Satu Tahun Berlalu

Malam itu aku sedang berbaring di atas tempat tidurku, tapi perasaanku sedang kalut, pikiranku sudah tak menentu, sudah satu tahun berlalu semenjak aku mengenal Lucy, kini ia sedang melakukan Kerja Praktek di Malang, dan hendak menyelesaikan skripsinya.

Aku melirik ke jam dinidng di kamarku, pukul 11 lewat 6 menit.
“Huh.. huh.. huh..” nafasku terengah-engah.
Ingin rasanya aku segera terlelap dan tidur, tapi pikiran dan penisku tak dapat diajakkompromi. Selain hawa di kamarku sangat panas, ditambah pikiran-pikiran kotor yang sudah mulaimerasuk ke benakku, rasa gelisah itu terus menyerangku.
“Sudah lama aku tidak melakukannya..” pikirku, “Kenapa sekarang hal ini tiba-tiba muncul lagi dalam benakku..?”

Tak kuasa menahan gejolak jiwa dan rangsangan ini, aku beranjak turun dari atas tempat tidurku. Kudekati kulkas yang berada di sebelah meja tulisku. Kubuka dan kuambil 2 botol Lipovitan dingin dari dalamnya, segara kuminum 2 botol sekaligus. Kemudian aku terduduk di atas kasurku. Ruangan kamar kostku yang tidak begitu luas (hanya 3 x 4 meter) itu terasa amat sesak. Penisku masih sangat tegang, dan biji kemaluanku mulai berdenyut, keringatku mulai bercucuran, tubuhku menjadi Panas.
“Ah.. aku sudah tidak tahan lagi..” pikirku.

Langsung kubuka celanaku, dan kumulai memegang penisku. Aku dapat menggenggamnya hanya dengan tangan kananku. 7 cm panjangnnya dengan diameter 2,5 cm. Kumulai mengelus-elusnya, kemudian meremasnya keras-keras, ah sungguh nikmat rasanya. Tapi hatiku masih merasa risih, karena aku sudah lama sekali tidak melakukan hal semacam ini lagi. Tapi disamping itu, pikiranku yang lain sudah menerawang jauh membayangkan hal-hal yang pernah kunikmati setahun yang lalu.

Aku pun beranjak dari kasurku, sambil tetap memegang penisku aku menuju lemari pakaianku, kubuka, dan segara kuambil bra warna hitam, dan juga stocking hitam. Segara kupakai, dan aku mulai terangsang sangat hebat. Penisku sudah semakin panas, padahal belum kukocok sama sekali, baru kuelus-elus. Seluruh tubuhku juga sudah panas dan tegang. Dengan memakai bra dan stocking warna hitam kesukaanku, aku segera naik ke atas tempat tidur, tak lupa juga aku memakai Durex, karena aku tak mau air maniku membasahi stocking yang kubeli dengan mahal ini.

Segera aku berbaring. Dengan perlahan, aku mulai mengocok penisku, dan sangat perlahan aku sudah mulai merasakan otot-otot pinggangku mulai tegang. Hanya kukocok sekitar 4 menit, aku sudah tak tahan lagi. Ah.., desiran air maniku mengalir dan memuncrat keluar tertahan di Durex yang kupakai dan penisku terasa linu.

Aku masih terengah-engah. Kulihat jam lagi, ternyata sudah jam 12 kurang 10 menit. Dengan keadaan masih lemas, aku beranjak dari tempat tidurku. Kuambil air dingin dari kulkas dan kuteguk segelas.
“Ah.. segar rasanya..” kataku dalam hati.
Kemudian aku mulai berpikiran untuk melanjutkan hal ini, karena barusan aku merasa kurang puas.

Segera kubuka lemari pakaianku, kuambil t-shirt boddypress warna hitam dan rok jeans ketatku, dan segera kupakai. Saat itu aku sedang malas memakai panty, dan durex itu masih melapisi penisku yang masih setengah tegang. Kupakai sepatu favoritku yang terbuka dan dengan tali-tali yang sungguh indah, berhak 8 cm. Tak lupa kupakai wig sebahu.

Aku segera mengambil kunci mobilku, dan aku keluar dari kamar kostku, dan segera kupergi. Saat itu dalam perjalanan hatiku berdebar-debar, sedangkan penisku sudah mulai mengecil. Saat itu tujuanku hanya satu, yaitu jalan Van Deventer.

Kurang lebih 12 menit, aku telah tiba disana. Aku memelankan mobilku sambil melihat-lihat di pinggir jalan. Ketika melihat pada waria yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu orderan, tiba-tiba aku merasa mual.
“Ah.., apakah hal seperti ini yang harus kutempuh.. Aku belum pernah melakukannya dengan waria, aku hanya mengingat pengalamanku bersama Lucy saja..” pikirku.
Dan aku melihat setiap waria yang berdiri disana, tampaknya mereka sudah berumur 24 tahunan. Saat itu aku menjadi tidak berselera, karena pikirku, “Wah.. masa aku ngelakuin ini ama mereka, mana kagak ada yang muda lagi..!”

