Cerita Tentang Yang ‘Pro’

“Buat semua yang udah pada pro dalam hal gaet-menggaet cewe ampe urusan ke ranjang. gua minta nasehatnya donk. Dari cari tipe2 cewe yg bisa digituin ampe mulainya. Maklum gua anak kemaren sore nih, thx u ya.”

Begitu message yang aku baca di salah satu forum,

Aku kagum, dengan semangat memanfaatkan intelegensia untuk hal seperti itu. Aku benar kagum saat membacanya di forum, dan tergelitik untuk menjawabnya.
“Cewe yang bisa digituin?”
Weleh, semua ya tentu saja bisa nak. Semua dari mereka punya “V” (minjam juga istilah dari forum). Bahkan sapi juga bisa, cuma seandainya kalian kurang selera. Kasihlah sedikit bedak dan lipstick.

Mungkin kalimat yang tepat adalah “cewe yang mau digituin”. Nah, kalau untuk pertanyaan ini, jawabannya juga sangat menyenangkan. Begitu menyenangkan sampai akhirnya kutulis cerita ini. Karena jawabannya adalah “semua cewe mau.” Hanya saja mereka memberikan banyak syarat untuk itu.

Duh..ada yang syaratnya banyak banget. Yang paling bikin BeTe adalah jawaban, “Married dulu baru ML.” Tapi ada juga yang baru ketemu, cengar-cengir..terus dia bilang “Yukk..” Dan golongan ketiga adalah mereka yang berada diantaranya. Golongan yang memiliki daerah pertempuran yang paling luas. Banyak petualang hidup dan mati disana..Hhuehuehu..

Bagi sebagian cowo, syarat itu membuat mereka tertantang untuk jadi petualang cinta. Kebanggaan sebagai petualang kadang membutakan. Mereka berakting. Membangun satu karakter “Hero” jadi kebutuhan yang kadang sangat mendesak. Di saat yang lain mungkin diperlukan juga satu karakter yang menimbulkan rasa simpati. Kalau perlu rendahkan diri, biarlah dikasihani. Kadang pula bersikap “garang.” Dan semua itu hanya untuk mendapatkan kenyamanan di genital mereka. Tentu saja trik ini tidak cuma berlaku untuk cowo, tapi juga untuk cewe. Katakanlah saling mengadu ilmu, penuh intrik.

Berhasilnya satu karakter, sangat sulit dikatakan. Perbedaannya sangatlah tipis. Bahkan lebih tipis dari condom latex, dan lebih sensitif. Maka sebenarnya, jarang ada yang benar-benar berhasil melakonkannya. Dan umumnya, jika kenikmatan seks itu didapatkan juga, biasanya oleh faktor lain. Tapi perasaan “sukses” itu toh tetap melekat. Mungkin petualang di Bali mengistilahkannya sebagai keberuntungan faktor “full moon.” So I heard, benar begitu?

“Seperti apa sih tipe cowo yang kamu mau?” Biasanya, pertanyaannya seperti itu. Kemudian setelah cewe itu men-describe-kan tipenya, maka..
“Wuuss..!!” jadilah dia seperti yang diinginkan si cewe. Instan, dan memang seinstan mi instan. Semua tergantung selera. Prosesnya juga sama, harus dimasak dan dihidangkan panas-panas. Misalnya ini,

“Samaa..!! Aku juga” Padahal mungkin si cewe baru saja mengatakan kalau dia sangat menyukai Datuk Maringgi. Dan mulailah mereka membahas kekejaman Sang Datuk yang begitu menawan. Membuatnya seperti mi instan tadi, masak dan panas. Sampai akhirnya,
“Kamu bener, suka Datuk Maringgi?” Si cewe mungkin bertanya ragu.
“Uh, jelass..he has a style” Dia menjawab yakin.
“Bangssaatt..!! Bunglon kamu.”
“Lhoo??” Matanya mungkin jadi berkunang-kunang, otaknya tiba-tiba bebal, tak tahu dimana letak kesalahannya.
“Siapa yang suka sama bandot yang maksa orang kayak gitu..”
“Pastii kamu..kamu juga ngak tahu malu kayak dia gitu..ya..iyaa..ayo ngaakuu..” Pada saat itu, wajahnya sudah sepucat Datuk Maringgi. Dan untuk kali itu mungkin dia benar menghayati perannya sampai sedalam-dalamnya.

