LP – Ada Apa Dengan Cinta? – 3

Dari bagian 2

Melihat perlakuan Cindy ini bertambah naik birahiku, bagaimana tidak, aku sedang bercinta dengan suaminya ketika dia menyeka keringat kami berdua, sungguh sensasi yang tak bisa digambarkan dan begitu menggairahkan.
Tiba tiba Koh Anton menghentikan kocokannya dan mencabut penisnya dari vaginaku ketika aku sedang menuju ke puncak kenikmatan, aku menoleh ke belakang mau protes tapi dengan senyum dia mencium bibirku menghalangi expresi protes dariku.

Koh Anton menggandeng kami berdua menuju ranjang, kami bertiga langsung rebah di ranjang dengan Koh Anton di tengah, tanganku dan tangan Cindy sudah berada di kejantanannya yang masih basah sisa dari vaginaku. Aku dan Cindy menciumi bibir Koh Anton secara bergantian, seperti dikomando kami bersama sama terus menyusuri tubuh Koh Anton dengan lidah kami, terus turun hingga dada dan masing masing mengulum putingnya, Koh Anton mendesis mendapat pelayanan kami berdua. Jilatan kami berlanjut ke perut lalu berhenti di selangkangan, lidah kami sudah berada di kejantanannya secara bergantian menyapu batang penis itu turun naik.

Cindy memasukkan penis suaminya ke mulutnya dan mengocoknya, lidahku menjilati sisa batang penis yang tidak tertampung di mulut istrinya, tak kupedulikan lagi ludah Cindy yang menempel di batang itu, Koh Anton mendesah sambil meremas rambut kami berdua, dia seperti sedang melayang layang di awan kenikmatan, gantian aku mengulum penis suaminya dan dia memainkan lidahnya di bawah.

Koh Anton menarikku ke atas memintaku berada di atas kepalanya menghadap Cindy yang masih asik bermain dengan penis suaminya, pantatku sudah tepat di atas mukanya dan vaginaku langsung mendapat jilatan penuh gairah darinya, kurasakan geli dan nikmat dari permainan lidahnya di klitoris dan bibir vaginaku.

Kucondongkan tubuhku hingga membuat posisi 69, aku dan Cindy berbagi penis suaminya, kembali dua lidah bermain di penis Koh Anton, jilatan di vaginaku kurasakan makin liar dan nikmat, kurebut penis Koh Anton dari mulut istrinya dan langsung kumasukkan ke mulutku, Cindy hanya tersenyum melihat “keserakahanku” pada suaminya, tak kupedulikan dia, langsung kukulum dengan penuh gairah segairah jilatan Koh Anton di vaginaku, makin lama makin nikmat dan menggairahkan, terutama permainan lidahnya di klitoris, sungguh mengasyikkan. Tak kuberi giliran Cindy untuk mengulum penis suaminya, untunglah dia cukup pengertian, berulang kali dia memintanya tapi tak kuberikan kesempatan itu, dengan senyumnya dia mengelus elus rambutku yang sedang turun naik mengocok penis suaminya.

Puas dengan permainan oral, Koh Anton memintaku telentang di sampingnya, dia langsung menindih tubuhku, bibir dan lidahnya menyusuri telinga, leher dan dadaku, lidahnya berhenti di puncak bukitku, mempermainkan putingku dengan diselingi gigitan ringan membuatku menggeliat ke-geli-an, kuremas rambut Koh Anton, dengan rakus dia menyedot putingku, meremas buah dadaku, aku menggeliat dan menjerit nikmat, Cindy dengan setia meremas dan mengocok penis suaminya, lalu disapukan ke bibir vaginaku.

Kubuka kakiku lebar, kujepitkan di pinggang Koh Anton, bersiap menerima penisnya di vaginaku, kurasakan penis Koh Anton yang mengeras mulai menguak bibir liang kenikmatanku. Kami kembali berciuman, bibir kami saling melumat ketika kurasakan penis itu makin dalam menyeruak liang vaginaku, dengan sekali dorongan keras melesaklah seluruh kejantanan itu menerobos celah celah nikmat liang vaginaku, aku menjerit dan menggeliat kaget menerima sodokan keras itu. Aku melotot tapi Koh Anton hanya tersenyum dan kembali melumat bibirku dengan penuh gairah segairah kocokannya yang langsung cepat dan keras serasa menghantam dinding dinding vaginaku.

