Just For Fun With Nina

Pertama-tama saya akan memperkenalkan nama saya adalah Tomi (samaran), berumur 26 tahun, bertempat tinggal di Jakarta. Saya tertarik menuliskan kisah saya ini ke website kisahpanas.co.cc karena saya ingin membagi pengalaman saya kepada pembaca setia kisahpanas.co.cc.

Kalau menurut saya pribadi, saya merupakan pria yang biasa-biasa saja, namun entah kenapa saya bisa mengalami hal-hal yang saya ceritakan berikut ini. Saya merupakan keturunan chinese palembang dan sunda, tapi kalo ditanya soal bahasa, saya tidak bisa bahasa mandarin maupun bahasa sunda. Tinggi saya 172 cm kurang lebih, dan berat badan saya 65 kg, kurang lebih juga J. Saya memakai kacamata tipis berbingkai kuning keemasan, rambut saya saat ini dipotong pendek. Saya rasa penggambaran ini sudah cukup mengenai diri saya.

*****

Pengalaman ini baru saja terjadi kurang lebih 8 bulan lalu. Pada awalnya kami kenalan melalui chatting, kalau saya sedang online chatting, saya selalu memakai nick name yang sama yaitu co.. sex. Pada waktu itu saya memang lagi bete berat dan bermaksud untuk chatting biar dapat kawan untuk bisa ditelponin dan saya mengklik hampir semua nick yang saya pikir adalah wanita. Setelah sekian lama, akhirnya ada beberapa balasan dari mereka. Seperti yang saya sudah duga, beberapa dari mereka ternyata cuman iseng saja dan tidak ada kelanjutan dari chat tersebut, baru kemudian ada satu orang yang ternyata terus mereply jawaban dari saya. Sampai akhirnya kami bertukaran nomor telepon.

Malamnya, saya kemudian menelepon dia, ternyata dia orangnya cukup nyambung diajak bicara dan suaranya juga membuat saya suka. Sedikit petunjuk dari saya, apabila saya mendapat kawan dari chatting, saya lebih menyukai wanita yang suaranya berat dan bukan yang suaranya lembut. Biasanya perempuan dengan suara yang agak berat lebih menarik. (itu menurut pengalaman saya loh, J) Nama wanita itu adalah Nina (samaran) bertempat tinggal di daerah jakarta selatan. Hari-hari berikutnya kami sering berhubungan lewat telepon dan SMS. Selama di telepon ini kami pernah melakukan yang namanya phonesex, ternyata dia memiliki imajinasi yang tinggi.

Setelah sekian lama berhubungan lewat telepon, saya membuat janji dengan Nina. Mulanya dia tidak ingin bertemu karena ‘malu’ katanya. Namun setelah saya bujuk dengan berbagai macam cara akhirnya dapat saya temukan kelemahannya dan akhirnya dia menyetujui untuk bertemu dengan saya. Waktu sudah ditetapkan yaitu, hari selasa jam 3 di blok M plaza di lantai bawah di sebuah resto. Waktu itu saya datang lebih awal karena dia belum keluar kuliah (dia anak kuliahan di jakarta selatan). Akhirnya saya tunggu saja sambil makan dan melihat-lihat sekeliling menduga-duga jangan-jangan wanita yang saya lihat adalah Nina. Ternyata belum muncul juga padahal saya sudah menunggu 45 menit dalam resto tersebut. Akhirnya saya jalan-jalan saja sambil sesekali menelepon ke HP-nya. Setelah 45 menit akhirnya dia sampai di resto tadi. Langsung saja saya hampiri dia (sebelumnya dia memberitahu ciri-cirinya) dan menyapanya.

“Halo, hm.., Nina, ya?”,
“Iya..”
“Saya Tomi” sambil berkata saya pun langsung duduk didepannya.

Seperti yang telah kami janjikan sebelumnya, kami bertemu sendiri-sendiri tanpa teman. Ternyata Nina adalah wanita yang cukup menarik, ukuran tubuhnya ideal meskipun dia pendek, tapi saya suka dengan wanita yang tubuhnya ideal (siapa yang tidak suka?). Tingginya sekitar 160 cm dan beratnya 50 kg. Warna kulitnya coklat, namun yang paling saya suka adalah tawa dan senyumnya yang manis, benar-benar membuat pesona. Sebenarnya hal yang membuat dia mau bertemu adalah ‘tantangan’. Waktu di telepon saya tidak sengaja menantang dia untuk melakukan ‘ciuman’ di tempat umum seperti di karaoke atau bioskop, ternyata Nina adalah tergolong wanita yang suka menghadapi tantangan macam apapun, makanya begitu saya ajukan tantangan tersebut, ia merasa tertantang dan menerimanya.

