Galuh Gadisku

Sinopsis: Seperti pungguk merindukan bulan. Begitulah, Cahyo sangat mencintai Galuh, tapi Galuh terlalu mahal untuk digapai. Sementara itu pemuda lain malah bisa mencuri hati dan tubuh Galuh, sekaligus menghancurkan keberanian yang dibangunnya dengan susah payah. Bisakah Cahyo mewujudkan impiannya?

Semua orang di sini tahu aku menyukainya. Dan semua orang mencemoohku. Katanya sih, gara-gara aku ini pengecut. Tidak berani mengatakan perasaanku padanya. Tapi, apakah aku salah? Aku kan orang yang perhitungan. Bagaimana coba kalau dia menolakku? Bagaimana kalau dia mengatakan, “Sudahlah, kita berteman saja.” Mau di mana kutaruh wajahku? Di lipatan ketiak? Di pantat? Yang benar saja dong. Okelah, aku pengecut. Tapi itu urusanku. Bukan urusan mereka. Lagipula aku sudah cukup puas dengan bisa memandangnya. Walau hanya dari kejauhan. Dan aku percaya satu hal, aku kelak akan bisa mendapatkannya.

One

Seperti biasa, malam minggu itu aku sudah siap sedia dengan dua gelas pop mie, satu termos air panas, dan dua botol Sprite. Kutekan pedal gas mobilku, perlahan menelusuri trotoar, mencari posisi yang selalu kugunakan bila saat-saat itu tiba. Kulirik jam tanganku, seharusnya saat ini sudah dimulai. Dan benar juga. Segera kutegakkan tubuhku ketika melihat Galuh keluar dari rumah. Sebentar lagi, pikirku dalam hati.

Satu, dua, dan..tiga.
Sebuah mobil terlihat menikung di kejauhan memasuki jalan tempatku berada. Dengan sebal kutatap mobil Panther itu sampai mobil itu berhenti di depan rumah Galuh. Yak, lihatlah pangeran kita melangkah turun dari kuda besinya. Dan ini juga saat-saat paling menggairahkan. Kulihat Galuh berlari dari teras dan menghampiri pemuda itu. Gadis itu terlihat jauh lebih menawan malam ini dengan baju ketat you can see dan celana pendek yang dikenakannya. Kudesah nafasku dalam-dalam saat melihat Galuh memeluk pemuda itu. Darahku berdesir dari tengkuk sampai ke kemaluanku yang mendadak menegang. Kubuka reitsleting celanaku dan mengeluarkan batang penisku yang sudah menegang, tak ingin kulewatkan sedikitpun lekuk tubuh gadis itu. Kugesekkan penisku, memijatnya dan mengeluh sendiri. Sakit dan nikmat. Uratku menegang, kutahan ujung kulit penisku yang belum disunat untuk mencegah spermaku mengotori dashboard. Tepat ketika Galuh menggandeng pemuda itu masuk ke dalam rumah.

Masih terengah, kuraih tissue di jok belakang dan menarik kulit penisku, membiarkan sperma itu mengental di atas permukaan tissue. Kurasakan kenikmatan itu merasuki seluruh pori-pori tubuhku. Ahh, nikmat sekali, pikirku dalam hati. Kubuang tissue itu lewat jendela dan meraih termos air panas di sebelahku.

Galuh tertawa. Gadis itu cantik sekali. Kusuapkan lagi mie yang masih hangat itu ke dalam mulutku. Dalam pandanganku, pemuda yang duduk di sebelah gadis itu bermetamorfosa menjadi diriku, tapi tentu saja tanpa jerawat batu dan kaca mata tebal. Galuh sesekali mengecup pipi pemuda itu. Aku bisa merasakannya. Bibir gadis itu lembut dan basah. Dan penisku kembali menegang. Cepat-cepat kuletakkan gelas pop mie itu di atas dashboard dan meraih kembali batang penisku. Sejenak kemudian bayangan-bayangan mesum kembali menari di otakku. Bintangnya: Cahyo dan Galuh. Main gaya doggie style. Ah, uh, ah. Enaknya, Mak.