Desah dan jerit kenikmatan tak tertahan keluar dari mulutku, semakin cepat sodokannya semakin keras jeritan keluar dari mulutku, sungguh aku sudah tidak bisa mengontrol emosi lagi, terlalu terlarut dalam kenikmatan hingga lupa tugasku untuk memberikan kepuasan pada tamuku ini. Kudekap erat tubuh Koh Anton, mungkin juga dia terluka terkena kuku-ku, semakin aku menjerit semakin liar Koh Anton mengocokku. Aku berusaha mengimbangi gerakan Koh Anton dengan menggerarakkan pantatku, kami saling menggoyang, kurasakan penisnya mengaduk aduk liang vaginaku, terasa semakin nikmat, semakin keras kugoyangkan pantatku, desahan kami saling bergantian memenuhi ruangan.

Cindy yang dari tadi menonton suaminya bercinta denganku, mulai ikutan aktif, kakiku di angkat dan dibuka lebar membentuk “V”, semakin lebar vaginaku terbuka, semakin dalam penis Koh Anton tertanam di vaginaku. Melihat “kesetiaan” Cindy pada suaminya, aku semakin bergairah, kocokan Koh Anton membawaku melayang ke puncak kenikmatan tertinggi, tubuhku menegang lalu aku menjerit histeris nikmat ketika otot otot vaginaku berdenyut keras, tubuhku bergetar hebat, ternyata kocokan Koh Anton tak berhenti sampai disitu, justru makin cepat keluar masuk vaginaku yang sedang berdenyut, jeritanku makin tak karuan, kenikmatanku makin membumbung tinggi, kucengkeram erat lengan Koh Anton hingga denyutanku menghilang perlahan lalu tubuhku melemas. Cindy masih memegangi kakiku, Koh Anton tanpa memberiku kesempatan istirahat meneruskan sodokannya, kenikmatan berubah menjadi geli yang tak karuan, napasku turun naik menggelora, baru saja kulalui puncak kenikmatan dengan penuh gairah.

Koh Anton meminta aku di atas, dengan lutut yang masih lemas kunaiki tubuhnya, kuatur posisiku di atas penisnya dan perlahan kuturunkan tubuhku sambil melesakkan penisnya di vagina. Belum selesai aku menurunkan tubuhku tiba tiba Koh Anton langsung menyodokku dari bawah dengan kerasnya, aku teriak kaget atas kenakalannya, dia hanya tersenyum dan langsung meremas kedua buah dadaku sambil mengocok dari bawah makin keras, tak mau kalah maka kugerakkan pinggangku memutar hingga kami saling mengocok. Ternyata hal ini tidak membuatku lebih baik, justru semakin cepat membawaku menuju puncak kenikmatan, apalagi permainan lidah Koh Anton di putingku ketika tubuhku membungkuk, sungguh kombinasi erotis yang tak bisa kutahan, melambungkan birahiku makin tinggi.

Tak lebih dari sepuluh menit aku bergoyang pinggul di atas Koh Anton, ternyata untuk kedua kalinya kurengkuh puncak kenikmatan, jeritanku secara spontan keluar dari mulutku tanpa bisa kukontrol, terlalu nikmat untuk ditahan. Tubuhku langsung ambruk di atas Koh Anton, tapi lagi lagi dia tidak menghentikan kocokannya, penisnya tetap meluncur keluar masuk vaginaku dengan lancar dan cepat, tanpa mempedulikan kondisiku yang sudah lemas, kupikir dia ingin melampiaskan nafsunya secara habis habisan padaku, aku bagaimanapun harus terima perlakuannya, karena kesalahanku sendiri dan resiko yang harus kuhadapi kalau aku terlalu banyak orgasme, suatu kesalahan yang patut dinikmati.

Tidak ada tempo bagiku untuk mengambil napas lebih jauh ketika Koh Anton memintaku doggie style, kuturuti meski lututku masih makin lemas, segera dia membenamkan penisnya dan menyodokku dengan keras, untuk kesekian kalinya aku terkaget hingga kepalaku terdongak ke atas, Koh Anton memegang rambutku dan menarik ke belakang, diluar dugaanku perlakuan kasarnya justru membuatku makin bergairah. Kugoyangkan pantatku mengimbanginya, perlahan tapi pasti birahiku kembali naik menuju puncak kenikmatan.

Koh Anton meraih buah dadaku yang menggantung bebas, diremasnya dengan gemas sambil tetap mengocokku, kemudian Koh Anton meraih tanganku dan menariknya ke belakang hingga tubuhku bergantung pada kedua lenganku yang ditahannya dari belakang, kurasakan sodokan penisnya semakin dalam menembus liang vaginaku, aku mendesah desah liar, “Ah..ah..ah..ya..ya.. ouuhh..yess”, teriakku setiap kali penis Koh Anton menyodok keras, aku tidak bisa berbuat apa apa dengan posisi seperti ini, selain mendesah dan mendesah.