Huhueuhehe, seperti kata pepatah, “You win some, you lose some.”

Satu karakter yang dibangun seperti juga satu produk, tetap membutuhkan market. Hanya saja, tadi itu adalah karakter yang dibangun sesuai dengan permintaan. Lain halnya dengan karakter yang dibangun berdasarkan khayalan. Yang membedakan adalah, karakter yang dibangun berdasarkan khayalan (pretender) itu biasanya berfungsi untuk menutupi kekurangannya. Selain dengan sendirinya juga sangat efektif untuk mengikis habis rasa minder. Dan Jim Carey, dengan topeng “mask”nya nyengir mendengar ini, sambil dia berteriak,

“YOU..PATHETIC LOSER..!!”

“Benar begitu?” Duh..bisa dimarahin orang satu forum neh. Sebelum kita saling mencakar, coba kita berpikir jernih.
“Kenapa korbanmu itu hanya menempati satu malam atau bahkan satu jam dalam hidupmu?”
Aku katakan dengan pasti, kalau korban itu “just another loser.” Dan kamu tidak menginginkan seorang loser lainnya dalam hidupmu, setelah dirimu. (duh ini mah makin jadi, pake kata pengganti “kamu” lagi).

“Huehuheue..”

Aku pikir, berakting seumur hidup akan sangat melelahkan. “Not worth it,” orang bilang. Berakting bisa jadi sangat menarik dalam masa masa perburuan. Selesaikah akting itu setelah masa perburuan berakhir? Tentu saja sangat tergantung. Jika anda teruskan hubungan itu, atau jika anda begitu devoted to her. Then you’re in a deep shit. Aku katakan, “Selamat, anda menjadi aktor gratis seumur hidup.” Plus sedikit kabar buruk, “Anda akan jadi aktor yang buruk dan menghancurkan keseluruhan hubungan itu suatu hari.”

Menyadari tentang ‘another loser in your life’ atau ‘being an actor for the rest of your life’ itulah yang menghentikan hubungan itu dalam semalam.

Ok.. you’ll give an excuse that “it’s fun.”
And I say, “Let’s just have fun with the loser only.”

Bagaimana dengan itu? Terbukti ayam memang hidup berkelompok dengan jenisnya. Ribut, saat mencari makan. Seorang loser biasanya memang selalu akan besar hanya di lingkungannya. Dan nggak kemana mana. Kita lihat lagi contoh yang lain ya.:þ

“Benar kamu menyukaiku? Jadi..ceritanya kita pacaran ya?” Seorang cowo menggoda cewenya.
“Kalau kamu gimana? Ngak nyesel pacaran sama aku?” Si cewe ngak mau kalah soal memancing pasangannya.
“Ngaakk..!” Si cowo menjawab cepat. Tentu saja, karena cewe itu nan beautiful and so cute.

Akhirnya kedua insan itu mulai kurang ajar deh, dengan merasa seolah dunia ini milik mereka. Masing-masing dengan rencananya. Si cewe mungkin ingin memanfaatkan sebisa mungkin sang kekasih, dan dia tersenyum manis dengan bayangan yang menari di kepalanya. Sedangkan si cowo? Tahulah kita, heuhuehuheu.. pasti ingin meniduri si cewe. Dan dia juga tersenyum mesra, seolah-olah mereka sudah berada di motel.

“Boleh cium ngak? Kan kita udah pacaran..” Secantik dia, tentu si cowo jadi ngak sabar.
“Ngak ah, paling sedikit mesti sebulan tuh, baru boleh” Cewe itu ngeri, liat kumis yang tajam-tajam di atas bibir kehitaman kebanyakan nikotin itu.
“Jadi..?” cuma itu yang keluar. Selebihnya si cowo cuma melongo, dan bayangan tentang hari-hari sepi itu menari-nari. Karena memang jawaban yang kemudian muncul adalah,
“Paling cuma boleh pegang-pegang tangan aja. Kita kan baru penjajakan.” Alasan si cewe yang ngak boleh ditawar.
“Waak..!!”