Setelah berbasa basi sedikit maka kami keluar dari resto tersebut dan pergi ke bioskop di plaza itu dan memilih film yang tidak begitu bagus serta membeli tiket ketika film hampir diputar. Selama menunggu film diputar, kami banyak bercakap-cakap mengenai apa saja, ternyata Nina memang orang yang enak diajak ngobrol dan bercanda, bukan hanya di telepon saja enaknya.. Akhirnya kami memesan tempat duduk deretan ke 6 dari depan disebelah pojok kanan bioskop. Ternyata yang nonton film itu hanya beberapa orang saja dan mereka terpencar dalam gedung bioskop itu. Ketika film mulai diputar sekitar 20 menit, Nina mulai bicara,

“Hmm.. mana nih tantangan yang kamu bilang di telepon?”
“Oh.. masih mau dilanjutin nih?” jawabku.
“Mana coba buktinya?” jawab Nina.

Begitu dia menjawab seperti itu, kontan saja saya langsung meraba-raba tubuhnya. Mula-mula saya meraba tangannya dan berlanjut ke kupingnya. Kupingnya saya raba dengan lembut dan tangan saya mulai menyentuh pipi dan bibirnya. Tanpa disangka, dia mulai mengulum jari-jari saya. Terus terang saja baru kali ini ada wanita yang mengulum jari-jari saya. Kemudian secara bergantian pula dia megelus badan saya dan saya pun mengulum jari-jarinya.

Melihat keadaan bioskop yang hanya beberapa orang saja, saya memberanikan diri untuk menjilati kupingnya. Uuuh.. ternyata dia makin bernapsu dan mulai mencium bibir saya. Tidak hanya disitu, saya mulai menjamah sekitar wilayah dadanya. Saya meremas-remas dadanya dan mengangkat bajunya sampai sebatas ketiak dan membuka BH-nya. Begitu BH sudah terbuka, saya langsung menjilati payudaranya. Ukuran buah dadanya tidak terlalu besar, tapi begitu saya mulai menjilat putingnya.. dia mulai mendesah.

“Nina.. aku ingin menghisap puting kamu. Jangan teriak ya..”
“Iya Tom..”, bisiknya
Sayapun mulai menghisap-hisap putingnya sambil sesekali menggigit putingnya. Meskipun sudah dibilangin, tetep saja dia sempet berteriak tertahan.
“Ssstt..”, kataku.

Aku melihat mukanya dan ternyata dia sedang mengigit-gigit bibirnya menahan perasaan yang sedang bergejolak dalam dirinya. Melihat dia seperti itu, saya menjadi semakin bernapsu menjilat, menggigit dan menghisap putingnya. Dia memang tidak berteriak tapi akibatnya badannya bergoyang-goyang tidak karuan dan perutnya bergerak-gerak naik turun. Selama sekitar 10 menit saya menjilat-jilat dadanya akhirnya saya berhenti sebentar, memegang tangannya dan menaruhnya di pangkal paha saya. Ternyata dia langsung mengerti dan mulai meraba-raba selangkangan saya. Diberikan rangsangan seperti itu, kontan saja kontol saya jadi keras, namun posisinya masih menghadap kebawah.

Sekitar 5 menit dia meraba-raba kontol saya dari luar celana bahan yang saya pakai. Akhirnya saya buka ritsleting celana saya dan membiarkan tangannya dengan bebas meraba-raba kontol saya. Tangannya mulai masuk ke dalam celana dalam saya dan dia memindahkan posisi kontol saya yang tadinya menghadap ke bawah sekarang menghadap ke atas. Saya sendiri sudah tidak tahan dan membuka celana dalam saya.

