbayangkan sebelumnya, antara nikmat dan takut.

Kepala Hari sudah berada di selangkanganku, kunaikkan pinggulku, dengan liarnya jilatannya menyusuri vaginaku, diselingi dengan kocokan dua jari, aku makin mendesah dan menggeliat tanpa bisa berbuat apa apa, tapi anehnya justru aku merasakan sensasi yang lain yang belum pernah kurasakan. Dia kembali menindihku, dengan sekali dorong masuklah penisnya menembus vaginaku dan dikocoknya dengan cepat. Tubuhku dipeluk erat meski aku tak bisa membalas pelukannya, hanya desah kenikmatan yang bisa kuperbuat.

“Suka?” bisiknya di telingaku, malu menjawab karena memang aku malai menyukai permainan ini, tapi dia medesakku sambil mengocokku makin keras.
“Bilang suka apa nggak? atau kulepaskan saja talinya”, kocokannya sudah menyodok rahimku semakin dalam dan semakin cepat. Sesaat aku tak bisa menjawab ya atau tidak, aku terlalu terhanyut dalam permainan baru, dia mendesakku terus sambil mempercepat kocokannya.
“Aaahh.. jangan.. jangaan.. jangan dilepas” hampir tak percaya kuucapkan itu ketika dia menghentikan kocokannya dan hendak melepas ikatan.

“OK, let’s the game begin”, katanya lalu dengan kasar dia mencabut penisnya, meninggalkanku yang terikat terbakar birahi setengah jalan menuju puncak kenikmatan, dia mengambil sesuatu dari tasnya.
Aku terkaget ketika dia menunjukkan dildo berwarna hitam legam menyerupai penis dengan accessories di pangkalnya, ukurannya sedikit lebih besar dari rata rata ukuran sebenarnya, tapi bentuknya mengerikan.
“Koh, apaan itu, jangan ah” setengah teriak aku mencegahnya
“Nggak apa, toh tidak lebih besar dari yang aslinya” hiburnya sambil mengusap usapkan ke vaginaku.
“Jangan Koh, aahh.. pakai asli ajaa.. aku.. aku.. nggak .. pernah me.. melakukannyaa.. aahh” protes bercampur desah setelah sebagian dildo itu memasuki vaginaku, jauh lebih besar dari perkiraanku, vaginaku terasa penuh.
“Coba dulu deh.. enak nggak”, bujuknya sambil perlahan memasukkan dildo makin dalam, aku menggeliat, ada rasa nikmat yang aneh kurasakan.
“Aaagghh.. sszz.. oouuww”, suatu kenikmatan tersendiri, terasa aneh tapi sungguh nikmat apalagi ketika dia memutar dildo itu, tak pernah kurasakan sebelumnya, lagian mana ada penis yang bisa berputar, aku menjerit nikmat, dia mulai mengocokkan dildonya, accessories pada pangkal dildo mengenai sisi vaginaku yang lain menambah kenikmatan tersendiri, jeritanku makin keras, tubuhku menggeliat tak karuan dengan tangan terikat seperti ini.
“Sekarang rasakan kenikmatan yang sesungguhnya” katanya, sedetik kemudian kurasakan dildo itu bergetar, kontan saja aku menjerit kaget, kupelototi Hari yang menikmati expresi aneh wajahku, antara kaget, sakit, nikmat, tidak berdaya bercampur menjadi satu, tubuhku kelojotan seperti cacing kepanasan ditambah lagi dengan ikatan di kaki dan tanganku sungguh suatu siksaan kenikmatan tersendiri, tak pernah kurasakan kegelian pada vaginaku seperti ini.
“Koh, pleaassee.. tolong lepaskan aku.. pleaasessee”, desah dan teriak bercampur permohonan, permohonan untuk melepaskan ikatan bukan untuk menghentikan dildonya karena memang terasa nikmat yang aneh, aku menggeliat geliat tak karuan, tak bisa berbuat apa.

Sepertinya Hari menikmati geliat tak berdayaku, kulihat sambil mengocok dildo getarnya dia meremas remas sendiri penisnya, sebenarnya bisa aja aku teriak keras minta tolong agar orang diluar kamar dengar, tapi ini sekedar permainan, permainan yang aku sendiri tak tahu harus menerima, menikmati atau menolak. Aku tidak disakiti secara fisik, tapi penyiksaan dalam bentuk lain, suatu penyiksaan sexual, tak tahu harus bagaimana aku menyikapinya, dan tak sempat aku berpikir bagaimana menyikapinya karena dildo itu begitu liar bergerak nikmat di vaginaku.
Ditinggalkannya dildo itu bergetar di vaginaku, dia berdiri mengangkangiku sambil mengocok penisnya dengan tangannya, wajahnya tajam menatapku yang sedang kelocotan merasakan dildo yang bergetar mengaduk vaginaku.
Desahanku sudah berubah menjadi jeritan yang aku sendiri tak bisa mengartikan apakah jeritan protes, marah atau nikmat.

