Kenangan Cilegon

Kisah ini adalah kisah nyata yang memang menghiasi kisah petualangan saya. Saya adalah seorang mahasiswa yang berada di kota industri di daerah Jawa paling barat, di Cilegon. Kota yang sangat panas dimana harga-harga kebutuhan sangat tinggi. Hari-hariku aku lalui dengan segala aktifitas yang membuat konyol diriku sendiri. Pagi sampai siang kuliah, sore nongkrong, malam keluyuran ke tempat-tempat keramaian. Kalau tidak jalan-jalan ke Ramayana paling-paling main bilyard ke **** (edited) atau ke LM.

Aku sering maain bilyard ke ***** (edited), tetapi kalau tidak paling-paling hanya nongkrong lihat orang-orang pada main bilyard. Hingga sampai aku kenal seorang waitress bernama Lastri (samaran) orangnya berbadan montok dengan ukuran payudara 36B. Aku memang orangnya tidak begitu memperhatikan gerak-gerik seseorang, sebab aku orangnya kaku terhadap orang-orang yang belum aku kenal. Waitress ini bikin tingkah hingga memang aku terpancing olehnya, lirikan-lirikan matanya membikin jantung deg-degan dengan cara dia duduk yang sengaja memperlihatkan bongkahan paha mulusnya. Aku mencoba santai dengan duduk relaks sambil menikmati rokok putihku di bangku kayu di tengah arena tersebut.

Ketika dia sedang istirahat (tamunya disuruh menghitung skor sendiri), dia menuju ke arahku lalu duduk di sebelahku yang memang bangkunya sempit. Sambil tersenyum aku sapa dia,
“Lho kok tidak ngitung skor Mbak? entar tamunya marah lho..” sapaku.
“Ah.. biarin Mas, aku khan juga butuh istirahat, capek Mas seharian tidak tidur..” jawabnya.
“lho kok tidak tidur kenapa? Kelahi sama Mas-nya yaa..?” pancingku, untuk mengetahui seluk beluk dan latar belakangnya.
“Iya Mas..” jawab dia.

Ternyata dia sudah berkeluarga dengan beberapa anak, tetapi keluarganya kurang harmonis, sering uring-uringan. Hingga dia jenuh untuk berada di rumah. Wah, kalau ini mudah (bisikku dalam hati untuk bisa menggaetnya), aku coba mengorek tentang keluarganya yang memang berantakan. Si cowok menganggap dia terlalu dingin dan si cewek berontak karena sering dilecehkan.

Aku merasa sebagai pahlawan kesiangan, datang dengan muka pahlawan untuk membangun keruntuhan hati seorang wanita yang memang butuh seseorang untuk melampiaskan. Tapi aku tidak mau peduli, aku lakukan sesuai dengan hati nuraniku yang memang sejak pertama sudah menaruh hati pada kemolekan tubuhnya. Aku buru-buru pamit padanya, hal ini sengaja aku lakukan untuk menambah penasarannya padaku.

Keesokan harinya aku datang lagi sepulang kuliah, lagi-lagi dia menyambutku dengan senyum manisnya. Lalu kami berbincang lagi, aku coba pancing dia untuk ke hal yang lebih jorok, sedikit menyindir tentang kehidupan sex-nya. Bola mataku sesekali melirik ke arah payudaranya yang menggantung dan merangsang untuk disentuh, pikiranku sudah tidak karuan untuk bisa berpikir jernih. Rupanya dia juga mengerti akan gerakan bola mataku yang selalu memandang ke arah dadanya, tapi dia bukannya menutupi tapi malah seperti selalu menggoyang-goyangkan payudaranya yang terbungkus dengan pakaian ketatnya, sambil sesekali menjatuhkan spidolnya lalu membungkuk untuk mengambilnya. Hal itu tentu saja memberikan lampu hijau kepadaku untuk bersemangat mengencaninya.

Malam makin larut dan hasrat telah terkumpul memenuhi otak kotorku. Aku banyak ngobrol dengannya perihal kehidupan sex-nya, ternyata dia tidak sedikitpun mendapat kepuasan dari suaminya, baginya melayani suaminya adalah melayani sebuah mesin sex saja, tanpa foreplay langsung tancap.

