Ketika Aku Bersetubuh dengan Cynthia

Aku punya pacar namanya Cynthia, anak kelas 2 SMU. Terus terang saja, seumur hidup aku belum pernah ketemu wanita yang lebih cantik daripada Cynthia. Semua orang yang kenal dia mengakui kalau dia itu yang paling cantik, pokoknya kecantikannya absolut. Selama pacaran aku dengan Cynthia sudah peluk-pelukan, cium-ciuman baik pipi maupun bibir, nonton, ke pesta, semua sudah kecuali satu, aku belum pernah melihat kemaluannya. Terus terang seumur hidup (waktu itu lho) aku belum pernah melihat kemaluan cewek itu seperti gimana, gambar sama film porno tidak pernah aku lihat, apalagi yang aslinya.

Suatu kali Cynthia merayakan ulang tahunnya sama teman-temannya di villanya yang mewah di Puncak, tentu saja Aku diundang. Dengar punya dengar, ternyata Cynthia ini ditaksir sama laki-laki sekelasnya. Sialan nih anak, pikirku, apa dia nggak kasih pengumuman kalau aku ini pacarnya? sudah gitu dia itu ngenalin aku ke teman-temennya sebagai “kakak”-nya. Aku omongin hal ini ke Cynthia saat di pesta itu juga, tentu saja pas lagi berdua di kamar ganti pakaian, Cynthia merasa bersalah tapi eh.., rupanya dia sudah punya rencana untuk memproklamasikan kalau aku itu pacarnya, sekaligus bikin cemburu teman-teman sekelasnya he.., he.., he.., ada-ada juga nih cewek.

Ketika aku temui di kamar ganti dia memakai pakaian mirip piyama. Aku belum sempat tanya-tanya Cynthia menyuruhku memakai pakaian yang serupa, tentunya versi laki-laki sambil memesan kalau di balik pakaian itu jangan pakai apa-apa lagi (jangan pakai pakaian dalam), katanya dalam rangka “proklamasi” percintaan kita ke anak-anak.., hehehe..

Aku buru-buru pakai “piyama” (sebut saja demikian yah.., soalnya nggak tahu namanya) itu tanpa tanya-tanya lagi dan segera menghampiri Cynthia yang sudah siap di depan lilin dengan semua anak lain pada acara tiup lilin. Aku berdiri di belakangnya, Cynthia mengalungi kedua tanganku ke dadanya.., ya ampun.., rupanya dia tidak memakai pakaian dalam juga, pikirku. Pelan-pelan aku ereksi sudah nggak tahu Cynthianya merasakan nggak, habis begitu dia tiup lilin, pada tepuk tangan, singkat cerita, dia memberi “sambutan singkat”.

“Sambutan”-nya itu antara lain Cynthia mengucapkan terima kasih ke teman-teman yang sudah memberi perhatian kepadanya, tapi pada akhirnya dia memilihku (Andri) sebagai kekasihnya. Wow.., ereksi berat deh aku.. tapi jangan khawatir, katanya, buat teman-teman yang sudah memberi perhatian, Cynthia punya “sesuatu yang lain” buat mereka.

Habis itu dia mengundang tiga teman laki-laki sama tiga teman wanitanya ini kebetulan saja tiga sama tiga. Aku diberi tahu bahwa tiga teman prianya itu adalah yang sudah terang-terangan “menyatakan cinta” kepadanya, dan tiga teman cewek itu adalah sohib-sohib terbaiknya. Sebenarnya banyak juga sih teman-teman yang lain yang suka kepadanya, cuma mereka tidak berani atau belum menyatakan.

Cynthia mengajak aku dan enam temannya itu ke kamar tidur, menutup pintu dan dia mengajak aku berbaring di sana, di depan keenam temannya itu. Aku dasar orangnya to the point tidak banyak tanya atau protes, Aku disuruh memeluk dan mencium bibirnya, ya aku ikuti saja permintannya. Cynthia merapatkan badannya ke tubuhku sambil “Ehh.. Ehh.. Ehh..”, teman-teman ceweknya mukanya sudah pada merah cekikikan semua.., terus tangannya membimbing tanganku masuk ke “piyama”-nya, membelai-belai dadanya.., turun.., turun.., melepaskan tali “piyama”-nya.., turun lagi.., astaga.., dia menarik tanganku.., mendekap kemaluannya..