Sepertinya dia menikmati ekspresi wajahku yang tidak berdaya, cairan penisnya mulai menetes di dadaku, geliatku makin tak beraturan, makin cepat dia mengocok penisnya dan.. dan.. menyemburlah spermanya mengenai muka, rambut dan tubuhku, aku teriak marah, merasa terhina, tapi dia hanya tersenyum sambil mengusapkan penisnya ke wajahku, memaksaku membuka mulut mengulumnya, terus menyusuri dada, lalu kakiku, tak kuasa aku menghindarinya sebelum meninggalkanku ke kamar mandi, dildo masih menancap di vaginaku, geli kenikmatan berubah menjadi kemuakan tapi tanganku tetap terikat tanpa daya, anehnya tak ada niatan untuk teriak minta tolong atas “pemerkosaan” ini.

Sungguh aku merasa terhina diperlakukan seperti ini, tetesan tetesan sperma membasahi hampir seluruh tubuhku, aromanya begitu menyengat, tak dapat kuhindari beberapa mengalir ke mulutku, aku mencoba menghindar tapi tak ayal lagi kurasakan juga gurihnya spermanya, kuludahkan sperma yang sempat masuk mulutku, perasaan jijik menyelimutiku, kalau saja dia memintaku baik baik untuk mengeluarkan sperma ke tubuhku seperti ini mungkin aku tak keberatan mengingat bagaimana aku tadi terpesona akan penampilannya.

Hari duduk di sebelahku, diambilnya dildo dari vaginaku tanpa ada tanda tanda melepas ikatanku.
Aku menghiba memelas untuk dilepaskan, tapi tak dipedulikan, malahan mengancam akan membungkam mulutku apabila aku teriak sampai terdengar dari luar.

Dia mengambil kain lain dari tasnya lalu ditutupkan ke mataku, semua kini menjadi gelap, aku merasa benar benar tak berdaya, kupikir ini sudah bukan lagi permainan yang menyenangkan, dengan mata tertutup aku tak tahu dia akan berbuat apa lagi terhadapku dan aku tak bisa menduga selanjutnya.

Sesaat tak kurasakan sentuhan atau gerakannya di atas ranjang, entah apa yang dilakukan dikamar ini. Tiba tiba kurasakan sentuhan dingin di putingku, aku terkaget, ternyata dia meletakkan es batu diputingku lalu dikulumnya, dinginnya es menyusur ke perut dan berhenti di vaginaku, aku menjerit tapi ada sensasi erotis tersendiri kurasakan, sedikit kenikmatan, kusesali kenapa dia melakukan dengan cara paksaan seperti ini, padahal belum tentu aku menolak permainan permainannya yang penuh kejutan.

Aku menjerit kaget bercampur nikmat saat kurasakan permainan lidahnya di sela dinginnya es pada klitoris dan vaginaku, kembali kurasakan dildo itu melesak masuk penisku bersamaan dengan jilatannya pada klitoris.
Dia sudah tidak mempedulikan permohonanku meski dengan menghiba minta ampun, sepertinya dia menikmati seperti kucing yang mempermainkan cecak, perlahan kenikmatan mulai menjalar, tanpa kusasari aku mulai menggoyangkan pantatku, tak dapat kuhindari meski aku benci melakukannya tapi aku juga tak ada cara untuk menghindar, asal tidak menyakiti secara fisik maka kubiarkan dia menghina dan mempermainkanku, toh aku sudah biasa diperlakukan secara hina oleh tamuku, meski tidak sekasar ini.

Pinggulku sudah turun naik tanpa bisa kukendalikan lagi, bahkan desahankupun sudah meluncur dengan sendirinya, aku seperti tak bisa lagi mengontrol emosi dan tubuhku, semua seakan berjalan sendiri sendiri mengikuti naluri sexual yang mulai terlatih.