“Pulang jam berapa nanti..?” tanyaku.
“Jam satu, kenapa kok Mas tanya kayak gitu..? Mau ngajak saya jalan-jalan malam..?” jawabnya.
“Tidak ah.. entar ketahuan suami kamu, entar berantem lagi..”
“Aahh.. santai aja Mas, entar aku bilang ke temanku kalau aku tidur di kantor.”
“Bener.. tidak nyesel nanti kalau ketahuan suami..”
“Tidak..” jawabnya yakin.

Bubaran bilyard kami jalan-jalan ke pelabuhan, sebab teman-teman suaminya jarang yang ada di sana, kami berjalan ke dermaga di malam hari, begitu indah hamparan lampu besi-besi industri yang terpampang di bibir dermaga tersebut. Malam tambah dingin dan aku mencoba untuk menjahilinya. Aku peluk dari belakang tubuh yang montok tersebut sambil aku sandarkan ke besi pembatas dermaga.

Hmm.. halus benar tubuhnya, aku coba meraba bagian dadanya yang terus ditutupi dengan tangannya. Dia menepis tanganku dengan alasan bisa dilihat oleh orang lain. Tapi aku tahu kalau itu adalah alasan dia supaya tanganku tidak gerilya terlalu jauh. “Wah masih punya kepribadian dia rupanya,” bisikku. Gagal di depan, aku mencoba untuk mengerjai bagian belakangnya. Aku elus perlahan bongkahan pantatnya yang masih kencang walau sudah mempunyai anak tersebut. Setengah berbisik aku berkata, “Hhmm.. pantat kamu sunguh indah sayang..” dia hanya tersenyum kepadaku, aku teruskan bergerilya ke bagian bawahnya, aku elus pahanya yang memang sangat mulus sambil aku singkap roknya. Aku telusuri paha dan pantatnya, indah kencang dan sangat halus tonjolan pantatnya.

Lama aku gerayangi pantatnya, sampai aku iseng untuk menelusuri sela-sela pantatnya, basah dan keras klitorisnya. “Aahh.. Ssshh.. aahh..” desahnya pelan, sambil dia mengoyang-goyangkan pantatnya. Aku puntir-puntir klitorisnya dengan jariku yang sudah terasa sangat basah oleh cairan vaginanya. Tiba-tiba dia membalikkan badannya, menatapku dengan memelas seperti menahan sesuatu yang akan keluar.
“Kita cari hotel yuuk..!” pintanya.
“Boleh..” jawabku.
Kami melenggang dari tempat tersebut dan menuju ke sebuah hotel yang terdekat sambil dia genggam erat tanganku seolah tidak ingin melepaskanku.

Kami masuk ke sebuah hotel di pinggir pelabuhan tersebut, tidak begitu mewah karena memang itulah hotel terdekat di situ. Setelah memesan kamar dan membayar sewa kamar, kami langsung menuju kamar. Kami hempaskan tubuh kami berdua ke kasur busa di kamar tersebut. Dia mulai bergerak mendekatiku lalu tangannya mengusap permukaan dadaku, perlahan tangannya menyusup ke dalam t-shirtku, mengusap sambil membukanya. T-shirtku pun terbuka, dengan ganas dia mulai menyerangku. Dia kecupi dadaku sambil dipeganginya kedua tanganku, seolah-olah aku sedang diperkosa olehnya. Dan yang paling parah dia telah menemukan dua titik kelemahanku, dia hisap putingku sambil di gigit-gigit kecil. Hal itu membuatku mengerang kenikmatan.

“Aahh.. oohh.. terus Lastri.. terus..” pintaku.
“Aaahh.. nikmat Lastri.. aahh.. sshh.. aahh..”
“Yaahh.. gigit terus.. Lastri.. lebih keras lagi.. aahh..”

Memang bagian tersebut adalah bagian paling sensitif bagiku. Aku akan menggila dengan tersentuhnya bagian tersebut oleh lidah. Sambil terus menggigit dia lepaskan celana jeans-ku. Aku pun bugil, tanpa selembar benang pun menutupi tubuhku. Terus ke bawah gerakan Lastri seiring dengan terlepasnya celanaku. Sampai pada batang kejantananku dia berhenti, dia pegangi batang itu, dia kocok perlahan. Lalu dia mulai menjilatinya dengan buas. Bisa dimaklumi sebab dia memang sudah lama tidak mendapatkan semprotan sperma dari lelaki. Dikulumnya batanganku sambil di kocok-kocok, aah gila benar orang ini. Padahal aku belum membuka satupun pakaian dia, aku malah sudah dipreteli.