Dua hari kemudian, dengan ogah-ogahan ditelpon jua kekasihnya itu.
“Kamu ada dimana?” tanya cewe itu menyambut cowo yang sudah diakui jadi pacar itu.
“Aku di ITC roxy, napa?”
“Wah, kebetulan. Beliin aku voucher mentari dong. Aku punya habis neh, nanti ketemu aku ganti deh.” Smart, karena umumnya cowo terlalu gengsi untuk menagih kepada cewe. Apalagi dengan status pacar. Small stuff, bagus untuk penjajakan.
Sekali begitu, dan akhirnya menjadi tanggungan rutin. Dua hari sekali, pulsa habis dan perlu diisi. Padahal pulsa itu tidak pernah dipakai untuk menelpon si cowo.

Seminggu kemudian,
“Temani aku beli TV yuk, aku perlu TV di kamarku. Tapi sebelumnya jemput temanku dulu ya. Mereka tahu kita pacaran, jadi kena deh aku ditodong untuk traktir mereka makan-makan dan karaoke.”

Kalian tahu? Apakah mungkin anda hanya akan berdiri jauh dari tempat kekasih anda memilih TV. Memandang jauh ke langit-langit seolah mengagumi langit-langit yang begitu lebar dan begitu putih? Tentu tidak kan. Dia akan menyeretmu dengan kemesraan yang luar biasa, dan memelukkan lengan anda pada ranum payudaranya sampai anda menarik dompet anda serta merelakan kartu kredit untuk digesek.

Apakah kalian juga tahu berapa jumlah temannya itu? Dan siapa yang sebenarnya kena todong dalam kasus ini? Berani bertaruh lebih dari setengah lusin. Dan semuanya akan dijejalkannya dalam mobil anda seperti bus untuk anak sekolah. Dimana anda menjemputnya, disitu pula anda harus menurunkannya nanti. Satu persatu.

“Sayang..!!” Heh ini kata yang biasanya dipakai oleh petualang itu. Makanya cewekku benci kalau dipanggil dengan kata pasaran itu. Yaa..honey?
“Kenapa..? Bisa kan? Pleaasee.. aku kan udah janji sama mereka.” Wah keluar deh jurusnya. Si cowo mungkin gerah karena pacarnya sangat agresif dan selalu take control dalam permainan yang satu ini. Akhirnya kudu pake ilmu pamungkas, it’s now or bankrupt.
“Sebenarnya gini, tadinya aku mau ajak kamu ke apartemen yang aku sewa khusus buat kamu. Sudah lengkap dengan TV yang kamu mau kok.” Cowo itu memberikan umpan. Bener atau ngak ya apartemennya?
“Oh..oh..” Ganti cewe yang melongo. Makan ngak ya umpan ini. Bola mata indahnya menari-nari. Lesung pipit yang sebelumnya tidak ada, tiba-tiba juga hadir di wajahnya.
“Iya, aku pikir daripada kita pacaran dengan cara gini. Mendingan aku piara aja deh kamunya.”
Si cowo nekad tembak langsung. Nyatanya semua biaya yang harus ditanggung memang sudah dipastikan akan seberat menyimpan seorang bini muda.
“Hahh..!! Kamu pikir aku cewe apaan?” Kheki banget si cewe digituin sama cowonya. Walaupun mesti berakhir disana nantinya. Emangnya ngak bisa pake bahasa yang lebih halus?

Hhuehuehuhue, Nah lho?

Kalau sudah begini aku yang penulis juga kudu habisin waktu sebentar buat mikir. Tadinya cerita ini mengalir asik aja. Ketik terus, sampai disini aku perlu rokok deh.

Ok, ini yang aku sebut intrik tadi. Sementara masih sambil ngebul, aku sudah ambil ancang ancang untuk komentar lagi. Enak jadi komentator ya, gampang. Toh memang semua manusia punya bakat alami untuk yang satu ini. Buktinya komentar bisa kita dapatkan dimana saja, dan itu GRATIS.

Huehueheuheu lagi.