Dia mencabut dildonya, aku menunggu kejutan lainnya dengan harap harap cemas, lama tak ada suara atau gerakan, akhirnya kurasakan dia menindihku dan menyapukan penisnya ke vaginaku, kembali terkaget aku dibuatnya ketika penisnya memasuki vaginaku, terasa begitu besar, panjang, dan kasar menggesek dinding vaginaku, tak mungkin itu penisnya, pasti dia sedang berbuat sesuatu terhadapku. Dengan ganas menciumi leher dan buah dadaku disertai gigitan gigitan ringan pada puting, aku hanya berharap dia tidak meninggalkan bekas memerah di leher dan dada, kalau itu terjadi tentu akan menurunkan “harga jualku”.

“Penisnya” makin cepat mengocokku, rasa aneh yang kurasakan di vagina ternyata membuatku makin tinggi melayang nikmat, dan tak dapat kuhindari ketika aku menjerit orgasme, sungguh memalukan orgasme tapi dalam keadaan marah, napasku tersengal turun naik, antara marah dan nikmat sehabis orgasme. Hari masih tetap mencium dan mengocokku, justru makin ganas, vaginaku sudah terasa memar dan sedikit perih, mungkin lecet.

Hari menukar posisi ikatan tanganku setelah melepas ikatan di kaki, posisiku kini tengkurap tanpa ikatan kaki tapi mata tetap tertutup. Terlalu lemas aku untuk melakukan perlawanan, dia menarik pantatku naik hingga posisi nungging, kurasakan lidahnya menjilati vaginaku bersamaan dengan jari tangannya mempermainkan lubang anus, aku bertekad akan teriak apabila dia memaksakan untuk memasukkan penisnya ke dubur, itu sudah menjadi prinsipku bahwa tak akan pernah melakukan anal seks.

Sesaat kemudian dia langsung melesakkan kembali “penisnya” yang aneh itu, kembali rasa nyeri bercampur nikmat menyelimutiku, desahan demi desahan mengiringi kocokannya. Sepuluh menit kemuian kudengar jeritan orgasme darinya, tapi aku terheran karena tidak ada denyutan dari “penis” yang masih meluncur di vaginaku, justru pantatku terasa hangat terkena cairan, dan “penis” itu masih tetap keras tegang bersemayam di vaginaku, aku tak tahu apa yang terjadi.

Suasana sunyi kecuali desah napas kami berdua, dia melepaskan tutup mata dan ikatanku. Aku masih tetap telungkup telanjang, diam saja menahan marah, beberapa pertanyaannya hanya kujawab ya dan tidak. Baru kusadari ternyata saat dogie tadi dia mengocokku dengan dildo yang lain lagi yang diikatkan di pinggangnya, mungkin sambil mengocokkan dildonya dia bermasturbasi di atas pantatku sehingga kurasakan cairan hangat saat dia orgasme. Berkali kali dia minta maaf atas perbuatannya, aku diminta mengerti akan kelainan sexualnya. Tak ada jawaban dariku, tetap diam membisu, aku tak peduli apakah dia marah, tersinggung atau tidak puas.

Dalam hati aku berjanji tak akan menerima dia lagi meski dengan imbalan berupa apapun, cukup sekali aku diperlakukan seperti ini, kali ini mungkin dia hanya mengikat dan mempermainkan dildonya, namun siapa tahu lain waktu dia berbuat lebih jauh lagi saat ada kesempatan dan dengan terikat begitu tentu aku tak bisa berbuat apa apa, hanya pasrah menerima perlakuannya.

Kutinggalkan Hari saat membereskan “mainannya”, sengaja berlama lama di kamar mandi yang pintunya kukunci, padahal tak pernah aku menutup apalagi mengunci saat mandi. Aku keluar setelah dia hendak berpamitan pulang, biasanya kuantar tamuku hingga keluar pintu kamar sambil masih telanjang atau berbalut handuk di dada, tapi kali ini aku sudah kembali rapi berpakaian lengkap melepas kepergiannya, masih tetap membisu, tak ada bujuk rayu untuk kembali lagi seperti terhadap tamu lain yang telah mempesonaku.

Segera kuhubungi Om Lok, memprotes tamu itu, tapi dia hanya tertawa saja, akhirnya dia adalah orang pertama yang masuk “black list” dalam daftar tamuku, meskipun tip yang diberikan sebesar apa yang kudapat dari Om Lok, tapi resiko dan pengorbanannya terlalu besar.

Cerita sesungguhnya aku potong banyak karena jauh lebih sadis dan mengerikan, ada permainan lilin yang diteteskan ke tubuhku, pisau yang ujungnya dijalankan ke seluruh tubuhku, meski tidak sampai melukai tapi cukup menakutkan. Mungkin pembaca tidak tertarik, jadi tak perlu kuceritakan karena aku sendiri masih trauma dan ngeri saat menulis kisah ini.

TAMAT


About this entry