Sambil batanganku diemutnya, aku menggerayangi payudaranya yang indah menggantung. Aku buka pakaian, BH dan rok ketatnya. Sekarang dia cuman memakai celana dalam saja. Pandangan itulah yang aku suka dari para wanita, telanjang dada dengan payudara yang menggantung dan hanya menggenakan celana dalam saja. Pasrah dan terpejam. Seolah-olah dia sudah pasrah untuk dibawa ke puncak kenikmatan. Dengan posisi menungging sambil dia mengemut batanganku, aku kangkangkan kakinya melewati kepalaku hingga kini kami dalam posisi 69. Aku jilati melingkar liang kemaluannya yang sudah basah oleh cairan nafsunya. Lalu dengan lembut aku jilat klitorisnya yang berwarna merah muda itu. Aku sentil-sentilkan pada ujung lidahku dengan cepat.

“Aaahh.. aahh.. nikmat Andi.. terus.. aahh..” rintihnya.
“Oohh.. kamu apakan memekku Andi.. ooh.. nikmat sekali..”
“Terus.. Andi.. yaa.. terus begitu.. aah..” erangnya.

Aku balik posisi, sekarang dia ada di bawah, aku kini dengan leluasa ada di atas, menikmati kemolekan tubuhnya, perlahan aku dekati payudaranya yang indah membelah. Aku cium bibirnya dan lama kami berpagut sambil tanganku terus menggerayangi payudaranya yang berukuran sekitar 36B itu. Indah dan bergoyang-goyang oleh gerakan tanganku. Aku mulai turun ke bagian leher, tengkuk dan telinga sambil terus aku menjelajahi setiap detail kulit di dadanya. Aku hisap putingnya yang berwarna coklat tua dan sudah mengeras itu, sambil aku tinggalkan banyak tanda merah bekas kecupanku untuknya. Semakin ke bawah dia semakin menggelinjang kenikmatan, sampai aku di sebuah gundukan yang tanpa bulu, mulus dan menggairahkan.

Aku buka lebar pahanya, hingga kini tampaklah sebuah belahan daging berwarna merah muda yang mengkilat-kilat karena basah. Aku kecup paha bagian bawahnya, terus ke arah vaginannya. Aku jilati pinggir vaginannya dengan arah melingkar sambil aku sentuhkan ujung lidahku sedikit-sedikit. “Ooohh.. Andii.. cepat jilat memekku.. ceeppaatt..! Aku.. sudah.. tidak kuatt.. Jilat memekku Anddii..” pintanya. Aku buka belahan daging itu, hingga tersingkaplah bibir vaginannya dengan gumpalan daging merahnya, disertai dengan klitorisnya yang sudah keras. Aku jilat klitorisnya dengan lembut hingga agak lama aku mulai memanas, aku jilat dengan garang memeknya, tidak peduli akan rintihan kenikmatan dia, aku mencium, menggigit, menjilat sesuai dengan gerakan hatiku.

“Aaahh.. ahh.. nikmatt.. aahh.. terus Annddii..! Yaahh.. sshh.. aahh.. mmhh.. terus Annddii.. aakkuu.. aakuu.. mauu.. aah.. aahh.. aahh.. aku keluar Andi.. aku keluarr.. aahh..”

Ternyata dia mengalami puncaknya yang pertama, dia terkulai lemas dengan nafas yang masih memburu. Kemaluannya basah dan berkilat oleh semprotan air maninya. Aku naik ke tubuhnya menuntun batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya yang basah bercampur dengan air maninya. Aku masukkan perlahan-lahan batang kemaluanku.
“Blleess..”
“Aaahh..” rintihnya.
Sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan memandang batang kemaluanku memasuki liang vaginanya. Perlahan tapi pasti aku masukkan batang kemaluanku, Lastri hanya memejam ketika aku memasukkan batang tersebut, sambil memegangi payudaranya dan memilin putingnya dia terpejam seolah sangat menikmati liang vaginanya yang sesak oleh batang zakar ini.

