Di Balik Kain Hitam

Kali ini, aku akan menguraikan cerita tentang seorang pemuda yang bertemu dengan seseorang yang menurut perkiraannya, seharusnya orang itu sudah meninggal. Namun, mengapa orang itu masih bisa berdiri di hadapannya dan berbicara dengannya?

Selain cerita ini, aku juga sudah menulis 2 cerita yang lainnya yaitu “Penis Hijau dan Penis Putih” yang menceritakan tentang lika-liku kehidupan dua bersaudara dalam mempertahankan kehidupannya juga “Misteri Sebuah Lubang” yang menceritakan tentang seorang wanita yang selalu melihat permainan seks yang sama di kamar sebelah melalui sebuah lubang.

*****

Julianto mencari-cari bukunya yang hilang dengan kepanikan yang tinggi. Dia mengobrak-abrik seluruh laci yang ada dalam kamarnya. Dia berkeringat dingin. Dia sendiri tidak bisa membayangkan apa jadinya nanti seandainya buku porno itu jatuh ke tangan ibunya. Dia sangat takut. Tiga tahun yang lalu dia juga pernah tertangkap guru karena membawa VCD porno ke sekolah tetapi, untung baginya karena dia bisa menyembunyikan masalah itu dari ibunya. Kali ini dia sungguh tidak bisa lolos lagi.

“Ke mana buku itu, Julianto Hongaris?” tanyanya kepada dirinya sendiri.
“Mengapa kau bisa begitu bodoh dalam menyimpan barang-barang pribadimu?”

Julianto membolak-balikkan badannya menerka-nerka kapan dia membaca buku itu terakhir kali. Tetapi sia-sia saja dia mencari dan memeras otaknya karena dia tidak ingat lagi di mana dia meletakkan buku itu terakhir kalinya.

“Semoga saja buku itu tidak jatuh ke tangan Ibu,” Julianto berdoa dalam hati.

Julianto pun menyerah. Dia pun merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian, timbul niat dalam dirinya untuk masturbasi. Perlahan-lahan dia mulai menanggalkan pakaiannya. Tampaklah badannya yang besar berotot dibalut oleh singlet yang berwarna putih. Dia berjalan ke depan cermin dan dia melihat sosok seseorang yang kekar berotot yang berdiri dengan tegak di sana. Entah kenapa dia harus melihat dirinya yang telanjang dulu di depan cermin baru dia bisa bermasturbasi dengan kenikmatan yang tinggi.

Setelah dia melepaskan celana panjang dan celana dalamnya yang berwarna coklat hitam, dia memulai aksinya dengan dibantu oleh sebotol minyak makan. Dia ingin mengambil body lotion miliknya yang berada dalam kamar mandi. Namun, gairahnya yang sudah mencapai titik puncak di kepala tidak memungkinkan dirinya untuk berjalan ke kamar mandi walau hanya berjarak beberapa senti. Terlintas di benaknya untuk mempergunakan minyak makan yang ada di piring bekas dia menikmati goreng pisang tadi.

“Aah..!!” perlahan-lahan tetapi pasti kenikmatan mulai datang. Aliran listrik itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Oh..!! Sshh..”

Julianto pun mempercepat gerakan tangannya untuk mendapatkan kenikmatan yang betul-betul diinginkannya. Akhirnya dia bisa memperolehnya setelah dia melalui perjuangan yang sangat panjang sekali. Namun, sebelum dia memuntahkan spermanya ke depan cermin dia menghentikan dulu gerakannya dan menikmati puncak kenikmatan yang menderanya tanpa berejakulasi.

“Wah! Perasaan seperti ini sangat nikmat. Lebih nikmat lagi apabila dibandingkan dengan orgasme yang benar-benar dibarengi dengan ejakulasi. Aku sudah latihan dengan sangat tekun sehingga aku bisa menikmati orgasme seperti ini,” kata Julianto kepada dirinya sendiri.
“Aarghkk..” suara Julianto berubah menjadi seperti suara lembu tatkala dia sudah benar-benar tidak tahan dan menyemburkan air maninya ke depan cermin.

