Anku – Desember 2006

Namanya Anku. Gagah tapi sedikit rapuh, merantau dari keteduhan kota kecilnya di pelosok Sumatera. Sudah 3 Tahun Anku kelana di ibukota ini. Pendidikan tingginya digeluti dengan biaya seadaanya. Keberuntungan satu-satunya ia peroleh dari pamannya dengan memberikan tempat berteduh sangat seadaanya.

Anku tidak memiliki keistimewaan, ia seperti pada umumnya. Wajah yang biasa, daya pikir cenderung menurun dan karakter berubah-ubah. Sebaliknya ia menyadari keadaan ini, sangat! Sering Anku sesali kelebihan yang tidak ia miliki layaknya orang-orang yang dikagumi.

Tante Cesty tinggal di komplek perumahan di bilangan H***** kota Jakarta. Ibu satu anak ini, bertetangga dengan paman Anku dan dikenal cukup dekat dengan tetangganya. Dengan penghasilan suaminya yang cukup membuat Tante Cesty banyak kegiatan yang sia-sia mengisi kekosongan waktunya.

Seperti hari ini Tante Cesty memanfaatkan Anku membawa belanja rumah selepas menjemput Kori di SMA ***. Selang beberapa waktu mereka terlihat asyik meneguk minuman juice diruang makan keluarga. Kori Dan Tante Cesty Ramah duduk di sofa biru bersenda gurau dengan Anak semata wayang yang mulai beranjak dewasa, Sedangkan Anku duduk di Karpet Itali bermotif Abstrak memperhatikan tingkah polah mereka.

Tante Cesty hari ini terlihat sedikit ceria dengan baju long dress semi transparent dan bercorak cerah, ditambah potongan pada lengan dan belahan pada paha membuat bersinar kulit putih tubuh rampingnya.

Berkali-kali Anku melirik ke-arah jepitan lengannya. Sisi luar buah dada dan kemulusan sela-sela lengannya berulang membuat Anku bernafas dengan berat. Tante Cesty sendiri menanggapi dengan wajar atau keadaan ini memunculkan sisi liarnya. Ukuran celana boxer yang dikenakan Anku tidak dapat menutupi sirat hatinya, hal ini membuat Anku menjadi terpojok, Karena tidak dapat menahan gelisah, Anku pamit untuk kebelakang melanjutkan perbaikan talang air yang di minta Tante Cesty kemarin lalu.

Usai makan siang Kori Pamit pergi kerumah kerabat keluarga mereka, Anku terlihat masih sibuk dengan pekerjaan dibawah sengatan matahari, Tidak berapa lama Tante Cesty meminta Anku menghentikan pekerjaannya sejenak untuk makan siang. Makan Siang ditemani Tante Cesty bukanlah yang menyenangkan bagi Anku, rasa malu dan hormat menimbulkan kejengahan pada Anku.

Tepat di sebelah Anku Tante Cesty sedang memainkan pisau membentuk lingkaran pada buah apel ranum. Topangan tangan Tante Pada meja menampakan belahan luar payudara kiri Tante Cesty, pandangan ini tak luput dari sorotan Anku. Lirikan polos Anku tertangkap di sudut mata Tante Cesty, dengan sunggingan kebanggaan Tante Cesty sedikit merubah posisi duduknya sedikit menghadap Anku dan tangan kiri letakan pada senderan bangku Anku. Namun tangan Tante Cesty masih lincah mengupas apel yang tidak akan digigit. Anku menyadari Posisi Tante Cesty memberikan pandangan yang lebih jauh menarik, tapi kenikmatan ini tidak di peroleh Anku karena rasa polos dan takut masih menjadi raja di hatinya.

“Dasar Laki-laki Munafik” teriak Anku, dalam hati tentunya.
“Akh.. Seperti apa bentuk lekukan payudara ini?” rasa penasaran menghampiri Anku.

Payudara ukuran 34b milik Tante Cesty terlihat masih menantang menghadap Anku, Tante Cesty tentunya mengerti gejolak pada diri Anku, ini menambah rasa penasaran untuk mempermainkan Anku.

“Hallo, Pak kendro! Selamat pagi, bisa disambungkan dengan Anku.” Suara diseberang sana menyahut dengan ramah.

Anku duduk di tepi kasurnya dengan rokok terselip di jari tengah. Rasa bimbing menghantuinya, baru saja Tante Cesty menelepon kerumah pamannya, meminta bantuan Anku memindahkan barang. Kegugupan Anku menghadapi Tante Cesty merupakan beban terberat untuk mengunjungi kediaman Tante, Apalagi kecurigaan keluarga pamannya akibat keseringan Anku mengunjungi tetangga mereka pada jam-jam suami Tante sedang berada diluar rumah.

