Walk in Interview – 1

Cerita kali ini adalah merupakan rekaan, walaupun di sana-sini terdapat kejadian-kejadian pada lokasi-lokasi yang sebenarnya. Seperti biasa untuk melindungi privasi tokoh-tokohnya, nama-nama mereka terpaksa saya samarkan walaupun sebenarnya tidaklah terlalu signifikan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang, ada baiknya jika kisah ini dipasang tanpa menggunakan alamat email saya. That’s all folks, now please enjoy the story.

Bandung 11 Oktober 2000, 09.15 WIB

Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus ke pelataran parkir hotel P, sebuah hotel berbintang 5 yang terletak di jalan Asia Afrika. Sebagai anak kost yang sehari-hari harus prihatin, sebenarnya apa urusannya saya harus datang ke hotel semewah ini?

Sebelumnya ijinkanlah saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Ryo, 23 m Bdg (come on chatters, you should know this code). Saya kuliah di sebuah fakultas teknik yang sering disebut sebagai fakultas ekonominya teknik, karena banyaknya mata kuliah ekonomi yang bertebaran dalam kurikulumnya, di sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di kota ini. Tapi syukurlah beberapa waktu yang lalu saya telah lulus dan diwisuda menjadi seorang Insinyur, but for now, I’m only an unemployment.

That’s why I come to this hotel. Kemarin seseorang yang mengaku bernama Ibu Ratna menelepon dan mengundangku hari ini untuk mengikuti sebuah psikotest dari sebuah perusahaan multinasional yang cukup ternama di Indonesia (dan beberapa waktu yang lalu terkena somasi masyarakat akibat acara promosi sebuah produknya yang agak kelewat batas). Setelah memarkirkan mobil di underground, saya melangkah menuju lobby hotel. Selintas saya melihat pengunjung hotel yang sedang menikmati breakfast (atau lebih tepatnya lunch kali yah?) di coffee shop dan berkeliaran di sekitar lobby. Yah.. dibanding mereka yang berpenampilan santai sih, saya lumayan rapi. Ah cuek sajalah, yang penting PD.

“Maaf Mbak, kalo ruang rekruitmen dimana yah?” tanya saya kepada seorang resepsionis yang bertugas di front office sambil menyebutkan nama perusahaan tersebut.
“Oh.. naik aja lewat tangga itu dan belok ke kanan,” jelasnya sambil menunjukkan tangga yang dimaksud.
Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun bergegas menuju ruang recruitment. Hmm.. masih sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi sedangkan ketika saya melirik jam tangan saya baru menunjukkan pukul 09.22 WIB. Setelah mengisi daftar hadir dan mengambil formulir data diri, saya menghempaskan diri di sebuah sofa empuk di pelataran ruangan tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB ketika seorang wanita mempersilakan para peserta untuk masuk ke ruang tes. Setelah mengambil posisi, saya melihat peserta lainnya. Hmm.. ada beberapa wajah yang saya kenal karena memang teman sekuliah, but now they are my competitor. Di depan ruangan telah berdiri 2 orang wanita yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Mbak Rini dan Mbak Tia. Saya menyebut Mbak karena saya kira mereka tidak terlalu jauh tua dibanding saya, walaupun mereka memperkenalkan diri dengan sebutan Ibu. Keduanya cantik, walaupun dalam perspektif yang berbeda. Mbak Rini berwajah tegas cenderung judes, sangat PD dan terkesan senang mendikte orang lain, sedangkan Mbak Tia terkesan lembut, berhati-hati dan komunikatif. Kalau saya menilainya sebagai wanita yang seharusnya dipacari (Mbak Rini) dan wanita yang seharusnya dinikahi (Mbak Tia). Hahaha.. mungkin agak aneh penilaian saya ini.