Setelah kenikmatan itu berangsur-angsur hilang, tubuhnya pun melemas kembali. Dia cepat-cepat mengenakan celana dalamnya kembali sebelum dia berbaring di atas tempat tidur. Pria itu pun memejamkan matanya mengistirahatkan dirinya setelah melalui permainan seks yang sangat panjang. Tiba-tiba saja, kira-kira 15 menit setelah dia jatuh tertidur dia merasakan ada yang meremas-remas penisnya yang terbalut celana dalam. Dia tidak membuka matanya dan melihat apa yang terjadi melainkan dia menikmati tangan yang meremas-remas penisnya itu.

Tangan itu makin lama makin nakal. Dia menarik penis Julianto dan memainkannya dengan jari-jari jemarinya yang gemulai. Julianto pun mengerang-erang penuh rasa nikmat di atas tempat tidur. Dia merasakan mulut orang itu mulai menyapa ujung penisnya yang berdiri tegak seperti rudal AS yang sudah siap diterbangkan ke antariksa.

“Jangan berhenti! Aku ingin lebih.. Oh..! Aku sudah ingin keluar,” jerit Julianto halus.

Orang itu berganti posisi setelah dia puas dengan permainannya yang mengulum-ngulumg penis Julianto. Dia memasukkan penis Julianto ke dalam liang vaginanya dan menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan dengan kecepatan tinggi. Badan Julianto berjingkrak-jingkrak karena dia tak mampu mengendalikan kenikmatan itu. Orang itu menarik tangan Julianto dan meletakkan tangan Julianto di payudaranya yang menggembung sementara dia memulai gerakan maju mundur yang membuat penis Julianto semakin menegang dan membesar. Tentu saja Julianto tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia memainkan puting susu wanita itu dan sesekali dia menjilat payudara si wanita sampai wanita itu menjerit dengan kenikmatan yang memuncak.

“Arrghkk..” teriak Julianto disertai dengan suaranya yang mendesis tajam karena air maninya tumpah ruah di dalam liang vagina si wanita. Crot! Crot! Crot! Karena air maninya keluar terlalu banyak, ada beberapa tetes yang keluar dan menodai tempat tidur.

Namun, si wanita tidak menghentikan gerakan maju mundurnya. Dia meneruskan gerakan itu sampai batang penis Julianto menjadi lelah dan lemah. Julianto ingin membuka matanya dan melihat siapa wanita yang sedang berhubungan seks dengannya sekarang ini. Tapi, kelelahannya sungguh membuat dia tidak sanggup melakukan apa pun termasuk membuka mara. Dia hanya bisa pasrah batang penisnya dijadikan sebagai sebuah samurai pelepas nafsu. Julianto sampai orgasme beberapa kali. Orgasmenya yang terakhir kali yaitu di mulut si wanita yang mengulum-ngulum batang penisnya.

Wanita itu pun melepaskannya. Tubuh Julianto pun terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Setelah wanita itu memakaikan kembali celana dalamnya, wanita itu pun membuka pintu kamar Julianto dan keluar. Julianto mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk membuka matanya. Dia sempat melihat wajah teman tidurnya itu sebelum teman tidurnya itu keluar dari kamar. Dia tersentak kaget begitu melihat wajah itu.

“Wajah itu.. Wajah itu.. Mengingatkan aku akan sesuatu. Seharusnya, wanita itu sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Mengapa dia bisa datang ke kamarku dan berhubungan seks denganku? Mengapa dia bisa masuk ke rumah ini? Siapa dia? Mengapa aku merasa aku sangat mengenalnya? Rasanya aku pernah melihat wajah wanita itu di sebuah buku,” kata Julianto dalam hati. Beberapa saat kemudian dia pun jatuh ke dalam alam mimpi.

*****

Julianto berjalan masuk ke dalam sekolahnya. Dengan santai dia melangkah ke dalam kelas. Dia meletakkan tasnya dan dia berjalan ke kamar mandi. Pelajaran memang belum dimulai tetapi sekolahnya sudah dipenuhi oleh murid-murid SMU sepertinya. Dia merasa sesak kencing dan dia ingin membuang semua air seni itu. Dia berjalan ke kamar mandi tetapi pintu kamar mandi itu ditutup dan dia merasa aneh mengapa pintu itu bisa ditutup. Biasanya pintu itu tidak pernah ditutup. Dia membuka pintu. Setelah berjalan beberapa langkah dia berhenti.

