Jeanny – 3

Sambungan dri bagian 02

Tubuhnya sambil menggeliat-geliat dan mulutnya mengeluarkan erangan. Sesekali penisku ditempelkan ke dadanya lalu telapak tangannya “menggiling”. Tanpa sadar aku mulai ikut mengerang. Pembaca, kondisiku yang sudah demikian tinggi, stimulasi pada kelaminku demikian intensif, telah seminggu tak ejakulasi, akhirnya aku tak mampu menahan diri, jebol juga. Aku mencapai puncak. Cepat-cepat Jeanny memeluk pinggulku, Aku meledak di dadanya, kuat sekali Jeanny mencekram pinggulku. Aku berdenyut-denyut di dadanya.

Banyak sekali aku menumpahkan cairan mani di dada Jeanny. Maklum, telah “menabung” seminggu. Pelukannya mulai mengendor setelah dirasakannya aku tak berdenyut lagi. Jeanny melepas. Di-“periksa”-nya cairan putih yang menumpahi buahnya. Lalu, tanpa kuduga, dengan telapak tangan dia meratakan cairan itu ke kedua buah dadanya.
“Bisa menghaluskan kulit,” katanya ketika dia melihatku bengong atas tingkahnya.
Aku membantunya. Baru kali ini telapak tanganku tanpa gangguan meremasi payudaranya. Kenyal.

******

Aku mencoba me-refresh ingatanku tentang perilaku Jeanny sejak pertama kali melihatnya. Naik kereta selalu pamer paha dan bagian dada, beberapa kali aku menangkapnya tak bercelana dalam dan menunjukkannya kepadaku, menari erotis di tempat umum dan menikmati jadi tontonan, dan terakhir bertelanjang bulat menari di depan hidungku dengan membiarkan jendela kamar terbuka lebar. Aku yang mulai menduga sejak beberapa hari lalu semakin merasa yakin, bahwa Jeanny memang EXB, alias (sexual) exhibitionist, orang yang suka memamerkan tubuhnya di depan umum.

Selain itu, Jeanny begitu mandiri dan independent, hidup dan tinggal sendiri, punya pekerjaan dengan posisi bagus. Mandiri mungkin menjadi ciri umum cewek Singaporean. Beberapa cewek teman kantorku juga begitu. Ada satu lagi sifatnya yang menonjol (selain dadanya he..he..) dia otoritatif, maunya orang menuruti kehendaknya. Begitulah sosok seorang perempuan yang bernama Jeanny, yang baru kukenal tapi seolah sudah begitu dekat.

“Mikirin apa,” tanyanya mengejutkanku.
Kami berdua masih telanjang. Aku terlentang, Jeanny tiduran di dadaku.
“Ah, engga. Cuma capek, dan lapar.”
“Wah iya, kamu belum makan ya?” Jeanny bangkit, dadanya berguncang indah.
“Yuk, kita makan dulu,” ajaknya sambil memungut blazernya dan dipakai. Lalu roknya.
Hanya kedua potong pakaian itu saja yang dikenakannya. Dengan agak malas aku bangkit berpakaian. Aku sebenarnya mengharapkan tinggal lebih lama di sini sehingga bisa menyetubuhinya.

“Belum waktunya,” jawabnya ketika aku mengutarakan niatku.
“Kapan?”
“Tunggu saja setelah aku siap.”
“Kapan siapnya?” kejarku.
“Sudahlah, sudah larut nih, kita makan trus pulang.”
Akhirnya kami cuma makan fast food di lantai 1 hotel ini.

“Kuantar sampai apartmentmu,” usulku ketika kereta hampir sampai di stasiun tujuanku.
“Tak usahlah.”
“Aku ingin mengantarmu.”
“Belum waktunya, honey.”
Bagian empat: MLA

Kami jadi semakin akrab, berangkat dan pulang kantor bersama-sama. Tapi kesempatan makan siang bersama jarang kudapatkan. Dia begitu sibuk dan harus makan di kantornya. Aku tak rikuh lagi mencumbuinya di dalam kereta (kalau tak kebagian tempat duduk) seperti layaknya pasangan ABG yang sering kujumpai.