Akibatnya sungguh hebat, begitu nikmat sekali penis Koh Anton mengisi dan sliding di liang vaginaku, sehingga dengan cepat vaginaku berdenyut pertanda orgasme, tak ada bisa kulakukan selain menjerit histeris, kugoyang goyangkan kepalaku merasakan kenikmatan ini untuk yang kesekian kalinya. Sebenarnya aku malu mengalami hal ini berulang kali, terutama di depan Cindy, tapi apalah artinya malu pada dia dibandingkan kenikmatan yang kurengkuh dan kurasakan. Aku langsung menggelepar di atas ranjang, tubuhku sudah lemas habis.

Cindy yang dari tadi sudah bersiap di sampingku sepertinya tidak dihiraukan suaminya yang sedang di puncak gairah bersamaku, tapi sepertinya dia tidak marah, malah tersenyum melihat expresi wajahku yang terbakar nikmatnya nafsu birahi, terutama saat aku menjerit orgasme, Cindy hanya mempermainkan jarinya di klitorisnya sambil melihat aku dan suaminya bercinta, sesekali mendesis sendiri, sungguh istri yang penuh pengertian.
Terus terang aku kagum dengan stamina Koh Anton yang telah tiga kali membuatku orgasme secara berturut turut. Baru kusadari bahwa kehadiran Cindy, istrinya, membuat sensasi tersendiri dan membuatku jadi lebih cepat melayang ke puncak kenikmatan, ternyata bercinta bertiga jauh lebih menyenangkan dibandingkan berdua, apalagi dengan sepasang suami seperti ini.

Koh Anton masih menyodokku dari belakang, aku hanya nungging dengan kepala dan tubuhku di ranjang, hanya pantatku yang tersangga pada lututku, kulihat Cindy telentang asik bermain di klitorisnya dan meremas buah dadanya sendiri, aku berharap Koh Anton segera menyelesaikan hasratnya karena aku sudah kecapekan, tapi harapan tinggal harapan, dia dengan semangatnya mengocok vaginaku lebih keras seperti tak ada belas kasihan. Meski berkali kali Cindy minta “jatah” tapi suaminya tak menghiraukannya, Koh Anton malah menggoyangku dengan gerakan liar, mengaduk aduk vaginaku, aku yang sudah lemas hanya mendesis desis.

Untunglah beberapa menit kemudian Koh Anton menghentikan gerakannya, mencabut penisnya dan menghampiri istrinya. Bukannya memasukkan penis ke vagina istrinya tapi malah menjepitkan diantara buah dada Cindy dan mengocoknya, penis itu sliding diantara kedua bukit Cindy, persis seperti yang aku sering lihat di VCD porno, tak lama kemudian dia menyodorkan ke mulut Cindy. Kepala Cindy yang berada di bawah selangkangan suaminya tak bisa banyak bergerak menerima kocokannya, penis Koh Anton yang basah dari vaginaku dengan lancar dan cepat meluncur keluar masuk mulut istrinya yang tetap bergairah menerimanya.

Dan tak lama kemudian Koh Anton menjerit orgasme, menyemprotkan spermanya di mulut istrinya, entah berapa banyak sperma itu, tapi kulihat beberapa bagian menetes keluar dari mulut Cindy. Kembali aku dibuat kagum akan permainan Cindy, tanpa ada rasa risih dia menelan sperma itu dan mengusap sisa sisa yang ada di bibirnya. Mungkin karena sperma suaminya maka tak ada risih untuk melakukan itu, tapi aku tentu saja akan menolak kalau harus keluar sperma di mulut seperti itu, tak sanggup aku melakukannya, memegang sperma saja masih risih apalagi mengulum dan menelan seperti itu, Cindy tersenyum ke arahku dan mencium bibir suaminya.
Kami bertiga telentang dalam kenangan kenikmatan, diam membisu untuk beberapa saat lamanya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika mereka berdua pulang, kami masih sempat melakukannya lagi 2 babak permainan. Mereka berjanji untuk sering melakukannya nanti, Cindy mengaku kalau dia senang dan puas dengan penampilan dan permainanku, aku mengangguk senang kalau mereka bisa puas dengan pelayananku. Malamnya saat menerima tamu berikutnya aku lebih banyak membayangkan bercinta dengan Koh Anton dan Cindy, akibatnya aku mengalami orgasme berkali kali dengan tamuku itu, meski bercinta tak terlalu lama.

Terus terang aku sangat menikmati bercinta dengan Koh Anton apalagi kalau dilihat sama istrinya, entah kapan aku bisa ketemu lagi dengan mereka, aku hanya bisa berharap dan berharap. Harapan seorang wanita penghibur yang berlimpah sex tapi haus akan kasih sayang.

TAMAT


About this entry