Tampaknya dia begitu semangat memainkan kontol saya itu. Dia mengusap-usap dengan lembut dari pangkal sampai ujungnya. Begitu dia mengusap ujung kontol saya,.. uihh. Benar-benar nikmat banget. Kemudian Nina juga mulai tengkurap menghadap paha saya, dan tak berapa lama kemudian saya mulai merasakan geli-geli di sekitar wilayah pusar ke bawah. Ternyata dia sedang menjilati rambut di kontol saya dan melanjutinya dengan menjilat kontol saya dan mulai mengulumnya. Wah.. rasanya saat itu benar-benar tidak terlukiskan. Rasa geli benar-benar meraja saat itu disamping juga rasa tegang di kontol saya. Nina memang pandai sekali dalam melakukan oral.

Sayapun tidak tinggal diam, tangan saya menjelajah terus di bagian selangkangan Nina. Saya membuka celana jeans-nya dan menyusupkan tangan saya lebih dalam dan mencoba menjamah lubang kewanitaannya. Dapat! Begitu saya menyentuhnya, Nina mulai tidak bisa diam lagi seakan-akan tempat duduk itu panas sekali padahal kita ada di ruangan ber-ac. Jari-jari tangan saya menancap lembut di lubang kewanitaannya dan mengelus-elusnya secara perlahan, kadang-kadang kencang.

Reaksi yang ditimbulkan dari elusan itu tidak terlalu banyak, dia hanya bisa mengeluarkan suara bergumam karena mulutnya sedang mengulum kontol saya. Akhirnya saya sudah makin tidak tahan dan.. ahh.. sayapun mengeluarkan air mani tanpa ada yang menghalangi. Nina kemudian mengambil tissue dalam tas-nya dan membersihkan cairan yang keluar.

“Kamu hebat Nina..”, kata saya sambil tersenyum.
“Kamu cepet banget keluarnya nih”, jawabnya.
“Iya nih, kamu belum apa-apa ya? Ntar kita lanjutkan ya, mau nggak?”
“Mau lanjutin dimana?”
“Bagaimana kalau kita karaoke?”
“Dimana?”
“Di..”
“Ayo aja, asal pulangnya jangan malam-malam ya”
“Oke, tenang saja. Aku antar sampe rumah deh.”
Nina pun tersenyum. Alamak.. senyumnya itu benar-benar deh sangat indah.

Sisa waktu berikutnya kami habiskan dengan menonton film dan tetap sambil mengelus-elus dan sesekali saling berciuman. Setelah film selesai, kami mampir sebentar untuk makan malam di salah satu resto yang ada di blok M plaza itu. Kamipun asik berbincang-bincang mengenai diri kami masing-masing, baru kemudian berangkat ke karaoke yang berada di jakarta utara. Tempat karaoke tersebut memang cukup jauh dari blok M plaza, namun karena saya mengendarai motor maka agak lebih cepat. Kami berangkat sekitar jam 6 sore dan sampai di tempat karaoke itu sekitar jam 6.30. Beruntung sekali ternyata masih ada room untuk 2 orang, maka dengan segera kami masuk ruangan.

Selama 15 menit pertama kami sibuk cari-cari lagu untuk diputarkan. Dalam karaoke itu memiliki sistem dengan menggunakan remote dan melihat setumpuk buku judul lagu yang memiliki kode angka. Kami juga memesan minuman, setelah lagu saya rasa cukup banyak, maka saya mulai mengunci pintu dan mulai duduk merangkul Nina. Saya mulai dengan menjilati kupingnya. Saya menjilatinya dengan lembut sambil kadang-kadang menggigit kupingnya. Diperlakukan seperti itu, Nina ternyata mulai merasa ‘panas’ yang kian memuncak dan diapun mulai memeluk saya dengan erat. Ciuman dan jilatan saya berlanjut ke bagian lehernya. Saya agak menggigit lehernya dengan bibir saya.