Pernah suatu ketika berdua kebagian berdiri di pojok. Jeanny memutar tubuhnya membelakangiku, lalu dituntunnya tanganku ke balik blousenya. Tangan kiriku berpegangan pada “gelang-gelang” yang tergantung di atas, sementara tangan kananku memerasi susunya. Beberapa kali kami pergi lagi ke diskotik itu dan seperti biasanya “penyakit” exhibitionist-nya muncul di sana. Hanya kali ini tanpa “pertunjukan kamar” seperti tempo hari. Dia menolak memberikan kunci kamarnya dengan alasan yang tak jelas. Meskipun telah mengenali sifat-sifatnya, bagiku Jeanny tetap sebuah misteri.

Suatu saat sebulan lewat setelah pertama kali kami ke diskotik, ketika waktu istirahat baru saja habis, Jeanny meneleponku.
“Sudah makan?” tanyanya.
“Sudah, barusan.”
“Oo, aku berharap kita bisa makan siang sama-sama.”
“Kenapa tadi pagi nggak bilang?”
“Memang sih, soalnya aku juga belum yakin bisa. Bisa ke sini nggak?” tanyanya.
“Umm.. aku khawatir tak bisa.”
Sebagai karyawan yang relatif baru, aku tak dapat seenaknya meninggalkan kantor dalam jam kerja.

“Aku pingin bicara.”
“Nggak bisa bicara lewat telepon aja?” tanyaku.
“Nggak. Terlalu panjang, nanti.”
“Aku punya waktu, hanya tak enak kalau ke luar kantor.”
“Okay deh, nanti sore saja pulang kantor kamu ke sini.”
“OK.”
“Nanti telepon dulu ya sebelum pergi.”

Mendadak aku berdebar-debar ketika kereta berhenti di Dobyghout. Tak biasanya Jeanny mengajakku ke sini hanya untuk bicara. Pasti sesuatu yang penting. Sayangnya aku tak bisa menebaknya. Ah, mengapa harus dipikir? Apapun yang akan dia bicarakan, aku sudah siap menerimanya. Aku sempat membayangkan the worst case seperti: Kita cukup di sini saja, jangan lagi menghubungiku. Siapkah Aku? Tadi dia pesan, aku langsung saja naik ke lantai 6, ke kamar yang dulu. Ternyata dia sebagai Manager memang “menguasai” kamar itu sebagai kamar pribadinya. Hanya dia harus siap memberesi barang-barangnya kalau suatu ketika hotelnya mengalami full book.

Kuketuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Kuulangi ketukan lebih keras. Juga tak ada balasan. Aku coba memutar handle pintu, tak terkunci, pintu terbuka. Aku melongok.
“Anybody home?” Sepi.
“Jean!” teriakku. Masih tak ada sahutan.
Aku menutup pintu kembali dan melangkah masuk. Melewati pintu kamar mandi, dan 2-3 langkah lagi.. jantungku berhenti.
“Oh!” seruku otomatis.
Jeanny berdiri di jendela kaca yang terbuka korden dan viltrage-nya, agak di pinggir (sehingga tadi aku tak melihatnya), menghadap ke luar, dan.. telanjang bulat! Gila! Anak ini benar-benar exhibitionist gila!

Dari belakang sosok tubuhnya begitu indah. Lengkungan yang nyaris ideal. Dari punggung lengkungan itu dimulai, berpuncak paling dalam di pinggang, terus menggelembung lagi di pinggul. Sepasang bulatan pantatnya begitu “nyedit”, khas Singaporean. Lalu sepasang paha panjang itu, ditopang sepasang betis yang juga panjang, dan sepasang kaki yang juga telanjang.