“Aargghkk..!! Air vaginaku akan segera menyembur, Sayang,” teriak murid wanita itu karena dia sudah mencapai orgasme setelah beberapa kali ‘ditusuk’ oleh si murid pria yang hanya mengenakan celana abu-abu sampai ke paha.
“Aku juga ingin keluar, Sayang. Ohh..”

Si pria langsung mengeluarkan batang kemaluannya dari dalam liang vagina si wanita dan mengocok-ngocok penisnya itu dengan penuh rasa nikmat. Crot! Crot! Crot! Air maninya berhamburan keluar mengotori wajah si wanita.

“Ternyata kalian yang mengambil bukuku ya?” kata Julianto karena dia melihat buku itu diletakkan di atas wastafel yang panjang.
“Aku sangat cemas kemarin. Aku mencarinya ke sana ke sini tetapi aku tidak bisa menemukannya. Kalau kalian yang mengambil sih sebenarnya aku tidak keberatan”
“Maafkan kami, Julianto! Kami ingin sekali mencoba beberapa gaya yang ada dalam bukumu. Kami sangat puas dengan buku itu. Kami merasakan kenikmatan yang tiada tara,” kata si wanita sambil mulai mengenakan pakaiannya.
“Eh! Buku apa ini?” tanya Julianto sambil mengambil buku yang lain yang juga diletakkan di atas wastafel panjang itu.
“Itu adalah buku yang menceritakan tentang kutukan dari seorang wanita penyihir,” kata si pria yang mulai mengancingkan kemejanya.
“Penyihir wanita itu sangat jahat. Dia suka mengambil hawa pemuda dan pemudi seperti kita. Dia bisa berubah menjadi pria ataupun wanita. Apakah kau pernah mendengarnya? Buku ini baru saja kami beli tadi pagi”

Julianto merasa kaki dan badannya menjadi lemas. Sekarang dia mengingat wajah wanita yang kemarin. Sekarang dia mengingat di mana dia pernah melihat wajah wanita itu. Buku itu langsung terlepas dari dalam genggaman tangannya. Dia membuka celananya dan cepat-cepat menanggalkan celana dalamnya. Bau busuk mulai menyerang hidungnya. Dalam sekejap seluruh ruangan itu dipenuhi oleh bau busuk yang menyengat hidung.

“Astaga! Busuk sekali! Mengapa bisa begitu busuk? Dari mana datangnya bau busuk ini?” jerit si wanita.

Dia ingin membuka pintu dan segera berlari keluar dari ruangan itu tetapi pintu kamar itu benar-benar tidak bisa dibuka.

“Pintunya tidak bisa dibuka. Kita harus cepat keluar. Kita bisa mati kehabisan napas di sini,” teriak si pria.

Batang penis Julianto mulai membusuk. Kutukan itu bekerja dengan cara yang begitu mengerikan. Dalam waktu yang sangat singkat Julianto roboh ke lantai dan tubuhnya dikerumuni oleh belatung-belatung kecil yang menjijikkan. Kedua orang yang juga berada dalam kamar mandi itu menjerit ketakutan melihat kondisinya. Si wanita mulai memegang lehernya karena oksigen yang ada dalam kamar mandi itu mulai habis. Lama-kelamaan dua orang itu pun roboh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Keduanya berbaring dengan tenang ditemani oleh belatung-belatung kecil dan bau busuk yang sangat menyengat.

“Kalian berdua juga terkena kutukan karena kalian juga berada dalam kamar mandi ini sewaktu kutukan ini bekerja. Kutukan ini tidak mengenal orang ataupun waktu. Kegelapan akan segera menyelimuti. Semuanya akan hancur dalam kenikmatan seks yang mematikan. Ha.. Ha..!!” terdengar suara seorang wanita yang bergema.

Muncul selembar kain hitam dan kain hitam itu jatuh di atas mayat Julianto yang membusuk.

E N D


About this entry