Perlahan aku goyang pantatku, oh nikmat sekali bersetubuh denganmu, bisikku dalam hati.
“Pllekk.. pleekk.. ppleekk.. ccleepp.. cleepp.. cleep.. clepp..”
Suara buah zakarku menghantam anusnya.
“Ooohh.. Aanndii.. niikkmat seekali.. punnyamu.. Oohh.. yaa.. goyang terus sayanngg..” rintihnya. Lama aku menggoyang pantatku sambil mendengar ocehan dari mulut manisnya itu. Dan aku pun menikmatinya, aku suka memandang kemaluannya yang gundul tanpa bulu yang menghalangi pemandangan indah ini. Bosan dengan gaya tersebut, aku mencopot batang kemaluanku dari vaginannya, “Ploop..” Aku menunggingkan dia dengan posisi kepala di bawah pantatnya, hingga pantatnya kelihatan sangat menungging dan bukit kemaluannya menggumpal. Aku jilati kemaluannya dari belakang sambil aku menyodok-nyodok liang kemaluannya dengan jariku.

Aku masukkan lagi batang kemaluanku ke liang kemaluannya, “Ccllepp.. cllepp.. clleepp.. cleepp.. blepp.. blepp.. plook.. plok.. clepp..” suara vagina dan penisku saling berpadu dengan anusnya. Terus kugenjot vaginanya sambil terus meremas payudaranya yang sangat indah menggantung, sampai aku rasakan sesuatu yang akan keluar dari dalam lubang batang kemaluanku.

“Clepp.. clepp.. clepp..”
“Aaahh.. aahh.. sshh.. aahh..”
“Nikmat.. sekali.. Lastrii.. aahh..” rintihku.
“Iyaa.. kontolmu itu nakal sekali.. aah.. terus Anndii.. aku mauu.. aahh.. aku.. mau.. keeluuaarr.. Anndii.. aahh.. terruuss.. aahh.. aahh.. akuu keluarr.. Annddii.. aahh.. ahh.. aah.. sshh.. aahh.. sshh.. aahh.. oohh.. nikmat.. sekali..”

“Sabar Lastri aku juga mau keluar nich..” sambil terus kugenjot liang kemaluannya.
“Clepp.. clepp.. pleekk.. plekk.. pleek..” suaranya.
“Aaahh.. Lastrrii.. aahh.. akuu.. maauu..”

Segera dia mencopot batang kemaluanku, lalu dengan cepat dia mengocok batang kemaluanku yang sudah akan meledak itu, berwarna merah siap meledakkan sperma. Sambil mengocok Lastri menjilat ujung kemaluanku.
“Aahh.. terus Lastri.. aahh.. sshh.. aahh..”
“Teeruus.. aahh..” sambil kuremas payudaranya aku melengking tertahan.
“Aaahh.. aahh.. aahh..”
“Crroott.. crroott.. crroott.. croott.. seerr.. sserr..”
Banyak sekali spermaku yang tertumpah di mulut dan dadanya, berkilat-kilat diterpa sinar lampu tidur kamar, dia ratakan sperma di dadanya dengan tangannya, sementara aku terkulai lemas di pahanya. Di sisa-sisa sperma di mulutnya di dekatkan di mulutku dan kami berpagutan, sehingga aku pun bisa merasakan spermaku sendiri.

Dengan tersenyum dia berucap, “Kamu liar sekali, seperti kerbau jantan, liar dan mengendus..” Sambil meninggalkan aku ke kamar mandi. Aku pun hanya tersenyum mendengar itu, ah sudah banyak wanita ngomong itu padaku, bisikku dalam hati. Sambil bangkit menyusul dia untuk mengulangi ronde kedua. Kami nikmati semalaman untuk berbagi peluh dengan diperbudak nafsu dan kenikmatan dengannya. Esok harinya kami bangun kesiangan aku pun malas untuk pergi ke kampus dan dia kerja shift malam, jadi kami punya seharian penuh berbugil ria tanpa selembar benang pun menutupi aurat kami.

TAMAT


About this entry