“Apalagi sekarang Tante hanya ditemani Mbok Suli?” Ujar Anku.

Dengan berat Anku terlihat mengunci pagar rumah pamannya dan jalan dengan pelan ke arah rumah Tante Cesty. Masih terbayang dalam benak Anku kejadian di meja makan yang memporak-porandakan harga dirinya sebagai laki-laki, sepertinya Anku bertekad setidaknya memperoleh sesuatu dari kesempatan yang ada, untuk melepaskan mimpi buruk karena rasa penasarannya.

Tante Cesty menyambut kedatangan Anku dengan Suka cita. Seperti kemarin Tante Cesty memakai baju longdress bertali sedikit longgar dengan belahan berbentuk V, memperlihatkan belahan dada bagian depan dan sisi luarnya. Lantas menarik Anku ke kamar belakang yang jarang di gunakan. Tante Cesty menunjuk ke arah lemari bagian atas yang terdapat barang-barang tidak dipakai. Anku cukup paham maksud Tante Cesty setelah Tante Cesty Keluar untuk menyiapkan minuman segar, Anku melepas celana panjang. Karena pekerjaan yang sangat berdebu Anku memilih memakai celana boxernya. Karena Anku tidak terbiasa dengan celana dalam, sehari-hari celana boxer sebagai pengganti celana dalam yang selalu membatasi ruang geraknya.

Tidak berapa lama Tante datang membawa dua buah gelas berisi soft drink, Tante melihat Anku dengan berdiri diatas kursi berusaha memindahkan barang-barang yang lumayan berat di tengah tumpukan debu dan ampas kayu. Pandangan ini membuat panas tengkuk Tante Cesty. Bertelanjang dada dan bercelana pendek memperlihatkan imajinasi kekuatan lelaki. Ini merupakan pandangan yang menarik, karena tinggi dan besar tubuh Anku terasa berbeda bagi Tante Cesty. Sebaliknya Tante Cesty bertubuh sedikit mungil dan langsing. Hanya kemontokan payudara dan padat pinggulnya yang menciptakan kesan ramping tubuhnya menjadi sirna. Suami Tante Cesty pun tak jauh berbeda, dia hanya 10 cm lebih tinggi dari Tante Cesty dengan tubuh yang terlihat rapuh. Tidak dapat di pungkiri kondisi ini Cukup mendekati kejenuhan pada Tante Cesty.

Lama Tante Cesty berdiri termangu di depan pintu kamar, sambil memegang nampan bola matanya menelusuri tiap lekuk tubuh Anku.

“Sudah 3 bulan Aku mengenalnya, baru sekarang menyadari kokoh tubuh Anku” Ujarnya.

Pemandangan ini membuat Tante Cesty betah berlama-lama menemani Anku bekerja, dengan berpura-pura membantu Tante memandangi terus dengan sepuas-puasnya.

“Guci itu biar Tante bawa saja”, sahut Tante Cesty.

Dengan sigap ia menyambut guci mini itu dari tangan Anku. Lalu Tante Cesty berjalan dengan sedikit membungkuk melintasi celah antara Anku dengan lemari, sedetik kemudian Tante Cesty terkejut dan mukanya serasa panas, ‘Ah apa yang menerpa kepalaku tadi?’ pertanyaan bertubi menghampirinya. Tanpa disadarinya pada saat ia melintas, sesuatu di bagian celana Anku menampar bagian kepalanya, dan benda tersebut sepertinya besar dan cukup berat. Dengan rasa ingin tahu Tante ingin mencoba lagi dengan alasan ruang tempatnya berdiri cukup sempit, dengan perlahan Tante melintas seperti tadi, bedanya kali ini berjalan cukup pelan sehingga ia memiliki kesempatan untuk menebak lebih jelas, benda apa yang menyetuh kepalanya.

Dengan wajah bersemu merah Tante Cesty seperti menemukan jawaban yang dicarinya. Di lain sisi Anku masih terlihat sibuk dengan barang dan debu, keadaan dibawahnya di luar kesadarannya. 2 jam waktu yang cukup mengerjakan perintah Tante Cesty, dengan tubuh berselimut debu Anku menyusuri lorong samping kediamaan Tante Cesty, menuju kolam ikan belakang ‘tuk sejenak beristirahat ditemani segelas juice yang telah diisi ketigakalinya.