Two

“Sinting kamu,” ucap Tutur untuk yang kesekian ribu kalinya selama tiga bulan ini.
“Terserah, mau bilang apa,” ucapku seraya menyeruput kembali teh hangat di depanku.
Tutur terkekeh dan melanjutkan ejekannya, “Lalu sampai kapan kamu mau bermimpi tentang Galuh?”
Dengan sebal kutatap wajahnya, “Sampai mati mungkin.”
Lagi-lagi Tutur terkekeh menyebalkan, “Speak of the devil.”
Kupalingkan wajahku dan memang, Galuh membuka pintu kantin, menoleh ke kanan dan ke kiri lalu melangkah masuk. Dengan berdebar kupandangi gadis itu dan gerak-geriknya. Tutur mengejutkanku dengan menyenggol rusukku, “Ayo, Bung. Tunggu apa lagi?”
“Nenekmu,” ucapku ketus.
Aku lebih suka mengamati Galuh yang sekarang sudah tertawa-tawa bersama teman-temannya daripada meladeni omongan Tutur yang berusaha memanas-manasiku.
“Pathetic,” kudengar Tutur mentertawaiku, “sudah, aku mau kuliah dulu. Jangan masturbasi di kantin.”
“Anjing!” umpatku. Tapi Tutur sudah keluar dengan seringai masih di wajahnya. Kembali kuperhatikan Galuh di kejauhan. Darahku berdesir lagi. Buah dada gadis itu begitu jelas, lekukan itu, pinggangnya yang ramping. Galuh mendesah di atasku, menggerakkan pahanya naik dan turun. Gadis itu terengah dan mendesah sampai air liur menetes dari sudut bibirnya, persis di anime-anime Jepang yang hiperbolik itu.

“Cahyo..uhh..ahh..” Tanpa sadar penisku sudah berdiri tegak, sampai-sampai aku berusaha menutupinya dengan menumpangkan sebelah kakiku di atas kakiku yang lain. Mendadak gadis itu menolehkan wajahnya dan menatapku. Sisa tawa masih tampak di bibirnya yang kemerahan. Rasa terkejutku langsung sirna ketika gadis itu memalingkan kepalanya dengan segera ke arah teman-temannya dan kembali tertawa-tawa. Rasa-rasanya tawa itu untukku. Dengan wajah merah kuhabiskan teh panas di depanku dan bergegas berdiri. Penisku sudah kembali lemas setelah mendengar tawa itu. Menyedihkan.

Three

“Halo, bisa bicara dengan Galuh?”
“Ya, saya sendiri. Ini siapa?”
Ah, Galuh. Kubayangkan dia tanpa busana, mengangkat gagang telepon sambil memegangi kemaluannya yang basah. Kuraba batang penisku yang telanjang dan mengeras, “Aku ingin mendengar suaramu.”
“Ini siapa?” suara itu terdengar ketus.
“Aku penggemarmu.”
“Ini subuh, tahu.” Dan telepon itu langsung ditutup. Dengan menyeringai kuletakkan gagang telepon dan menekan remote VCD. Gambar-gambar porno itu langsung menyita perhatianku. Kutarik penisku pelan-pelan, berusaha menyesuaikan iramanya dengan gerakan pinggul pria bule di TV. Galuh, aku mencintaimu. Cinta mati padamu. Dan Galuh mendesah, mengerang, ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama pinggulku. Pahanya ditumpangkan ke punggungku sementara jemarinya kasar mencengkeram rambut dan tengkukku.

“Cahyo.. terus.. terus..,” begitu erangannya mengiang di telingaku. Kugerakkan pinggulku semakin cepat, gadis itu menggelinjang hebat di bawahku, payudaranya yang padat bergerak naik turun. Dari sudut matanya kulihat air mata mengalir. “Ach, Galuh,” desahku tanpa dapat kutahan. Kugerakkan terus pinggulku, menggesek dinding kemaluannya yang basah. Erangan demi erangan, dan kukeluarkan cairan spermaku ke dalam liang kemaluannya. Tubuhku mengejang dan melemas beberapa saat kemudian. Kuraih tissue di sebelahku dan membersihkan perut telanjangku yang berlumuran sperma. Tersenyum puas kupejamkan mataku dan terlelap. Bermimpi tidur bersama Galuh dalam pelukanku. Indah nian.