Jeanny tetap berdiri memandang jauh ke gedung seberang, tak menengok sedikitpun, seolah memberiku kesempatan untuk menikmati lengkungan tubuhnya.
“Jeanny,” panggilku beberapa saat kemudian setelah aku puas meneliti tubuhnya dari belakang.
Dengan amat perlahan Jeanny memutar tubuhnya, menghadapku. Standing lamp di sebelahnya yang menyala mempertegas bulatan-bulatan di dadanya. Bahkan bayangan puting yang “jatuh” di buahnya memberikan informasi bahwa kedua benda itu menegang. Lampu itu juga membantuku mengamati bulu-bulu kewanitaannya. Matanya tajam menatapku.

Aku mendekat. Lebih dekat. Kubelai pipinya dengan punggung jari-jariku. Matanya menutup. Hembusan nafasnya menerpa wajahku. Kurabai bibirnya dengan ujung telunjukku. Bibirnya terbuka. Mengemoti jariku. Tak lama. Lalu telapak tanganku menelusuri lehernya, dengan “teknik” telusur mengambang, antara menyentuh dan tidak. Turun lagi ke dadanya. Kedua telapak tanganku secara “full coverage” ber-rotasi di kedua belah dadanya, masih dengan teknik mengambang. Puting itu memang telah mengeras.

Lalu ketika kedua tanganku mengikuti alur lengkungan pinggangnya, bibirku kusentuhkan di puting dadanya, sebelum akhirnya mulutku ikut menelusuri seluruh permukaan buah itu. Jeanny melenguh, matanya masih terpejam. Ketika surfing mulutku berakhir di puting dan mengemotnya, Jeanny merintih. Kali ini mulutku begitu leluasa menciumi, menjilati, bahkan menggigiti buah ranum itu. Sebulan lalu, di tempat ini juga, hanya sempat mendarat di beberapa bagian saja. Kali ini Jeanny menjadi penurut, tidak sambil menari-nari, hanya geliatan pelan.

Penelusuran berlanjut. Sambil jongkok dan berpegangan pada pinggiran pinggulnya, mulutku mulai menjelajah permukaan kewanitaannya yang ditumbuhi merata bulu-bulu pendek. Erangan dan lenguhan Jeanny makin sering terdengar. Tiba-tiba Jeanny mengangkat sebelah kakinya dan ditumpangkan ke bahuku. Posisi tubuh yang memungkinkan lidahku menjangkau selangkangannya lebih dalam. “Nyanyian” Jeanny makin keras dan makin tak karuan.

Jeanny menurunkan kembali kakinya, lalu dengan agak terburu dia membukai kemejaku. Aku membuka celanaku. Aku telah bugil. Penisku telah siap. Jeanny menyandarkan diri ke kaca dan mengangkat kakinya lagi.
“Disini?” bisikku. Jeanny mengangguk-angguk.
Tangan kananku menopang paha kirinya. Kuarahkan ujung penisku, aku menekan, dan “kepala”-ku masuk. Jeanny mengerang lagi. Tekan lagi, penisku telah sempurna memasuki tubuhnya. Aku mulai memompa. Di jendela kaca itu. Tak peduli mungkin saja ada orang yang melihat dari jendela gedung seberang. Mana sempat perduli?

Rasa maluku telah hilang, ditimpa rasa nikmat. Nikmat yang agak asing karena telah lama tak merasakan. Rasa nikmat yang ditimbulkan oleh sensasi gesekan batang penisku ke dinding-dinding vagina Jeanny. Rasa nikmat yang ternyata tak begitu lama kunikmati (salah sendiri kenapa “menabung” terlalu lama?). Jeanny membiarkanku ejakulasi di dalam tubuhnya. Semprotan yang berkali-kali dan melimpah.
Oh Jeanny, MLA, ML juga akhirnya.