Sambil terus menjalankan mobilku dengan pelan, aku memperhatikan mereka. Sebagian dari mereka melambai-lambaikan tangan mereka ke arah mobilku, ada juga sebagian yang sedang memoles wajahnya dengan bedak, ada juga sebagian yang sedang duduk-duduk sambil merokok.

Tiba-tiba kulihat seorang waria yang nampak masih muda sekali, wajahnya pun masih tampak segar, dan tidak di-make-up terlalu menor, hanya polesan tipis dengan Lip color pink. Dia memakai rok putih selutut dan t-shirt putih ketat, dipadu dengan jaket jeans.

Segera kudekatkan mobilku ke tempat dia berdiri. Kubuka kaca jendela dan aku mulai mamandanginya. Merasa ada yang mendekati, dia pun menoleh.
Kemudian bertanya dengan pelan, “Hi.., Mba.. mau saya temenin yach..?”
Dengan masih terheran-heran, aku mengangguk. Dia pun langsung masuk ke mobilku melalu pintu samping kiri.

Setelah duduk di sampingku dia langsung bertanya, “Mau dimana Mba, disini.. atau dimana..?”
Kemudian aku memberanikan diri bertanya dan berkata, “Tunggu dulu, umurmu berapa sich..?”
Mendengar suraraku dia pun sedikit kaget, “Eh.. saya panggilnya kakak.. Mbak.. atau Mas..?” katanya.
“Kakak saja..” sahutku.
“Saya umurnya 17 tahun Kak..!”
“Wah, mengapa kerja ginian..?”
“Terpaksa Kak.., Ortu saya sudah tak ada, selama ini saya tinggal ama Cici saya, tapi sekarang Cici saya sudah menikah.. jadinya jarang ke rumah, kebanyakan ama suaminya, sedangkan sekarang saya perlu biaya buat sekolah, bentar lagi ebtanas lagi..” dia bertutur dengan polos.

“Lalu.., kamu mulai kerja gini sejak kapan..?” tanyaku.
“Ya baru seminggu sich Kak..!” sahutnya.
“Sudah dapet langganan belom..?” lanjutku.
“Yach baru kemaren aja dibooking ama mahasiswa umur 22 tahun, katanya sich dia lagi bosen ke Alketeri, jadinya kesini..” jawab dia.
“Oh iya, kenalan dulu, nama kamu siapa..?” kataku sambil menjulurkan tanganku.
“Mey li Kak..!” sahutnya.
“Aku Ronny, atau Venny juga boleh..” kataku.
Dia pun mengangguk sambil tersenyum.

“Hari ini belom dapet bookingan yach..?”
Dia pun mengangguk, segera kujalankan mobilku.
“Kuajak dia ke kamar kostku saja nih..” pikirku.

Setelah sampai, aku segera mengajaknya masuk.
“Wah.. Kakak sendirian disini..?”
“Iya.., tapi sekarang kan ada kamu..” kataku sambil melirik ke arahnya.
“Mau sekarang aja kak..?” kata dia dengan pasrahnya.
“Wah.. kamu udah makan blom..?” tanyaku.
“Udah sich tadi sore..”
“Nih kalo kamu lapar..” kataku seraya memberinya sebungkus Good Time.
“Nanti aja dech Kak, makasih, sekarang mah kita maen aja yach..!” katanya.

Dia segara berbaring di atas kasurku sambil mulai mebuka t-shirt ketatnya, dan mulai melepaskan roknya. Saat itu kulihat kakinya sungguh indah dan mulus.
“Wah.., kakimu mulus banget..!” kataku.
“Ya.., saya sudah minum pil sejak umur 15 tahun.” katanya.
“Wah.., gimana kalo saya yang di bawah..?” kataku.
“Oh, Kakak mau yang di bawah.., tapi saya nggak ahli, saya biasanya pasrah aja di bawah..” sahutnya.
“Ya, kali ini kamu aja yang di atas.., cobain aja dulu..!” kataku.

Dan segera aku berbaring berposisi 69 dengan Meyli. Aku masih memakai pakaian, sedangkan dia hanya memakai bra dan panty saya. Meyli pun segera mengangkat rok saya, dan segera penisku tegak lagi. Dia melepaskan Durex dari situ, dan kemudian dia mulai mengulum penisku. Saat itu perasaanku sudah tidak menentu. Dia dengan nikmatnya menjilati penisku, dan aku pun sudah merasa geli dan tegang.

“Ah.., aku belum beraksi..” pikirku.
Segara kutarik panty yang dia pakai, dan terlihat penisnya kecil dan tidak tegang.
“Kamu nggak ‘in’ yach..?” tanyaku.
“Wah.. susah Kak.. kayanya testoteronku ketilep.., Kakak bantuin donk..!” pintanya.
Segara aku meremas penisnya dan menariknya sambil kuelus-elus sebentar.
“Lama sekali..” pikirku.