Four

Minggu pagi itu aku sudah berdandan di depan kaca. Kusisiri poni rambutku yang jatuh di kening, dengan hati-hati kurapikan belahan tengahnya. Kulihat wajahku di depan cermin. Sudah tampan, pikirku puas lalu melangkah ke luar kamar. Hari ini, bukan, lebih tepatnya pagi ini aku sudah mengambil satu keputusan yang berani. Aku akan datang ke rumah Galuh. Aku akan mengajaknya berkenalan, berpacaran, lalu bercinta. Hahaha, tertawaku dalam hati. Lalu bagaimana dengan pemuda Panther itu? Masa bodo, ah. Aku kan naik BMW, mana mungkin aku kalah. Bukankah kata orang harta bisa membeli cinta?

Jadi tepat pukul sembilan aku sudah meluncur di jalanan. Kusiulkan beberapa lagu penambah semangat. Kuperhatikan kendaraan-kendaraan yang lalu-lalang di sebelahku. Dengan perasaan bangga kutatap satu-satu wajah penumpangnya. Lalu dengan penuh semangat aku berteriak dari dalam mobil seolah mereka bisa mendengarku, “Hoi, hari ini aku akan memburu cintaku!!” Dan mereka semua tetap saja tidak memandang ke arahku. Biarkan saja. Akan aku tunjukkan pada mereka bahwa aku bukan seorang pengecut lagi. Aku sudah jadi seorang pemberani.

Tapi Panther yang diparkir di sisi trotoar itu menghancurkan harapanku. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa ada di sini pagi ini? Bukankah seharusnya pemuda itu menyibukkan dirinya dengan lapangan basketnya, seperti info-info yang sering kudengar dari penyelidikanku? Lalu, sedang apa ia di sini? Kuulang-ulang lagi pertanyaan itu dalam hatiku. Mendadak perasaan gusar mengusikku. Dengan berang kulangkahkan kakiku turun dan mengetuk pintu pagar. Satu kali, dua kali, masih tidak ada jawaban. Kubuka pintu pagar yang memang tak dikunci itu dan melangkah masuk menuju teras yang sudah kukenal betul suasananya. Tentu saja, karena setiap malam minggu aku selalu menyaksikan setting yang sama. Kuhampiri pintu depan dan kuketukkan kunci mobil ke pintu itu. Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali. Tetap tidak ada jawaban. Kegusaranku semakin bertambah. Kulangkahkan kakiku mengelilingi kebun dan memandangi jendela demi jendela.Sampai kudengar erangan itu.

Ah, masa!?
Kudekatkan diriku ke salah satu jendela dan mencoba memandang dari sela kain korden. Dan betapa terkejutku saat menyaksikan pemandangan itu. Kulihat pemuda itu sedang menindih tubuh telanjang bulat Galuh yang terengah dengan mata terpejam di bawah tubuhnya yang juga telanjang. Pinggul pemuda itu bergerak maju mundur seperti di film-film blue yang sering kulihat di rumah. Bangsat! Mataku sejenak menjadi nanar. Wajah pemuda itu terlihat penuh kenikmatan saat menggoyangkan pinggulnya. Sayup-sayup kudengar erangan dan desahan mereka diiringi derit tempat tidur. Sinting! Tidak! Semua ini mimpi! Kuremas lenganku dengan kuku-kukuku, dan terasa sakit. Ini bukan mimpi, Galuh, gadis yang selama ini kucintai dengan segenap jiwa ragaku, bercinta dengan pemuda itu. Tidaakk!! Kurasakan emosiku mencapai ubun-ubun. Semua jadi serba salah.

Five

Kupandang sekelilingku, dan kularikan kakiku lalu meraih potongan pagar yang tergeletak di rerumputan itu. Kuayunkan langkahku menuju pintu depan dan menggedor pintu itu sekuat tenaga. Berulang-ulang, sampai terdengar suara pintu dibuka. tanpa pikir panjang kudorong pintu itu ke dalam. Terdengar suara tubuh terjatuh dan teriakan, “Hei!” Tapi mataku sudah gelap, kulihat pemuda itu masih berusaha merapikan bajunya. Langsung saja kuayunkan potongan pagar itu ke kepalanya. Suara gedebuk terdengar saat tubuh pemuda itu terjatuh ke lantai dengan kepala tertancap paku yang ternyata ada di sisi potongan pagar yang kuhantamkan. Darah mulai mengalir. Kulihat Galuh memandang tanpa berkedip di lantai. Dan sebelum gadis itu sempat berteriak kuayunkan kakiku menendang wajahnya. Gadis itu terjengkang, menggeliat sejenak sebelum terdiam. Kubungkukkan tubuhku dan memegangi kepala gadis itu, “Ya Tuhan, apa yang sudah kuperbuat padanya.”