“Hmm.. hh..”, desahan Nina agak tertahan.
Lalu bibir saya mulai beradu dengan bibir Nina, kamipun mulai berciuman. Ciuman kami itu kadang-kadang lembut dan kadang-kadang agak liar. Sambil berciuman, tangan sayapun tidak ketinggalan mulai meremas-remas dada Nina. Kali ini saya membuka baju kaosnya dan BH-nya. Selanjutnya ciuman saya beralih ke buah dadanya, mulanya saya ciumin putingnya dan saya kulum-kulum.
“Ahh.., oh yessh, Tom.. gigit putingnya..”, demikian katanya.
Mendengar dia meminta itu, sayapun langsung menggigit putingnya.
“Aahh.. ohh.. shiitt”
“Ouggh.. oh my.. yeshh”

Ternyata rangsangan yang ditimbulkan dari gigitan saya diputingnya itu benar-benar membuat Nina merasakan nikmat. Di karaoke itu dia mendesah sekeras-kerasnya. Saya sendiri mulai merasa was-was jangan-jangan suaranya kedengaran sampai keluar meskipun ruangan karaoke biasanya kedap suara dan suara dari TV bisa dibilang kencang banget. Saya katakan ke Nina supaya jangan terlalu keras teriaknya, maka teriakannya pun sudah tidak sekeras awal tadi. Sayapun kemudian melanjutkan kegiatan saya mengigit-gigit putingnya dengan bernapsu sambil tangan saya menjelajah ke daerah selangkangannya.

Tangan kanan saya mulai membuka celana jeansnya dan celana dalamnya. Kemudian tangan saya mulai mengusap-usap bulu-bulu yang ada disekitar selangkangannya, kadang-kadang juga saya tarik-tarik. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Nina hanya mendesah dan menggelinjang tidak karuan. Saya perhatikan perutnya naik turun tidak keruan, begitu saya perhatikan wajahnya.. Hmm.. benar-benar wajah yang membuatku jadi bertambah nafsu. Wajah Nina saat itu penuh dengan nafsu yang membara, wajah yang pasrah, wajah yang menginginkan hal yang lebih. Pokoknya, wajah itu membuat saya makin bernapsu dengan dirinya.

“Nina.. aku masukin yah..?”
“Hmm.. iya Tom..”
Saya lalu mulai membuka selangkangannya lebar-lebar dan membimbing ‘adik’ saya ke permukaan memeknya. Saya masih memainkan kepala kontol saya di bibir memeknya dan perlahan-lahan saya mulai masukan kontol saya..
“Ahh..”
“Sshh.. ohh..”, desahan Nina sangat membuat saya tambah bergairah.
Zleebb.. kontol saya masukkan dengan tiba-tiba.
“Akkhh.. Toomm..”, Nina berteriak dengan menengadahkan kepalanya merasakan kontol saya yang masuk ke dalam memeknya itu.

Kejadian selanjutnya tentu anda semua sudah mengetahuinya, saya dan Nina mencoba untuk memanfaatkan waktu yang ada secara maksimal dengan mengeluarkan hasrat yang terpendam. Kami sudah kurang perduli dengan suara-suara kami yang mungkin terdengar keluar. Kami berusaha untuk tidak mengeluarkan suara yang terlalu keras, tapi terkadang kelepasan juga. Akhirnya setelah beberapa lama kami saling cium, saling raba, saling ‘pompa’, kamipun mencapai puncak dari semua kegiatan kami tersebut. Benar-benar perasaan yang tidak mudah untuk dilukiskan.

“Nina, terima kasih ya, aku senang bisa melakukannya dengan kamu”, kataku sambil tersenyum dan mencium pipinya.
“Aku juga senang kok Tom, ini pengalamanku yang pertama melakukan hal ini dengan temen. Apalagi temen dari chatting”

Akhirnya dengan waktu yang tersisa kami habiskan dengan menyanyi-nyanyi sampai petugas tagihan datang dan kamipun keluar dari ruangan. Waktu masih belum pukul 9 malam, dan kami masih berjalan-jalan sebentar keliling kota untuk mencari tempat makan yang enak, setelah itu sayapun mengantar Nina pulang ke rumahnya. Saya hanya menurunkannya di depan pintu rumahnya dan kamipun berciuman perpisahan disana. Sebenarnya yang saya maksud perpisahan disini adalah untuk malam itu, karena hari-hari selanjutnya kami masih terus berhubungan bahkan kami sempat pacaran, namun karena perbedaan agama terpaksa kami harus berpisah.

*****

Kenangan bersama Nina ini merupakan kenangan yang indah, meskipun hanya berlangsung sebentar namun memberikan kesan yang mendalam. Ingin rasanya merasakan kembali saat-saat pertama kami bertemu namun saya sadar bahwa itu sudah tidak mungkin lagi.

E N D


About this entry