“Nah, sekarang aku siap mendengar,” kataku setelah kami membersihkan diri masing-masing dan berdua tidur-tiduran di salah satu single bed, masih sama-sama telanjang, seperti bulan lalu sehabis aku dimasturbasi olehnya, aku terlentang dan kepala Jeanny di dadaku.
“Tak ada yang perlu dibicarakan,” sahutnya.
“Lho, tadi kamu pingin bicara.”
“Sebenarnya tidak ada. Aku hanya ingin memberitahumu, sudah waktunya.”
Dengan gemas kuciumi wajahnya.

“Laparnya ya?” katanya.
Perutku berkeroncong, Jeanny mendengarnya. Tanpa minta persetujuanku Jeanny menghubungi room service lewat telepon minta makanan, lalu rebah lagi di tubuhku. Lalu ketika beberapa saat pintu diketuk dan terdengar teriakan “Room service”, Jeanny bangkit, memberesi seluruh pakaianku, menarikku ke kamar mandi, menciprati tubuhnya dengan air, menyambar handuk dan dililitkan ke tubuhnya. Handuk itu kurang lebar buat menutupi tubuhnya. Separuh buah dadanya bagian atas terbuka, sementara seluruh pahanya tak tertutup. Bulu kemaluannya nyaris terlihat.

“Diam dulu di sini ya. Jangan bersuara.” Jeanny menutup pintu kamar mandi.
Dasar Jeanny, menemui pelayan hotel dengan hanya berbalut handuk sempit. Terbayang, pelayan itu mungkin tersipu sambil menelan air liur menatapi buah dada dan seluruh panjang kaki mulusnya.
“Ayo, makan..” katanya setelah pelayan lelaki itu pergi.
Aku keluar kamar mandi mendapati Jeanny sudah membuang handuknya. Kami makan sepiring berdua, dengan bertelanjang bulat. Tak mungkin kan dia pesan makanan dua porsi. Menghindari kecurigaan.

Bermula dari memperhatikan gerak tubuhnya sewaktu Jeanny menyisir rambutnya di depan kaca rias, aku menjadi terangsang lagi. Kudekati dia. Kucium kuduknya. Jeanny bergidik. Lengan atasnya mendadak berbutir-butir tanda merinding. Kucium belakang telinganya. Jeanny melenguh. Diraihnya tanganku dan dituntun ke dadanya. Kuusapi dadanya. Jeanny merintih. Aksi berlanjut.

Kutuntun badannya menuju kasur, tapi Jeanny memaksaku terus melewati kasur dan menuju jendela. Dibukanya salah satu bilah kaca jendela, suara bising lalu lintas langsung terdengar. Ditariknya salah satu kursi menyender ke jendela yang terbuka tadi. Lalu Jeanny naik ke kursi dan menelungkupi sandarannya. Kepala dan bahu Jeanny ada di luar jendela. Pahanya membuka. Aku mengerti maksudnya. Aku juga manaiki kursi itu. Jeanny menginginkan doggie style di sandaran kursi. Aku masuk dari belakang. Memompa maju-mundur. Mulut Jeanny menceracau tak karuan. Sudah kuduga, di second round ini aku bisa lebih lama.
Entah sudah berapa puluh pompaan aku belum merasakan tanda-tanda mencapai puncak. Aku tak bisa menduga apakah Jeanny sudah “selesai” atau belum. Aku tak melihat wajahnya. Pahaku pegal sekali, aku menyerah.
“Jean, kita pindah yuk, di tempat tidur.”
“Okay,” aku melepas.
Dengan buru-buru dia melompat ke kasur, menelentang dan kaki terbuka lebar. Aku masuk lagi. Aku memompa lagi. Naik-turun dan maju-mundur. Pinggul Jeanny bergoyang liar maju-mundur dan berputar horisontal. Sampai kurasakan dalam dekapan kencangku tubuhnya berguncang teratur. Sampai kurasakan getaran tubuhku sendiri seirama pancaran air mani.

Oh Jeanny, bagiku engkau tetap misteri.

TAMAT


About this entry