Setelah acara basa-basi formal, tepat jam 10 tes dimulai. 1 jam 45 menit yang dibutuhkan Mbak Tia untuk memandu dan mengawasi jalannya psikotest ini, sedangkan Mbak Rini entah menghilang kemana. Tepat jam 11.45 WIB kami diusir ke luar ruangan menikmati coffee break untuk 30 menit kemudian diumumkan orang-orang yang lulus psikotest dan menghadapi interview. Dari 200-an pelamar, hanya 40 yang dipanggil psikotest dan hanya 20 yang dipanggil interview, untuk selanjutnya terserah berapa orang yang akan diterima.

Ternyata nama saya tercantum dalam daftar peserta yang lulus psikotest, so I have to stay longer to join an interview. Interview will be done in english, so I have to prepare myself. But it’s only my first experience, so what the hell..! Saya berusaha cuek dan rileks saja menghadapinya, masa bodoh teuing lah kata orang sini.

Sekitar jam 14.45 WIB nama saya disebutkan untuk memasuki ruangan interview. Hhmm.. ternyata yang meng-interview (eh ini bahasa mana yah?) saya adalah Mbak Tia. Setelah memperkenalkan diri, kami terlibat dalam obrolan yang serius namun akrab. Berkali-kali dia membujuk saya untuk mau bergabung pada perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik. Saya sih sebenarnya lebih senang bekerja pada shop floor di pabrik daripada harus bekerja di kantor manajemen di belakang meja dan di depan komputer. Tapi permasalahannya adalah bahwa pabrik yang bersangkutan terletak di sebuah kota di pesisir utara pulau Jawa, sebuah kota yang menjadi pintu gerbang Jawa Barat terhadap tetangganya di sebelah timur. Away from home means extra cost for living, am I right? Tidak terasa kami mengobrol semakin akrab. Mbak Tia ternyata benar-benar smart, komunikatif dan mampu membawa suasana bersahabat dalam sebuah perbincangan. Tidak heran ternyata dia adalah alumni fakultas psikologi tahun 1992 pada sebuah perguruan tinggi di selatan Jakarta yang terkenal dengan jaket kuningnya.

“That’s all Ryo, thank you for joining this recruitment. We will contact you in two weeks from now by mail or phone,” kata Mbak Tia mengakhiri pembicaraan.
“The pleasure is mine,” jawab saya pendek sambil berbalik menuju pintu.
“Ryo, why do you look so confident today? The others don’t look like you,” tiba-tiba Mbak Tia berbicara lagi kepada saya.
“I just try to be myself, no need to pretend being someone else,” jawab saya sambil bingung, sebenarnya apa yang telah saya lakukan sih sampai dia menilai saya seperti itu?
“Cool, I like your style,” sambung Mbak Tia lagi.
“I like your style too,” jawab saya (pura-pura) cuek.
“Tia, I like to talk with you, maybe some other day we can talk more. May I have your number?” sambung saya lagi.
Asli sudah cuek sekali, tidak ada malu-malunya lagi.

Baru beberapa saat mengobrol bareng dia, tapi kenapa rasanya saya sudah kenal lama yah? Mbak Tia cuma tersenyum dan memberikan kartu namanya sambil meminta nomor telepon saya juga. Karena saya masih pengangguran dan tidak punya kartu nama, akhirnya dia hanya dapat mencatatnya di kertas note miliknya saja. Dan saya akhirnya langsung pulang.

Bandung, same day at 18.04 WIB

Saya lagi termenung di kamar kost di depan komputer menyesali kekalahan kesebelasan saya dalam game Championship Manager 4. Sialan.. menyerang habis-habisan kok malah kalah yah, pikir saya sambil menatap statistik permainan. Tiba-tiba.. krriinngg, teleponku berbunyi mengagetkanku karena memang dipasang pada volume penuh. Di LCD terpampang nomor telepon asing (maksudnya belum ada di memori). Langsung saya jawab,
“Hallo..”
“Hallo.. ini Ryo?” terdengar sebuah suara wanita di seberang telepon.
“Iya, ini Ryo,” jawab saya.
Sejenak saya terganggu koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga nih jaringan 0816 prabayar wilayah sini. Ternyata itu telepon dari Mbak Tia. Dia sih ngakunya cuma iseng saja men-check nomor saya.