Mungkin cerita barusan bisa sedikit happy ending, kalau si cewe memakan umpan terakhir itu. Toh sudah sangat jelas kalau dalam situasi seperti itu adalah “take and give.” Bisa juga “buying-selling” ala Wall Street, mungkin juga versi dewan DPR dagang “win-win”. Tapi dasar ABG, mungkin ilmu ekonomi yang dipelajarinya minggu lalu di sekolah menengah itu ingin diterapkan mentah-mentah sebelum sempat matang. Maka keinginan si cewe adalah,

“Dengan sedikit pengorbanan, mendapatkan sebanyak mungkin” Wah, susah nak!! Dengan situasi ekonomi yang kacau seperti sekarang ini. Bisnis ngak bisa hutang lagi. Sistem yang tersisa adalah cash and carry. Itu juga udah ngak ambil untung.

Cinta seminggu itu berakhir juga. Dan kabar baiknya, kita bisa tinggal lagi di dunia yang sebelumnya milik mereka.

Oh..ya, kalau bicara tentang cash and carry, aku otomatis jadi ingat juga daerah Mangga Besar. Nah kalau ini jelas bukannya penuh intrik lagi. Tapi ini adalah hubungan simbiosis mutualisme. Dan di arena ini, si cowo disebut “the Stud”. Nah lho? Bukannya istilah mereka adalah “tikus air”?

Jelas hubungan yang satu ini adalah hubungan yang paling meriah. Karena semuanya bermain disini. Love, Sex, Lust, Money, Passion dan AIDS. Yang satu ini emang asli mirip novel Jacky Collins tentang Las Vegas. Ceritanya begini.

Ketika aku punya niatan untuk menyewa apartemen tidak jauh dari lingkungan itu, pemiliknya bertemu denganku di lobby. Seorang Tante seksi, genit dan berbedak tebal, tidak menarik. Kenapa begitu? Karena di lobby yang sama ada sekitar lima orang cewe cantik, seksi dan horny.
Lho kok tahu mereka horny ya?:þ

“Buseett, mahal amat. Bukannya daerah sini tipe studio cuma sekitar tujuh juta-an?” tanyaku. Sedangkan dia membuka harga lebih dari 2 kali lipatnya.
“Iya maklum, tempat nyimpan bini muda. Dan yang sewa juga boss-boss kok,” sambil matanya menggerayangiku. Di matanya, jelas aku ini tidak mirip seorang boss. Tapi toh, dia tersenyum juga. Ada ide apa dia?

“Ngak mahal deh, coba kamu lihat cewe-cewe yang di depan sana. Mereka semua cewe simpanan, kalau bosan di kamar ya mereka kumpul di sini.”

Dia diam sejenak, kasih kesempatan mataku yang memang terus fokus ke sana sejak tadi. Tampaknya juga, dia sabar menunggu sampai mataku menjadi merah oleh nafsu. Kemudian dengan senyum lebar dia mulai lagi merayu. Lebih rileks, karena dipikirnya aku sudah terbius.

“Ssstt.. Aku kasih tahu ya, umumnya selain mereka disimpan oleh boss, mereka juga balik menyimpan cowo-cowo muda lho. Pilihannya tentu saja anak muda yang tinggal di apartemen ini juga. Lebih praktis.” Duh.. lihai tante ini mojokin aku.
“Biasaa.. mereka kan masih muda. Jadi ya perlu juga tenaga muda.” Kali ini dia cekikikan, lama dan panjang, mungkin mengenang masa mudanya.

“Lho..?” mulutku seperti huruf O, membayangkan kebenaran pemikiran itu. Selama ini boss-boss tua itu menikmati kemudaan mereka, dan pada gilirannya mereka tentu lebih berhak menikmati kemudaan mereka sendiri.

“Dijamin deh, ngak sampai seminggu kamu udah jadi rebutan di sini.” Kali ini sambil menarik-narik tanganku, supaya cepat keluarin fulus ng’kali.

Wah.. terus terang aku memang terbius oleh cewe-cewe yang seenaknya mondar mandir dengan pakaian tidurnya yang memamerkan jelas tiap bentuk payudara pemiliknya. Tentu saja kalau aku lebih kreatif menggeser sedikit saja sudut pandangku, maka akan kelihatan pula putingnya. Hitam.. Kalian masih ingat, iklan shampoo yang katanya akan kelihatan lebih hitam jika dibandingkan dengan yang lebih terang. Iya, karena daster satinnya warna broken white. Maka memang putingnya nampak hitam di mataku. Hanya saja tidak berkilau.