Dengan panik kutepuk pipi gadis itu, berusaha membuatnya tersadar. Tapi gadis itu sudah benar-benar kehilangan kesadarannya akibat tendanganku yang keras tadi. Kuletakkan tubuh gadis itu di atas lantai dan merangkak mundur sambil ketakutan. Aku masih berusaha menenangkan diriku sendiri saat kulihat tatapan pemuda itu kosong menatapku. Emosiku kembali memuncak. Kuangkat tubuhku berdiri dan meraih potongan pagar yang masih menancap itu, menariknya hingga terlepas dari kepala si pemuda. Dengan beringas kupukulkan lagi potongan pagar itu ke wajahnya. Berulang-ulang, sampai darah berceceran ke celanaku. Tersenyum kupuas saat melihat wajahnya yang nyaris tak berbentuk lagi. Kulemparkan potongan pagar itu ke lantai dengan nafas terengah. Kulihat Galuh masih tergeletak di lantai dengan sisi kiri wajah yang mulai membiru. Kududukkan tubuhku di sebelah gadis itu, menatap wajahnya dan mulai menangis.

“Galuh, jangan mati. Aku masih ingin bersama denganmu.” Tapi gadis itu tetap memejamkan matanya. Kutundukkan kepalaku dan terisak di pipinya, “Galuh, Galuh.” Tak disengaja telapak tanganku menyentuh payudaranya. kembali kurasakan darahku berdesir saat menyentuh daging kenyal itu.

Kuangkat kepalaku.
Now or never.
Dengan jemari bergetar kuangkat kaus oblong yang dikenakan gadis itu. Sedikit demi sedikit, dan air liurku keluar saat melihat gadis itu sama sekali belum sempat mengenakan bra-nya. Kuangkat baju itu sampai ke dagunya dan memandangi kedua payudara di hadapanku dengan terpesona. “Indah sekali,” desahku saat memandang tonjolan kenyal itu. Kuraba dengan hati-hati payudaranya, memutar lalu sedikit meremas. Ah, betapa kurindukan saat-saat ini. Dan kini aku sudah memilikinya. Kuangkat baju gadis itu melewati kepalanya. Kini gadis itu sudah telanjang. Belum. Kutarik celana pendek gadis itu melewati pahanya, betisnya yang mulus. Kuraba permukaan celana dalamnya yang berwarna coklat krem. Tak sabar lagi kutarik celana dalam itu hingga terlepas. Terkesiap saat kulihat kemaluannya yang ditutupi bulu-bulu halus. Tidak kasar dan lebat seperti yang sering kulihat di film-film porno. Yang ini luar biasa. tanpa sadar kutelan ludahku sendiri. Inilah saatnya.

Six

Kuangkat tubuhku dan menutup pintu depan. Lalu kuhampiri lagi Galuh, dan mulai membuka seluruh pakaian yang kukenakan. Kutundukkan kepalaku dan mencium bibir gadis itu, lembut. Kuulurkan lidahku dan menggerayangi langit-langit rahangnya. Penisku sudah benar-benar menegang, apalagi saat menyentuh permukaan paha gadis itu. Kuangkat tubuhku ke atas tubuh gadis itu, perlahan-lahan kuturunkan tubuhku hingga seluruh permukaan kulit dadaku bisa merasakan dadanya yang kenyal. Dengan gemetar penuh kenikmatan kubuka kedua paha gadis itu dan menggesekkan penisku di permukaan liang kemaluannya. “Ahh,” desahku beberapa saat kemudian. Kujilati leher gadis itu, sesekali menggigitnya dengan masih menggesekkan kemaluanku.