Setelah ngobrol sebentar, saya bertanya,
“Mbak, banyak kerjaan tidak?”
“Kenapa nanya, mau ngajak jalan-jalan yah?” jawab Mbak Tia disusul suara tertawanya yang ramah.
“Boleh, siapa takut..?” balas saya sambil senyum iseng (untung dia tidak bisa lihat senyum saya).
“tidak kok udah selesai semua, free as a bird,” katanya lagi sambil mengutip sebuah judul lagu The Beatles (atau John Lennon? ah masa bodoh teuing lah).

Akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan (but no business talks allowed, kata Mbak Tia). Waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika saya memarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel yang sama. Ah.. masak dalam sehari ke hotel ini sampai 2 kali, pikirku. Baru beberapa saat saya duduk, terlihat sosok Mbak Tia berjalan ke arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya dan melihat sekeliling lobby untuk mencariku. Saya cukup melambaikan tangan untuk memberitahukan posisi saya duduk untuk kemudian bangkit berdiri dan berlahan menghampirinya. Kemeja putih berbunga-bunga kecil berwarna ungu terlihat serasi dengan pilihan celana panjangnya yang juga berwarna ungu. Wah.. aliran matching-isme nih, pikirku.
“Hi Mbak, look so nice,” kata saya sambil sedikit memuji penampilannya yang memang out of mind itu.
“Thanks, you too,” jawabnya lagi sambil tersenyum.
Tapi kali ini kesan senyumnya jauh dari resmi, seperti senyum kepada seorang teman lama.

Kami langsung berangkat. Karena Mbak Tia meminta untuk tidak makan berat, akhirnya saya membawanya ke LV kafe, sebuah resto dengan pemandangan kota yang bagus sekali di bilangan Dago Pakar. Kalau sudah malam, kelihatan indahnya warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many times I’ve been there, but still never get bored. Temaramnya cahaya lampu resto, jilatan lidah api dari lilin di meja dan kerlap-kerlipnya lampu kota Bandung di bawah sana tidak mampu menutupi kecantikan yang terpancar dari seorang Tia, wanita yang baru saya kenal dalam beberapa jam saja. Kalau dilihat dari face-nya sih tidak cantik-cantik banget, tapi gayanya yang ramah, wawasannya yang luas dan obrolannya yang menguasai banyak hal, membuat penampilannya begitu chic dan smart. Daripada dengan wanita cakep dan seksi serta mampu mengeksploitasi penampilannya semaksimal mungkin, tapi kalau diajak ngomong tidak pernah nyambung dan otaknya isinya cuma kosmetik dengan toko baju atau factory outlet saja sih jauh sekali, bagusan Tia kemana-mana. Pokoknya smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seorang presenter TV favorit saya, yang walaupun tidak terlalu cantik tapi mampu memikat karena gayanya yang smart itu.

Mbak Tia (dan pada kesempatan ini dia minta saya cukup memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, tanpa embel-embel Mbak di depannya) memesan lasagna, biar tidak terlalu kenyang katanya. Ternyata city view Bandung masih kalah dengan view yang ada di depan saya sekarang. Asyik sekali melihat Tia menikmati sedikit demi sedikit makanannya. Ada suatu momen yang bagus sekali saat tiba-tiba dia mendongak, mengibaskan rambut sebahunya dan menatap saya sambil berkata, “Lho kok malah tidak makan?” Hhmm.. asli sumpah bagus banget angle-nya. Saya pernah ikut kegiatan fotografi saat di bangku sekolah dulu, jadi mungkin inilah yang disebut dengan angle terbaik. Ada beberapa saat (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang dapat terlihat sangat tampan atau sangat cantik dan saya baru menikmatinya beberapa detik yang lalu.