Aku langsung kena tegangan tinggi deh waktu itu, piyamanya sudah seperempat terbuka, tanganku sudah di dalam. Aku peluk tubuhnya, cium pipinya, antara sadar dan tidak sadar aku teriak, “Cynthia.., Aku pengin lihat kemaluanmu.., Biarkan aku melihat alat kelaminmu..!!”. Cynthia buru-buru “menutup” lagi piyamanya, meninggalkan tanganku di dalam, “terkunci” oleh kedua tangannya. Kulihat teman-teman prianya pada melotot semua mulutnya kebuka, demikian pula teman-teman ceweknya, mukanya pada merah pada ketawa cekikikan malu.

Kaki Cynthia digerak-gerakan ke depan, dibimbingnya tanganku mendekap dan menggosok-nggosok kemaluannya lagi yang sudah basah, kaki dan badannya menggelinjang ke sana ke mari keenakan. Semakin aku berusaha membuka piayamanya semakin dia “mengunci”-nya rapat-rapat.

Akhirnya tanganku berhasil “melepaskan diri” dari tangannya.., tapi masih di dalam, aku berusaha kuat membuka piyamanya, kalau perlu sampai robek, sampai akhirnya dia “kalah” dan kebuka deh tubuh kewanitaannya lengkap dengan buah dadanya yang ranum itu dan tentu saja.. kemaluannya!!

Teman-temannya pada teriak semua.., aduh.., baru sekali itu sudah aku melihat tubuh wanita lengkap dengan alat kelaminnya.., Cynthia menggelepar di sana.., “ditangkap”-nya badanku, dilepasnya tali piyamaku, dimasukkannya tangannya ke dalam piyamaku dan.., di kocok-kocoknya alat kelaminku (dia sudah “mengerti”).

“Aduhh.., Enak banget..” pikirku. Teman-temannya pada ketawa semua, akhirnya di keluarkannya alat kelaminku.., teman-teman ceweknya pada teriak semua dan tertawa terpingkal-pingkal.., sedangkan teman-teman prianya semakin melotot, membuka mulutnya lebar-lebar dan menahan nafas, seolah tidak percaya pada apa yang mereka lihat.

Digosok-gosokkannya kepala alat kelaminku ke permukaan alat kelaminnya.., dibukanya piyamaku dan dipeluknya aku.., aduhh.., Aku tidak tahan lagi deh.., antara sadar dan tidak sadar Aku teriak lagi, “Cynthia.., Aku pengin bersetubuh denganmu..”.

Dikuncinya bibirku rapat-rapat oleh bibirnya, dia melumat-lumat mulutku, aku berontak sebentar buat teriak lagi, “Cynthia.., Biarkan aku menyetubuhimu..”.

Cynthia memasukkan batang kelaminku ke dalam alat kelaminnya. “Astaga! mereka bersenggama!” teriak salah seorang temannya. Aku sudah di antara dua dunia gitu tidak peduli lagi birahiku menjadi-jadi, bibirku terus dilumat-lumat, badan dan kakinya menggelepar-gelepar kenikmatan, demikian pula dengan kaki dan badanku antara sadar dan tidak sadar aku merasakan seluruh batang kemaluanku sudah terbenam ke dalam tubuhnya. Tubuh Cynthia terus mendekap tubuhku meminta lebih dalam lagi seperti anak singa yang sedang kelaparan meronta-ronta terus menyatukan tubuh kami berdua. Akhirnya aku sudah tidak dapat menahan lebih lama lagi, aku teriak, “Cynthia.., biarkan aku menyemburkan air maniku ke dalam tubuhmu..” belum sempat dia menjawab, akhirnya.., creett.., creett.., creett.. tersemburlah semua air maniku ke dalam tubuhnya..

Aduh nikmat sekali.., teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.., aduh nikmat.., akhirnya lemaslah tubuhku dan tubuhnya.. sebentar kemudian pelan-pelan kucabut kelaminku yang melemas.., air maniku mengalir keluar tubuhnya bersama dengan air wanita dan darah keperawanannya.., nikmat sekali.

Lama kemudian kami bisa mengatur nafas lagi seperti tidak peduli akan sekeliling kami dia mengajakku ke kamar mandi untuk “taking shower” membersihkan tubuh kami dari sisa-sisa sperma, air wanita dan darah keperawanannya. Cynthia menghubungi pembantunya lewat interkom untuk mengganti sprei tempat tidur yang basah, setelah bersih kami berdua keluar dengan “piyama” yang baru. Keenam temannya itu satu persatu meninggalkan ruangan, sisanya entah tahu atau tidak apa yang terjadi aku tidak terlalu peduli dan kamipun tidur pulas berpelukan dalam kenikmatan capai dan lemas.

Akhirnya teman-temannya pamit pulang pada “ketua panitia” yang menyusun acara itu dan kami tertidur sampai sore dan akhirnya kami berdua pun pulang kembali ke Jakarta.

TAMAT


About this entry