Luar biaasa..!! Aku godek-godek, sementara tante centil itu sangat beruntung, tidak perlu cape-cape merayuku untuk segera menyerahkan uang tanda jadi. Karena kerlingan genit ke lima cewe itu sudah mewakilinya.

Rasanya sih mungkin cuma lima menit aku memelototi mereka, tapi apakah bukan satu jam? Kok si Tante sampai ketiduran di sofa ya? Aku cuma nyengir, puas juga dengan pelayanan dari bagian pemasaran yang alami itu. Mungkin keputusan memang sudah kuambil, dan tante itu menang.

Hingga, tiba-tiba terdengar keributan di sudut tempat lift. Beberapa satpam bersiaga menonton, hanya menonton. Sudah terbiasa nampaknya dengan keributan seperti itu. Dan seorang cowo muda berlari keluar dari sudut tempat orang berkerumun itu, melewati lobby tanpa sehelai pakaianpun. Tidak begitu jelas, mungkin hanya dengan GT-man sewarna dengan kulit. Karena tidak ada benda yang mirip lonceng berdentang-dentang saat dia lari dengan kecepatan bagaikan angin itu.

“Ada apa pak?” tanyaku hati hati pada satpam. Masih menyimpan kagum dengan kecepatan larinya anak muda tadi.
“Ah, biasalah. Paling-paling ketahuan waktu lagi gaulin simpanan orang.” Jawabannya enteng dan sok tahu.

Nah lho.. aku bengong. Kemudian melirik ke sofa, tempat tante itu masih tersenyum dalam tidurnya. Bermimpi dia, tentang aku yang menyerahkan segepok uang tanda jadi sewanya. Cuma bermimpi.

“Hueheuhue.. itu kisah nyata. Asli banget, tapi jangan ada yang minta info ya tentang apartemen itu.”

Karena terlanjur tahu banyak, (duh seandainya dulu aku tutup mata, tutup telinga) tentu sekarang hatiku tidak diracuni dengan praktek semacam cerita-cerita di atas. Aku mungkin akan lebih tulus dalam memberi dan menerima. Juga tidak sampai terbit cerita berjudul “Jealous Guy” itu. Teracuni atau tidak, aku memang sudah mengatakannya. “I love you for what you are.” *sambil nengok kiri-kanan, siapa tahu ada yang melotot*

“Huehuehuhe..”

Setiap orang membutuhkan sesuatu dari seseorang. Tapi kalau kamu katakan, bahwa kamu ingin mencapai puncak kariermu, lantas aku bisa berpikir kalau kamu tidak lagi membutuhkan apapun dariku. Jangan-jangan mungkin nanti aku yang ngutang sama kamu. Apalagi yang bisa aku tawarkan? You’re on your way to the top. Padahal aku hanya ingin memenuhi syarat untuk masuk ke hatimu. Seperti dalam bayanganku, aku berkata.

“Kalau kita melakukannya nanti, I mean make love:þ. Maka itu adalah bentuk ketulusan kita. Dan juga untuk Dante jr yang bakal lahir nanti.”

“Dante jr? Bisa jadi alasan ngak ya?”
Neh..semua cowo juga punya sperma. Mungkin ada cebong merk “Aryo”, merk “Didi.” Lantas apa bagusnya Sperma merk “Dante” yang tanpa kemasan dari departemen manapun, itu juga masih dalam tabungnya.

Seperti beberapa contoh cerita di atas. Banyak pemikiran yang kadang kalau ditelusuri ada benarnya, juga pemikiran yang bodoh, egois, dan tentu saja konyol, seperti tentang sperma barusan. Karena seharusnya itu berdasarkan kepada dengan siapa kita akan menjalani hidup ini.

Begitulah contoh pendekatan yang tulus, nggak hasil juga. Karena untuk yang satu ini lebih membutuhkan kesabaran. Sama sekali bukan sesuatu yang instan. Semua yang worth to do, memang ngak pernah gampang. Dan hasil terbaik selalu datang pada mereka yang sabar. Huehuhhe..

TAMAT


About this entry