“Heh.. kok malah bengong?” Tia membuyarkan lamunan saya seketika.
“Ah tidak kok, cuma lagi inget-inget aja tadi taruh kunci kost dimana?” jawab saya sambil mencoba berbohong.
Kalau dia sampai tahu saya mengagumi pemandangan tentang dia, wah bisa jadi tidak enak suasananya.
“Ooohh..” sahutnya pendek, entah tahu saya berbohong atau tidak.
Terus terang saya selalu rada takut menghadapi alumni-alumni fakultas psikologi, takut-takut pikiran saya bisa dibaca mereka, hahahaha.

Lalu kami terlibat perbincangan yang hangat sambil menikmati makanan. Ada beberapa sisi baru yang saya kenal dari seorang Tia malam itu. Desember nanti usianya 26, termasuk muda untuk seorang angkatan 1992. Anak kedua dari 3 bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik laki-lakinya sedang kuliah di sebuah PTS yang ternama di bilangan Grogol, Jakarta dan terkenal saat-saat perjuangan reformasi mahasiswa media 1998 lalu. Dia pernah hampir saja menikah pada awal tahun ini, namun sesuatu terjadi (Tia mengistilahkan dengan something happened in the way to heaven, mirip sama judul lagunya Led Zeppelin 20-an tahun yang lalu), kekasihnya ternyata menikahi wanita lain yang telanjur dihamilinya. Tia menyebutkan itulah resikonya pacaran jarak jauh, ternyata seseorang mampu menggantikan tempatnya di hati kekasihnya yang bekerja di kota tersebut. Ah.. manusia, cerita tentang kehidupan mereka memang sangat beragam.

“That’s why Ryo, ’till now I still can’t trust men,” Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap-kerlip lampu kota Bandung. Dia bilang pria itu seperti kucing, sudah disayang-sayang tetap saja nyolong, hahahaha.. lucu juga istilahnya. Saya cuma bisa membela kaum saya sebisanya. Biar bagaimana pun sepertinya tidak semua cowok itu seperti kucing deh, beberapa diantaranya malah lebih mirip serigala, hahahahaha. Makin lama kami ngobrol, makin banyak sisi-sisi lain yang saya kenal dari seorang Tia. Bahkan sampai sekarang dia masih belum mengerti apa sebenarnya yang ada di otak kekasihnya dahulu saat meninggalkannya, padahal we had a perfect life, katanya. Saya kira anak psikologi tahu semua jawaban tentang problem pikiran dan perasaan manusia, ternyata tidak juga tuh. Dia bilang sih tidak semua dokter bisa menyembuhkan sakitnya sendiri dan tidak semua pilot bisa terbang. Untuk yang terakhir ini dia bisa bikin saya ngakak banget.

“So Ryo, why are you still alone ’till now?” tiba-tiba Tia mengubah topik pembicaraan.
Lho kok.. malah ngomongin saya sekarang?
“Ah tidak ada yang mau sama saya, hehehe..” jawab saya sekenanya sambil becanda.
“Bohong banget, mau tinggi-in mutu yah?” todong Tia.
“Hahaha ketahuan deh saya,” jawab saya lagi sambil cengar-cengir.
“Boleh Tia ngomong tentang penilaian Tia ke kamu?” katanya tiba-tiba.
“Sok, silakan, mangga..”
Dan mulailah Tia mengutarakan penilaiannya tentang saya. Yang bikin saya kaget ternyata dia bisa tahu pikiran-pikiran saya yang cuma ada di hati, bahkan tidak ada di otak sekalipun. Dia bilang kalau dibalik penampilan saya yang selalu tertawa dan becanda melulu, pernah ada sesuatu yang sangat melukai saya di masa lalu, dan itu sangat mungkin berkaitan dengan wanita, mengingat hingga sekarang saya masih sendiri. Ah.. saya jadi teringat masa lalu saya yang berhasil ditebak dengan jitu oleh Tia (katanya semudah membaca buku yang terbuka, sialan..!). Dimana sekarang beradanya si “love of my life” itu, beberapa wanita memang sempat menggantikannya, tapi tidak ada yang benar-benar dapat menggantikannya, hehehe.. kok jadi sentimentil begini, ini kan cerita, hahahaha.

Bersambung ke bagian 02


About this entry