“Aku akan memilikimu,” bisikku di telinganya lalu menarik pinggulku. Kupegangi batang penisku dan menekan ujungnya kesana kemari sampai penisku melesak masuk. Perasaan hangat yang baru pertama kali kurasakan itu membuat seluruh pori-pori tubuhku terbuka. Liang itu terasa sesak, tapi tidak terlalu sesak hingga tak dapat ditembus. Mungkin karena Galuh belum sempat membersihkannya tadi. Kugerakkan pinggulku ke depan dan ke belakang penuh kenikmatan. Kugigiti ujung payudara gadis itu bernafsu. Kuangkat lengan gadis itu dan menjilati ketiaknya yang putih bersih. Terengah tak dapat kutahan lagi ejakulasiku setelah beberapa kali menekan dan menarik. Otot-otot penisku menegang dan menyemburkan sperma di dalam liang kemaluannya. Pinggulku terasa pegal tapi otakku melayang. inikah yang dinamakan kenikmatan bercinta? Kutarik penisku keluar dan memandangi kemaluan gadis itu yang sudah membentuk bolongan berdiameter satu sentimeter. Kurasakan keringat mengalir di dadaku. Beberapa saat kemudian ketakutan mulai menjalari sarafku. Apa yang harus kulakukan kini? Mendadak aku menjadi panik. Segera kukenakan kembali seluruh pakaianku dan mulai berpikir.

Seven

Dengan pandangan liar aku berusaha mencari apa yang bisa dijadikan alasan. Sampai aku teringat akan sebuah adegan pembunuhan yang pernah kusaksikan di salah satu film action. Bergegas kucari ruang dapur. Kuraih pisau daging di atas wastafel dan kembali menuju ruang tamu. Dengan mata terpejam kutusukkan pisau itu ke lambung Galuh. Mendadak gadis itu tersentak dan membuka matanya. “Kamu..hkk..” Dengan rasa kaget setengah mati kutekan lagi pisau itu dalam-dalam. tubuh gadis itu berkelojotan sejenak sebelum terdiam untuk selamanya. Kuseka peluh di wajahku dan kutarik pisau itu keluar. Darah mulai tergenang di mana-mana. Dengan hati-hati kulompati genangan darah itu dan menuju mayat si pemuda. Kuletakkan gagang pisau itu di tangannya dan perlahan kugenggamkan jemari pemuda itu di gagang pisau. Beres sudah. Kulangkahkan kakiku menuju pintu depan dan membukanya. Sebelum menutupnya kembali, kulihat sekeliling ruangan, memastikan tak ada jejak yang tertinggal. Setelah beberapa saat kututup pintu itu dan berlari keluar pagar. Dengan senyum puas kularikan mobilku pulang.

Eight

“Kamu sudah baca koran?” Tutur bertanya padaku dengan wajah tegang keesokan harinya di kantin.
Kutundukkan kepalaku dan mulai menangis, “Tolong jangan ungkit hal itu.”
Tutur memegangi pundakku dan mencoba menghiburku, “Kamu sudah tahu? Tenang saja, polisi akan menangkap pelakunya lambat laun.”
Pelakunya? Apa maksudnya?
“Pelakunya?” tanyaku dengan heran.
“Loh, kamu bagaimana sih? Bukankah menurut keterangan visum, ceceran sperma itu bukan milik si pemuda? Lagipula ada beberapa sidik jari orang asing di alat pemukul dan daun pintu.”Aku langsung merasakan hembusan angin dingin di tengkukku. Sperma itu. Spermaku. Sidik jari itu. Mereka akan melacaknya.

Dan di sudut kantin kulihat seorang gadis telanjang dengan wajah kiri membiru dan mata memutih menyeringai padaku. Darah mengalir dari perutnya sampai menggenangi lantai. Bibirnya sedikit naik dan membuka, memperlihatkan deretan gigi yang putih. Air liur menetes dari sudut bibirnya, bening lalu berubah kemerahan.

“Jangan.. jangan..!!”
Dan teriakan itu terus kukeluarkan setiap malam sebelum jatuh pingsan, hanya supaya gadis menyeringai itu tidak melangkah lebih dekat dengan darahnya yang menceceri lantai. Setiap malam. Sampai akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri hidupku dengan racun tikus seminggu semenjak kejadian itu berlalu.

TAMAT


About this entry