Baru sekitar 5 menit, penis Meyli mulai tegang, dan akhirnya ereksi. Lumayan 6 cm. Saat itu aku ingin memberi kejutan padanya. Dengan menggunakan kedua tanganku, kuremas penisnya dan segera kukocok dengan sangat cepat.
“Ahh.., terus Kak.., terus..!” katanya.
“Kak.., kok nikmat sekali yach..! Belum pernah nich..!” katanya sambil masih asyik mengulum penisku.
“Mey.., yang aku juga donk..!” kataku.
“Oh iya.., bentar ya Kak..”

Dia mulai memegang penisku dengan tangannya yang lembut dan lentik serta kukunya yang rapih.
“Ah.., dia terlalu cantik dan muda untuk jadi seorang pelacur waria, sayang sekali..” pikirku.
Dan dengan gerakan yang mantap, dia mulai menggoyang-goyangkan penisku, dan megocoknya. Tak lama, hanya 4 menit air maniku sudah kemana-mana.
Aku pun berteriak, “Ah.. ah.. nggak tahan..!”
Memang aku ini kalau onani tak pernah bisa tahan lama. Dan akhirnya punyanya Meyli pun keluar. Lumayan lama, sekitar 7 menit, itu pun sudah kukocok dengan cepat dan dengan penetrasi yang baik, sampai-sampai Meyli terengah-engah.

“Hah.. hahh.. udah Kak.. kelluar.. keluar.. ” sahutnya.
“Mey.., sini donk..!”
Dia pun berbalik, kali ini kami berhadapan. Dia di atas dan aku di bawah.
“Mey.., tolong lepasin rok Kakak donk..!” pintaku.
“Oke Kak..”
Dan setelah itu, aku melepas bra-nya dan mulai meremas-remas payudaranya yang mungil.

“Ah.., Kak.. terus.. terus..! Wah nggak adil donk..!” sahutnya, “Kakak boleh anal dech..” katanya.
Dan dia pun mulai berusaha memasukkan penisku ke lubang analnya sambil aku terus-terus meremasnya. Keringat kami sudah bercucuran, dan selangkangan serta wajahku pun sudah lengket oleh air mani. Dan dengan gerakannya yang sulit dideskripsikan, dia menaik-turunkan pinggulnya, sehingga penisku yang berada di lubang analnya mulai dipenetrasi kembali. Kami sama-sama sudah lupa daratan pada saat itu. Aku pun sama-sama terengah-engah dan mengerang.

“Peran Meyli sebagai cewek sungguh bisa dibilang jempolan, dia polos dan apa adanya..” pikirku.
Dan setalah lama kami melakukan, akhirnya, “Creett.. creett.. srr..” air maniku mulai muncrat membasahi lubang anal Meyli.
“Hahh.. haah.. hahh.. aahh..” nafasku terengah-engah, begitu pula Meyli.
“Sudah ya Mey, Kakak cape nich..!”
“Iya Kak.., tapi Kakak sungguh beda lo.. Beda kalo bisanyanya Mey dibooking ama yang laen mah cuma ngelampiasin doank.., Mey nggak rasa nikmat. Tapi sama Kakak asyik banget, beda rasanya..” katanya polos.
“Ya sudah, sekarang kita tidur saja, besok kuantar ke rumahmu.., Oke..?” kataku.
Dia pun mengangguk dan segera berbaring di sampingku.

Esok paginya aku bagun duluan. Kulihat Meyli masih terlelap dengan senyuman.
“Wah aku masih memakai bra, stocking dan sepatu..” pikirku.
Saat itu aku segera ke WC untuk membersihkan diriku. Dan setelah selesai, aku segera membangunkan Meyli.
“Mey.., ayoo.., hari ini kamu sekolah nggak..?”
“Iya Kak, sekolah siang jam 12.30..”
“Ayo, kamu mandi dulu. Nich ambil aja bra ama panty yang bersih dari lemari.., yang kamu khan udah kotor dan basah..”
Dia pun mengangguk sambil mengambil dari lemariku, dan kemudian mandi.

Setelah beresm, kami pun berangkat. Dan aku mengantar ke rumahnya. Tak lupa kuberikan satu lembar seratus ribuan kepadanya.
“Wah Kak, banyak amet.. biasanya kalo yang booking sama paling noban..” katanya.
“Ya sudah, nggak apa-apa.. aku ikhlas kok..!” kataku sambil tersenyum.
“Kakak harap kita bisa terus temenan.. Oke..?”
Dia mengangguk.

Setekah turun dari mobil, dia melambaikan tangannya.
“Dadah.., makasih ya Kak.., Meyli puas and happy kemaren..”
Aku pun mengeluarkan kepalaku lewat jendala seraya berkata, “Sama-sama Mey..”
Waktu di mobilku menunjukkan 10.47 AM.
“Hm.., kasian juga dia.. harus kerja seperti itu buat hidup..”

Itulah salah satu alasan mengapa aku suka meneliti tentang kehidupan waria. Aku sendiri termasuk seorang Transvestis/Crossdress.

Kemudian aku segera ke warnet dekat kampusku, dan menuliskan kembali kisah pengalamanku bersama Meyli, dan kukirimkan ke kisahpanas.co.cc

TAMAT


About this entry