Tanpa sepengetahuan Anku Tante Cesty pergi ke kamar tidur, menenangkan dirinya. Sepertinya kejadian di kamar belakang tadi masih sangat menghantuinya. Rebahan di atas kasur berbulu angsa yang lembut belum dapat menenangkan gemuruh hatinya, mendinginkan hawa disekitar leher dan kuping juga meredakan irama nafas yang bergemuruh. Bersamaan Tante Cesty merubah posisi tidurnya, mata indah Tante menelusuri kolam ikan yang bertepatan disamping kamar tidur di batasi tembok berjendela besar dengan jarak sekitar 5 meter, ia melihat Anku duduk di gazebo teduhnya, sedang menikmati kesegaran minuman. Lama Tante memperhatikan sosok Anku, Selama Anku memikirkan kelanjutan studynya.

Anku terduduk dengan lesu telah ketiga kalinya ia terpaksa cuti dari kegiatan akademik. Anku belum menemukan jawaban memperoleh sejumlah uang untuk mengaktifkan kembali studinya. Berkali-kali ia melamar pekerjaan ada beberapa yang di jalani dengan hasil sebaik tanpa pekerjaan, mungkin tanpa relasi, modal dan skill tidak mungkin memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang layak.

Beban seperti ini acap kali membuat Anku berputus-asa dan bermalas-malasan, mungkin saat ini Anku tidak dapat memutuskan kelanjutan hidupnya esok harinya. Dengan kaki gontai Anku melangkah menuju pancuran air disebelah kolam yang biasa digunakan untuk mencuci kaki. Tapi kali ini Anku tidak memanfaatkan pancuran tersebut sebagaimana mestinya, ia hendak buang air kecil karena toilet yang tersedia di rumah ini cukup banyak namun letaknya cukup jauh dari halaman belakang tempat kolam ikan.

Masih menggunakan celana boxer kebiasaannya, memudahkan Anku mengeluarkan desakan di bawah perutnya. Seandainya ia mengetahui pancuran tersebut berada bersebelahan dengan kamar utama tempat peristirahatan Tante Cesty, tentu Anku tidak akan berani berbuat hal tersebut. Anku terlihat lega melepaskan hajat kecilnya. Pada saat bersamaan Tante Cesty masih memejamkan matanya tidak untuk tidur akan tetapi menenangkan kegelisahan hatinya, baru saja Tante merasakan keredaan ini, mata beningnya terlepas dari pejaman yang lama, menyaksikan sosok Anku dengan bertelanjang dada dan kaki yang sedikit terbuka dengan kedua tangan menggenggam batas celana yang turun setinggi paha.

Perasaan yang tadi sudah cukup tenang serasa berdebar kencang dan mengisi setiap ruang dalam tubuhnya. Hanya indera pengelihatan yang bekerja sangat sempurna untuk menterjemah tiap bentuk dari sosok di depan mukanya yang hanya berjarak 4 meter selebihnya bagian tubuh yang lain dari Tante Cesty terasa hilang. Terjawab sudah teka-teki yang tadi menghantui Tante Cesty, mungkin jawaban ini sudah saatnya tiba.

Perasaan yang baru pertama kali ini Tante rasakan terus berkembang ke arah yang tidak dapat ia terka, sampai keadaan ini mengembalikan ingatan Tante Cesty kepada keresahan yang melanda setelah kelahiran anak semata wayangnya. Kenyataan pahit yang selalu di terima Tante Cesty dari waktu ke waktu di anggap sebagai tumbal terhadap kehidupan yang makmur. Suami yang telah memenuhi kehidupan hidupnya dengan segala bentuk harta belum mampu memenuhi keinginan liarnya, persenggamaan yang dilakukan dengan berkala sangat menghimpit jiwanya, kemampuan suami sangat jauh dari kebutuhan fantasi-fantasi binalnya.

Menyadari bahwa sesungguhnya sang suami hanya melakukan tugas sebagaimana ia bertugas memenuhi kebutuhan keluarga. Sungguh Tante Cesty menikmati setiap sorotan matanya, walaupun ini belum dapat melepas dahaganya tapi serasa cukup membasahi kekeringannya. Cukup puas Tante memandang keindahaan durjana sudah terekam dalam ingatan, seperti apa bentuk kejantanan Anku.

Sangat jauh berbeda dengan benda yang pernah digenggam sebelumnya. Batangnya yang besar dan berwarna cokelat gelap, di hiasi urat-urat sebesar anak korek api menjalar keseluruh senti dari batangnya, bagaikan akar pohon beringin yang mencekeram bumi. Yang paling menyesakkan dada, bentuk kepala zakar lebih besar seakan memayungi batang kokohnya, dengan lubang yang sempit hampir membelah kepalanya. Besar keinginan Tante Cesty untuk meraba kejantanan kokoh itu, apakah tangan mungil dan halus miliknya mampu menggenggam keperkasaan benda yang di tumbuhi bulu-bulu tercukur rapi, sangat menggelitik keingin-tahuanya.

E N D


About this entry